Putra Sayuti Melik Diundang ke Istana, Kisah Hidup Heru Baskoro Jadi Sorotan Jelang HUT ke-81 RI

0
1786865267835

JAKARTA — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, perhatian publik tertuju pada kisah Heru Baskoro, putra Sayuti Melik, tokoh yang mengetik ulang naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada dini hari 17 Agustus 1945.

Heru, yang kini berusia 84 tahun, sebelumnya diketahui menjalani kehidupan sederhana di sebuah kontrakan kecil di kawasan Bojong Menteng, Rawalumbu, Bekasi. Kondisinya kemudian mendapat perhatian setelah kisah kehidupannya terungkap ke publik pada pertengahan Juli 2026.

Putra Sayuti Melik tersebut kini mendapatkan kesempatan menghadiri upacara HUT ke-81 RI di Istana Negara setelah Presiden Prabowo Subianto mengundangnya sebagai tamu.

Undangan tersebut diantarkan langsung oleh perwakilan Kementerian Sekretariat Negara bersama Wakil Wali Kota Bekasi ke tempat Heru mendapatkan perawatan dan pendampingan.

Dari Keluarga Pejuang Kemerdekaan hingga Hidup Sederhana

Heru Baskoro lahir di Semarang pada 1 Juni 1942. Ia merupakan putra pasangan Sayuti Melik dan Surastri Karma Trimurti, dua tokoh yang memiliki catatan penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Masa kecil Heru berlangsung di lingkungan para tokoh pergerakan. Salah satu kenangan yang masih melekat dalam ingatannya adalah ketika ia bermain gundu bersama Megawati Soekarnoputri, putri Presiden Soekarno.

Berbeda dengan kehidupan yang kemudian dialaminya, Heru sempat menjalani kehidupan profesional sebagai akuntan. Ia juga pernah tinggal di Amerika Serikat dan Kanada selama puluhan tahun bersama istrinya, Treyzia Noviani.

Kehidupan keluarga tersebut kemudian menghadapi tantangan ketika kondisi kesehatan Heru memburuk.

Ia disebut menjual rumah untuk membiayai pengobatan penyakit pada matanya. Bahkan, operasi kornea buatan yang telah dijadwalkan di Kanada harus tertunda karena keterbatasan biaya untuk kembali ke negara tersebut.

“Operasinya sudah dijadwalkan. Begitu sampai di Kanada langsung dirawat inap. Tapi karena tidak ada dana untuk kembali ke sana, jadwalnya terus mundur,” ujar Heru sebagaimana dikutip dalam informasi yang beredar mengenai kondisinya.

Tinggal di Kontrakan dan Mendapat Pendampingan Pemerintah

Sebelum mendapatkan pendampingan pemerintah, Heru dan istrinya tinggal di sebuah kontrakan berukuran kecil di Jalan Cipendawa Baru, Bojong Menteng, Rawalumbu, Bekasi.

Mereka disebut membayar sewa sekitar Rp560.000 per bulan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pasangan tersebut juga mendapatkan bantuan dari lingkungan sekitar.

Kondisi tersebut kemudian mendapat perhatian pemerintah. Kementerian Sosial mengambil langkah dengan memindahkan Heru dan istrinya ke Sentra Terpadu Pangudi Luhur Bekasi Timur untuk mendapatkan perawatan serta pendampingan.

Dinas Sosial Kota Bekasi bersama Kementerian Sosial kemudian turut memfasilitasi kebutuhan Heru menjelang keberangkatannya ke Jakarta.

Di tengah kondisi tersebut, datang undangan dari Presiden Prabowo Subianto agar Heru menghadiri upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Istana Negara pada 17 Agustus 2026.

Undangan tersebut menjadi momen penting bagi Heru sekaligus menjadi perhatian publik karena menghubungkan kembali keluarga salah satu tokoh di balik sejarah Proklamasi dengan perayaan kemerdekaan Indonesia.

Pesan Putra Sayuti Melik untuk Generasi Sekarang

Ketika mengenang ayahnya, Heru menggambarkan Sayuti Melik sebagai sosok yang tegas, disiplin dan sederhana.

Di luar catatan sejarah tentang perannya mengetik ulang naskah Proklamasi, bagi Heru, Sayuti Melik tetaplah seorang ayah yang memiliki kehidupan sederhana. Salah satu kegemarannya adalah bermain catur di warung makan.

Heru juga pernah menyampaikan pesan agar masyarakat senantiasa menaati hukum, hidup disiplin dan menjaga kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pendahulu bangsa.

“Selalu taati hukum, hidup disiplin tinggi, dan jaga kemerdekaan yang diperjuangkan pendahulu kita dengan darah dan air mata,” pesan Heru.

Kehadiran Heru di Istana pada peringatan HUT ke-81 RI bukan sekadar seremoni. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah kemerdekaan tidak hanya tersimpan dalam buku-buku pelajaran atau dokumen negara, tetapi juga hidup melalui keluarga para tokoh yang berada di balik lahirnya Republik Indonesia.

Kisah Heru sekaligus membuka ruang refleksi mengenai bagaimana bangsa Indonesia memperlakukan keluarga dan para pewaris sejarah perjuangan kemerdekaan.

Sebab, di balik kehormatan seorang putra tokoh Proklamasi yang akhirnya duduk sebagai tamu di Istana Negara, terdapat perjalanan hidup yang sempat berlangsung dalam keterbatasan.

Dan mungkin justru di situlah makna kemerdekaan kembali diuji: bukan hanya dalam kemampuan bangsa mengenang jasa para pendahulu, tetapi juga dalam memastikan mereka dan keluarganya tidak terlupakan ketika sejarah terus berjalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *