Rizkan Al Mubarok Soroti Walk Out Indonesia Saat Netanyahu Pidato di PBB: Sikap Diplomatik yang Perlu Dihormati
SOROTAN PUBLIK — Aksi delegasi Indonesia yang melakukan walk out saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersiap menyampaikan pidato dalam Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York mendapat perhatian dari Ketua Dewan Perwakilan AWNI Sumatera Raya sekaligus Ketua AWNI Provinsi Jambi, Rizkan Al Mubarok.
Rizkan menilai aksi tersebut merupakan bagian dari sikap diplomatik Indonesia dalam menyikapi persoalan Palestina dan situasi kemanusiaan di Gaza.
“Menurut saya, apa yang dilakukan delegasi Indonesia di forum PBB harus dilihat sebagai bagian dari sikap diplomatik Indonesia terhadap persoalan Palestina. Ini bukan sekadar keluar dari ruangan, tetapi sebuah pesan politik luar negeri yang disampaikan melalui tindakan diplomatik,” ujar Rizkan Al Mubarok.
Delegasi Indonesia memang terlihat meninggalkan ruang sidang ketika Netanyahu bersiap naik ke podium. Rekaman yang disampaikan Perutusan Tetap Republik Indonesia (PTRI) di New York memperlihatkan para diplomat Indonesia berdiri dan meninggalkan kursi mereka.
Aksi tersebut dilakukan bersama sejumlah delegasi negara lainnya. ANTARA melaporkan hampir 70 negara melakukan walk out ketika Netanyahu mulai berpidato, sementara sejumlah laporan media menyebut sekitar 77 delegasi tidak berada di ruang sidang ketika pidato berlangsung.
Kementerian Luar Negeri RI kemudian menjelaskan bahwa walk out Indonesia merupakan bentuk solidaritas kepada rakyat Palestina sekaligus protes dan kecaman terhadap tindakan yang dinilai sebagai kejahatan kemanusiaan serta pelanggaran hukum internasional terhadap rakyat Palestina di Gaza dan wilayah Palestina yang diduduki.
Rizkan mengatakan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam menyuarakan persoalan Palestina di berbagai forum internasional.
“Indonesia sejak lama menyatakan dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina. Karena itu, ketika persoalan Palestina kembali menjadi perhatian besar dunia, suara dan sikap Indonesia di forum internasional tentu menjadi sesuatu yang diperhatikan masyarakat,” katanya.
Menurut Rizkan, persoalan Palestina tidak semestinya hanya dilihat dari aspek politik, tetapi juga dari perspektif kemanusiaan dan hukum internasional.
“Yang paling penting adalah keselamatan manusia. Apa pun latar belakangnya, masyarakat sipil harus mendapatkan perlindungan. Dunia internasional harus terus mendorong penyelesaian yang menghormati hukum internasional, melindungi warga sipil, dan memberikan ruang bagi rakyat Palestina untuk menentukan masa depannya,” ujar Rizkan.
Ia juga menilai bahwa peristiwa walk out tersebut menunjukkan bagaimana forum PBB masih menjadi ruang penting bagi negara-negara untuk menyampaikan posisi diplomatik mereka.
“Perbedaan sikap di forum internasional merupakan bagian dari dinamika diplomasi. Yang harus dijaga adalah agar setiap sikap tetap disampaikan secara bermartabat, berdasarkan prinsip hukum internasional dan kepentingan kemanusiaan,” kata Rizkan.
Rizkan menambahkan bahwa pers juga memiliki tanggung jawab untuk memberitakan persoalan Palestina secara akurat dan tidak memperkeruh keadaan melalui informasi yang tidak terverifikasi.
“Pers harus menjadi penyambung lidah rakyat. Beritakan fakta, tampilkan konteksnya, dan jangan membangun kebencian. Perjuangan kemanusiaan harus tetap berpijak pada kebenaran dan keadilan,” tegasnya.
Ia berharap komunitas internasional terus mendorong upaya diplomatik untuk menghentikan kekerasan dan memastikan bantuan kemanusiaan dapat diberikan kepada masyarakat yang terdampak konflik.
“Rakyat Indonesia tentu berharap perdamaian dan keadilan dapat diwujudkan. Kita ingin hukum internasional dihormati dan rakyat Palestina mendapatkan hak-haknya. Suara kemanusiaan jangan sampai berhenti,” pungkas Rizkan Al Mubarok.
Aksi walk out delegasi Indonesia tersebut menjadi salah satu momen yang mendapat perhatian dalam Sidang ke-81 Majelis Umum PBB. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri telah menjelaskan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk solidaritas terhadap Palestina dan sikap protes terhadap persoalan kemanusiaan serta hukum internasional yang berkaitan dengan konflik tersebut.
