Refleksi 1 Abad Gontor, Keteladanan KH Hasan Abdullah Sahal dan Pelajaran Besar bagi Perintis Pondok

0
1790085370399

PONOROGO — Satu abad perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi momentum refleksi bagi banyak kalangan, tidak hanya bagi keluarga besar pesantren dan para alumninya, tetapi juga bagi mereka yang sedang merintis lembaga pendidikan Islam.

Salah satunya datang dari sosok yang tengah merintis Pondok Rimba Wonoagung. Dalam refleksinya, ia mengungkapkan bahwa perjalanan Gontor dan keteladanan KH Hasan Abdullah Sahal menjadi salah satu sumber inspirasi dalam membangun lembaga pendidikan yang diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi umat.

“Qadarullah, istri saya adalah alumni Gontor. Karena itu, sosok KH Hasan Abdullah Sahal hafidzahullah sebagai salah satu pimpinan pondok tentu bukanlah nama yang asing bagi kami,” ungkapnya.

Kedekatan tersebut, menurutnya, menjadi semakin bermakna karena saat ini dirinya bersama keluarga sedang merintis Pondok Rimba Wonoagung.

Ia memandang perjalanan KH Hasan Abdullah Sahal sebagai salah satu teladan dalam membangun dan menjaga lembaga pendidikan dengan orientasi pengabdian.

“Terlebih kami sedang merintis Pondok Rimba Wonoagung. Kiprah dan langkah beliau sebagai pejuang dan leader sudah barang tentu menjadi salah satu teladan bagi kami pribadi,” katanya.

Keteladanan yang Tidak Berhenti pada Jabatan

Menurutnya, salah satu hal yang menarik dari sosok KH Hasan Abdullah Sahal adalah kesederhanaan dalam pembawaan serta konsistensi dalam menjalankan amanah pendidikan.

Ia melihat kepemimpinan di lingkungan pesantren tidak semata-mata berkaitan dengan posisi formal, melainkan bagaimana sebuah amanah dijalankan untuk kepentingan pendidikan dan kemanfaatan umat.

“Pembawaan beliau yang sederhana, ciri khas Kyai dan pengasuh Gontor yang lain juga, tidak memanfaatkan posisi untuk duniawi, apalagi sanjungan manusia. Beliau berdedikasi tinggi untuk pendidikan,” tuturnya.

Pandangan tersebut menjadi refleksi tersendiri baginya dalam proses merintis Pondok Rimba Wonoagung.

Baginya, membangun lembaga pendidikan bukan sekadar membangun gedung atau menciptakan institusi baru. Lebih dari itu, pendidikan membutuhkan nilai, keteladanan, konsistensi dan orientasi pengabdian yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Gontor Tidak Tumbuh dalam Semalam

Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan pada 20 September 1926 oleh tiga tokoh yang dikenal sebagai Trimurti, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie dan KH Imam Zarkasyi. Dalam perjalanan berikutnya, Gontor berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan pesantren yang memiliki jaringan alumni luas.

Perjalanan satu abad tersebut, menurutnya, menjadi bukti bahwa sebuah lembaga pendidikan tidak lahir besar secara tiba-tiba.

“Ada perjuangan yang tidak banyak orang tahu. Ada proses yang tidak semua orang mengerti. Satu abad Gontor tentu tidak terlewati begitu saja. Tidak tiba-tiba besar,” ujarnya.

Ia menilai keberlangsungan Gontor selama satu abad memberikan pelajaran penting mengenai arti kesabaran dalam membangun pendidikan.

Di balik usia panjang sebuah lembaga, terdapat generasi yang bekerja, para guru yang mengabdikan diri, para kyai yang menjaga nilai, serta para santri yang kemudian membawa ilmu dan pengalaman mereka ke berbagai penjuru negeri.

“Tak terhitung lagi berapa santri yang telah menikmati pendidikan di tempat yang begitu berarti ini. Mereka kemudian kembali ke tengah masyarakat dengan membawa ilmu, pengalaman dan nilai yang diperoleh selama berada di pesantren,” katanya.

Kepemimpinan yang Berorientasi Pendidikan

Dalam sejarah kepemimpinan Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal tercatat sebagai bagian dari generasi kedua pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor setelah wafatnya para pendiri.

Situs resmi Gontor mencatat KH Hasan Abdullah Sahal bersama KH Shoiman Luqmanul Hakim dan KH Abdullah Syukri Zarkasyi sebagai pimpinan pada fase awal generasi kedua. Gontor menyebut generasi tersebut menghadapi berbagai kekhawatiran dan tantangan setelah berakhirnya era Trimurti, tetapi kemudian mampu mempertahankan, mengembangkan dan memajukan Gontor.

Dalam konteks itulah, sosok KH Hasan Abdullah Sahal dipandang bukan hanya sebagai figur pimpinan pesantren, tetapi juga bagian dari perjalanan panjang regenerasi kepemimpinan Gontor.

“Bagi kami yang sedang belajar merintis pondok, perjalanan kepemimpinan Gontor memberikan pelajaran bahwa sebuah lembaga tidak cukup hanya memiliki cita-cita besar. Harus ada orang-orang yang mau bekerja, menjaga amanah dan konsisten menjalankan nilai yang diwariskan,” ujarnya.

Tidak Terombang-ambing Arus Politik

Ia juga menyoroti karakter Gontor yang menurut pandangannya mampu menjaga orientasi pendidikan dan prinsip kelembagaan di tengah dinamika sosial dan politik.

“Tidak terombang-ambing arus politik, tetapi tetap tegas dalam sikap. Bagi kami, ini menjadi pelajaran penting bahwa lembaga pendidikan harus mempunyai prinsip dan tidak mudah kehilangan arah,” katanya.

Ia menilai independensi dan keteguhan prinsip menjadi bagian penting dalam menjaga marwah lembaga pendidikan.

Namun, ia juga melihat bahwa keteguhan prinsip tidak berarti menutup diri dari perkembangan zaman.

Justru, menurutnya, tantangan pendidikan adalah bagaimana menjaga nilai dasar sekaligus mampu menjawab perubahan zaman.

Hal tersebut sejalan dengan perjalanan Gontor yang mengembangkan sistem pendidikan modern dalam kerangka pesantren. Situs resmi Gontor menjelaskan bahwa Kulliyyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) telah menjadi bagian penting dari sistem pendidikannya sejak 1936, dengan pendidikan yang menekankan pembentukan mental dan karakter santri.

Satu Abad sebagai Cermin bagi Generasi Berikutnya

Momentum satu abad Gontor, menurutnya, tidak seharusnya hanya dipandang sebagai perayaan usia sebuah institusi.

Lebih jauh, satu abad merupakan kesempatan untuk melihat kembali bagaimana sebuah cita-cita pendidikan dibangun, dipertahankan, dikembangkan dan diwariskan.

“Bagi kami, satu abad Gontor bukan sekadar angka. Ini adalah refleksi dan renungan besar,” ujarnya.

Ia mengatakan perjalanan tersebut sekaligus menjadi penyemangat dalam proses merintis Pondok Rimba Wonoagung.

“Semua ini menjadi refleksi dan renungan besar, sekaligus penyemangat kami untuk terus belajar menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Menurutnya, lembaga pendidikan membutuhkan proses yang panjang dan tidak dapat dinilai hanya dari hasil yang terlihat dalam waktu singkat.

Sebuah pondok mungkin dibangun oleh satu generasi, tetapi manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi-generasi berikutnya.

Karena itu, proses pendidikan membutuhkan kesabaran dan visi jangka panjang.

Dari Gontor untuk Perjuangan Pendidikan

Momentum satu abad Gontor pada 2026 sendiri mendapat perhatian luas dari keluarga besar pesantren dan alumninya. Berbagai rangkaian kegiatan digelar untuk merefleksikan perjalanan Gontor selama 100 tahun sekaligus menatap abad berikutnya.

Pada September 2026, Gontor juga menyelenggarakan resepsi kesyukuran 100 tahun. Dalam momentum tersebut, Presiden Prabowo Subianto menerima Mushaf Al-Qur’an Gontor dan buku “Gontor untuk Indonesia”. Buku tersebut diserahkan KH Hasan Abdullah Sahal dan mendokumentasikan perjalanan serta pengabdian alumni Gontor di berbagai bidang.

Sementara itu, dalam salah satu refleksi satu abad Gontor yang disampaikan pada Februari 2026, KH Hasan Abdullah Sahal menekankan posisi Gontor sebagai sumber inspirasi peradaban dan mendorong alumni untuk melanjutkan peran inspiratif tersebut di tengah masyarakat.

Bagi perintis Pondok Rimba Wonoagung, perjalanan tersebut memberikan pesan bahwa membangun pendidikan adalah pekerjaan lintas generasi.

“Kalau kita melihat Gontor hari ini, jangan hanya melihat besarnya. Kita harus melihat proses panjang di belakangnya. Ada perjuangan, pengorbanan, kesabaran dan pengabdian yang membentuknya,” ujarnya.

Ia berharap nilai-nilai tersebut dapat menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lainnya, termasuk bagi Pondok Rimba Wonoagung yang sedang dirintis.

“Semoga kami juga bisa belajar dari perjalanan itu. Tidak harus menjadi besar dengan cepat, tetapi bagaimana menjadi lembaga yang memberikan manfaat dan terus menjaga nilai-nilai pendidikan,” katanya.

Doa untuk KH Hasan Abdullah Sahal dan Gontor

Di penghujung refleksinya, ia menyampaikan doa untuk KH Hasan Abdullah Sahal dan seluruh keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor.

“Panjang umur dalam manfaat dan selalu sehat, Kyai. Semoga Allah memberikan kekuatan, kesehatan dan keberkahan dalam setiap pengabdian,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan harapan agar Gontor terus menjadi lembaga pendidikan yang memberikan manfaat bagi umat dan bangsa.

“Jaya selalu Gontor. Barakallahu fiikum,” tutupnya.

Satu abad perjalanan Gontor pada akhirnya bukan hanya berbicara tentang waktu yang telah dilalui.

Ia berbicara tentang nilai yang dipertahankan, generasi yang dididik, pengabdian yang diwariskan dan manfaat yang terus mengalir.

Bagi mereka yang sedang merintis lembaga pendidikan, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa sebuah institusi yang kuat tidak dibangun dalam satu malam.

Ia dibangun melalui ketekunan, keteladanan, konsistensi dan kesediaan untuk mengabdi jauh melampaui kepentingan pribadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *