Ribuan Ide Bertarung, Ini Sosok Pegawai yang Bikin Seskab Teddy Tertarik soal Rumah Rakyat
Sekretariat Kabinet membuka ruang bagi para pegawainya untuk menyampaikan gagasan dan inovasi yang berpotensi dikembangkan menjadi solusi kebijakan bagi masyarakat melalui Kompetisi Gagasan Setkab Gengs.
Kompetisi tersebut menjadi wadah yang disiapkan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya untuk menjaring gagasan segar dari internal Sekretariat Kabinet. Setiap pegawai, mulai dari level paling bawah hingga eselon I, mendapatkan kesempatan yang sama untuk menyampaikan ide yang dinilai dapat mendukung program prioritas pemerintah dan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
“Seluruh pegawai diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan terbaik yang dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mendukung kemajuan Indonesia,” ujar Teddy.
Antusiasme pegawai terlihat dari banyaknya proposal yang masuk. Pada tahap awal, tercatat 106 proposal dari berbagai unit kerja di lingkungan Sekretariat Kabinet.
Setelah melalui proses seleksi, sebanyak 30 proposal terbaik melaju ke babak penyisihan pada 26 April 2026. Dari jumlah tersebut, kemudian terpilih 16 gagasan yang berhak mempresentasikan ide secara langsung di hadapan Seskab melalui format 3-minute pitch pada Senin, 8 Juni 2026.
Program Rumah Bakti Curi Perhatian
Salah satu gagasan yang menarik perhatian dalam kompetisi tersebut datang dari Togi Prakoso, Analis Kebijakan pada Deputi Bidang Persidangan Kabinet.
Togi mengusulkan Program Rumah Bakti, sebuah konsep yang mengintegrasikan Program Tiga Juta Rumah dengan penguatan ketahanan keluarga.
Dalam presentasinya, Togi menawarkan dua model hunian yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah, yakni Rumah Bakti Urban dan Rumah Bakti Rural.
Rumah Bakti Urban dirancang dalam bentuk klaster keluarga di kawasan perkotaan. Konsep tersebut mencakup skema alokasi unit, co-entry keluarga, serta diskon iuran bulanan.
Sementara Rumah Bakti Rural dirancang dalam bentuk rumah gandeng di kawasan pedesaan. Model tersebut mengedepankan prinsip kedekatan lokasi dan pola pertumbuhan permukiman agar pembangunan hunian dapat lebih terintegrasi dengan kondisi masyarakat setempat.
Gagasan lain yang turut muncul dalam kompetisi tersebut antara lain Trinovasi untuk Vokasi, Program Pidana Kerja Sosial Nasional, Mulai dari Rumah Pertama, Revolusi Energi dari Dapur, hingga Pangan Asal Desa yang mengintegrasikan program Makan Bergizi Gratis.
Bukan Sekadar Adu Gagasan
Format 3-minute pitch dalam kompetisi tersebut tidak hanya dirancang untuk mencari gagasan yang menarik di atas kertas.
Para peserta juga ditantang untuk berpikir kritis, menyampaikan gagasan secara efektif, serta mampu menjawab pertanyaan dan masukan secara terukur dalam waktu yang sangat terbatas.
Bagi Teddy Indra Wijaya, kompetisi tersebut bukan sekadar panggung untuk mengadu kemampuan presentasi para pegawai.
Ia berharap gagasan yang muncul dapat dikembangkan lebih jauh sehingga tidak berhenti sebagai konsep, tetapi mampu menjadi solusi konkret yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kompetisi Gagasan Setkab Gengs sekaligus menunjukkan upaya Sekretariat Kabinet dalam membuka ruang partisipasi internal bagi pegawai untuk ikut menyumbangkan pemikiran terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dan bangsa.
Melalui gagasan seperti Program Rumah Bakti, para pegawai tidak hanya dituntut menjalankan tugas administratif, tetapi juga didorong untuk menghasilkan inovasi yang dapat memberikan nilai tambah bagi kebijakan pemerintah dan kemajuan Indonesia.
