Putra-Putri Suku Dayak Didorong Perkuat TNI di Borneo, Isu Tato Adat Jadi Sorotan
JAKARTA — Wacana memperkuat keterlibatan putra-putri Suku Dayak dalam jajaran TNI di wilayah Kalimantan atau Borneo kembali menjadi perhatian. Gagasan tersebut dikaitkan dengan pentingnya peran masyarakat lokal dalam menjaga keamanan, kedaulatan, dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), khususnya di kawasan perbatasan dan wilayah strategis Kalimantan.
Dalam narasi yang beredar, disebutkan adanya pembahasan mengenai rekrutmen anak-anak Suku Dayak untuk menjadi prajurit TNI setelah adanya pertemuan antara Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dengan Panglima TNI.
Namun, klaim bahwa Presiden Prabowo Subianto dan Panglima TNI telah mengeluarkan perintah resmi mengenai kebijakan khusus tersebut perlu dikonfirmasi melalui keterangan resmi pemerintah atau TNI.
PUTRA DAERAH DINILAI PUNYA PERAN STRATEGIS
Keterlibatan putra-putri daerah dalam menjaga pertahanan nasional memiliki nilai strategis, terutama karena mereka memiliki kedekatan dengan kondisi sosial, budaya, geografis, dan karakter wilayah tempat mereka berasal.
Kalimantan memiliki posisi strategis bagi Indonesia, termasuk wilayah perbatasan dengan negara lain. Karena itu, penguatan sumber daya manusia pertahanan dari masyarakat lokal dapat menjadi salah satu bagian dari upaya memperkuat pertahanan dan menjaga keutuhan NKRI.
Bagi masyarakat Dayak, kesempatan untuk berkontribusi melalui institusi TNI juga dapat menjadi ruang pengabdian kepada bangsa dan negara dengan tetap mempertahankan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
TATO ADAT DAN REKRUTMEN TNI
Salah satu isu yang turut menjadi perhatian adalah mengenai tato yang dimiliki sebagian masyarakat karena tradisi atau adat.
Dalam konteks rekrutmen TNI, ketentuan mengenai tato harus merujuk pada persyaratan dan kebijakan resmi penerimaan prajurit yang berlaku. Jika terdapat pengecualian bagi tato yang berkaitan dengan adat atau tradisi tertentu, ketentuan tersebut harus dinyatakan secara resmi oleh institusi TNI.
Dengan demikian, tato yang disebut berkaitan dengan tradisi masyarakat Dayak tidak seharusnya langsung dipahami sebagai otomatis diperbolehkan dalam setiap proses penerimaan TNI tanpa melihat ketentuan resmi yang berlaku.
MEMPERKUAT NKRI DARI TANAH BORNEO
Penguatan peran masyarakat lokal dalam pertahanan nasional pada prinsipnya dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keutuhan NKRI.
Khusus di Kalimantan, keberadaan putra-putri daerah yang memahami karakter wilayah dan kehidupan masyarakat setempat dapat menjadi salah satu modal penting dalam membangun pertahanan yang kuat sekaligus dekat dengan masyarakat.
Jika benar terdapat kebijakan baru mengenai rekrutmen khusus putra-putri Suku Dayak, termasuk ketentuan mengenai tato adat, masyarakat tentu perlu mendapatkan penjelasan resmi mengenai dasar hukum, mekanisme, persyaratan, serta cakupan kebijakan tersebut.
Yang terpenting, setiap proses rekrutmen prajurit TNI tetap harus berlangsung secara transparan, profesional, dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku demi kepentingan pertahanan negara dan keutuhan NKRI.
