Rizkan Al Mubarok: IKN Jangan Hanya Dibangun dengan Beton, tetapi Juga dengan Jiwa dan Akar Budaya Nusantara

0
1790553052200

TENGGARONG, KALIMANTAN TIMUR — Penutupan Erau Adat Kutai Kartanegara 2026 di Tenggarong, Kalimantan Timur, menjadi momentum untuk kembali melihat hubungan antara pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan pelestarian kebudayaan.

Puncak rangkaian Erau ditandai dengan prosesi Belimbur yang berlangsung pada Minggu (27/9/2026). Tradisi tersebut menjadi salah satu puncak adat Erau dan dimaknai sebagai ritual penyucian diri sekaligus simbol kebersamaan masyarakat Kutai.

Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono hadir langsung dalam penutupan Erau. Dalam kesempatan tersebut, Basuki menyampaikan ketertarikannya untuk membawa kegiatan bernuansa Erau ke IKN.

Menurut Basuki, Erau tidak sekadar merupakan kegiatan adat, tetapi memiliki nilai yang mempertemukan pemimpin dan rakyat serta menggambarkan hubungan manusia dengan lingkungan. Nilai tersebut dinilai relevan untuk menjadi inspirasi dalam pembangunan budaya di IKN.

Pernyataan tersebut mendapat perhatian dari Ketua Dewan Perwakilan AWNI Sumatera Raya sekaligus Ketua AWNI Provinsi Jambi, Rizkan Al Mubarok.

Menurut Rizkan, gagasan membawa nilai kebudayaan Kutai ke IKN merupakan momentum penting untuk memastikan pembangunan ibu kota baru Indonesia tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, teknologi dan bangunan fisik.

IKN Jangan Kehilangan Akar Budaya

Rizkan menilai identitas IKN sebagai Ibu Kota Nusantara seharusnya tercermin bukan hanya dari nama, tetapi juga dari penghormatan terhadap kebudayaan yang tumbuh di wilayah Nusantara.

“Kalau IKN ingin benar-benar menjadi Ibu Kota Nusantara, maka Nusantaranya jangan hanya ada dalam nama. Kebudayaan, sejarah, adat istiadat dan masyarakat yang menjadi akar peradaban Nusantara harus mendapat tempat yang terhormat,” ujar Rizkan.

Ia mengatakan pembangunan infrastruktur merupakan bagian penting dari pembangunan sebuah ibu kota. Namun, menurutnya, pembangunan fisik tidak dengan sendirinya menciptakan rasa memiliki masyarakat terhadap sebuah bangsa.

“Gedung bisa dibangun dalam hitungan tahun. Jalan bisa dibangun dengan anggaran negara. Infrastruktur bisa terus dikembangkan. Tetapi rasa memiliki terhadap bangsa tidak bisa dibeli hanya dengan beton, baja dan teknologi. Rasa memiliki tumbuh dari sejarah, budaya, keteladanan dan hubungan manusia dengan tanah tempat masyarakat tumbuh,” katanya.

Erau Jangan Kehilangan Ruh Adat

Rizkan juga menyoroti kemungkinan kegiatan Erau dibawa ke IKN.

Menurut dia, apabila gagasan tersebut diwujudkan, pelaksanaannya perlu tetap menghormati akar sejarah dan adat Kutai Kartanegara.

“Jangan sampai Erau hanya dipindahkan lokasinya, lalu kehilangan ruhnya. Kalau dibawa ke IKN, justru nilai adat, sejarah dan masyarakat Kutai harus semakin diperkuat,” ujar Rizkan.

Ia menilai kehadiran budaya Kutai di IKN dapat menjadi salah satu pintu untuk memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan Timur kepada masyarakat Indonesia maupun dunia.

Pada saat yang sama, Rizkan menekankan bahwa kehadiran budaya Kutai di IKN tidak berarti mengesampingkan kebudayaan daerah lain.

“Kalau IKN adalah rumah besar Indonesia, maka semua budaya Nusantara harus merasa memiliki rumah itu. Kutai punya sejarah dan kebudayaan yang luar biasa. Demikian juga Melayu, Jawa, Sunda, Minangkabau, Bugis, Dayak, Papua dan seluruh kebudayaan daerah lainnya. Semuanya adalah bagian dari Indonesia,” katanya.

Persatuan Tidak Berarti Menyeragamkan Budaya

Rizkan melihat suasana Belimbur dalam penutupan Erau 2026 sebagai gambaran bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan masyarakat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sendiri menyebut Erau bukan sekadar festival tahunan, melainkan identitas daerah yang perlu diwariskan lintas generasi. Penutupan Erau 2026 juga dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Sultan Aji Muhammad Arifin, Basuki Hadimuljono, Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri serta sejumlah unsur Forkopimda.

Menurut Rizkan, keberagaman budaya justru merupakan salah satu kekuatan Indonesia.

“Persatuan bukan berarti semua harus menjadi sama. Kita boleh berbeda adat, bahasa, kesenian dan tradisi, tetapi kita memiliki rumah kebangsaan yang sama. Itulah Indonesia,” ujarnya.

Ia berharap prinsip tersebut juga menjadi bagian dari pembangunan identitas IKN.

Pusat Kebudayaan Jangan Sekadar Bangunan

Rizkan juga menilai gagasan pembangunan pusat kebudayaan di IKN perlu diikuti dengan pembangunan ekosistem kebudayaan yang melibatkan masyarakat.

Menurutnya, pusat kebudayaan seharusnya tidak berhenti menjadi bangunan monumental, tetapi menjadi ruang bagi seniman, budayawan, tokoh adat, komunitas dan generasi muda.

“Jangan hanya membangun gedung kebudayaan. Bangun juga ekosistem kebudayaannya. Berikan ruang kepada seniman, budayawan, tokoh adat, generasi muda dan masyarakat untuk berkarya, berdialog dan memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia,” katanya.

IKN Modern, tetapi Tetap Berakar

Rizkan berharap pembangunan IKN dapat menjadi momentum untuk memperkuat kebudayaan Indonesia.

Ia menilai modernisasi tidak harus berarti meninggalkan sejarah.

“Indonesia tidak boleh menjadi negara yang maju secara teknologi tetapi lupa siapa dirinya. Kita boleh membangun kota yang futuristik, tetapi jangan pernah membangun masa depan dengan mengubur sejarah,” ujarnya.

Bagi Rizkan, Erau 2026 memberikan pelajaran bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang perjumpaan antara sejarah, masyarakat dan generasi muda.

Karena itu, apabila unsur Erau nantinya hadir di IKN, ia berharap proses tersebut melibatkan Kesultanan Kutai Kartanegara, pemerintah daerah, masyarakat adat, budayawan, seniman dan generasi muda.

“Kalau Erau hadir di IKN, biarkan Indonesia melihat bahwa kemajuan tidak harus memutus hubungan dengan masa lalu. Justru dari akar sejarah itulah kita membangun masa depan,” kata Rizkan.

Dari Tenggarong untuk Nusantara

Penutupan Erau 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi tidak hanya hidup dalam lingkungan adat, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan masyarakat.

Rangkaian Erau 2026 berlangsung 20–27 September dan puncaknya ditandai dengan Mengulur Naga serta Belimbur. ANTARA melaporkan jumlah pengunjung diperkirakan mencapai sekitar 40.000 orang, termasuk wisatawan mancanegara.

Bagi Rizkan, momentum tersebut dapat menjadi refleksi bagi pembangunan IKN.

“IKN adalah milik Indonesia. Bangun infrastrukturnya, bangun ekonominya, bangun teknologinya. Tetapi jangan lupa membangun jiwanya. Karena ibu kota negara bukan hanya tempat pemerintahan bekerja. Ia juga harus menjadi tempat di mana bangsa ini mengenali dirinya sendiri,” katanya.

Ia menutup tanggapannya dengan pesan bahwa pembangunan masa depan Indonesia harus tetap memiliki hubungan dengan akar budaya bangsa.

“Rakyat Berhak Tahu. Rakyat Cerdas. Rakyat Berdaulat. Indonesia yang maju adalah Indonesia yang tidak pernah kehilangan akar budayanya.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *