Prabowo Turun Tangan, 4 Aspirasi Dayak Dapat Perhatian: Jalan Sanggau, Sekolah, Rumah Adat hingga TNI-Polri

0
1788143773233

Sorotan Publik — Presiden Prabowo Subianto merespons langsung sejumlah aspirasi masyarakat Dayak setelah menerima Panglima Jilah di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Pertemuan tersebut membahas berbagai kebutuhan masyarakat Dayak, khususnya di Kalimantan Barat. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut Presiden Prabowo langsung menginstruksikan agar sejumlah aspirasi tersebut mendapat perhatian dan ditindaklanjuti pemerintah.

Ada empat agenda utama yang menjadi sorotan, mulai dari pembangunan jalan pedalaman hingga kesempatan putra-putri Dayak untuk mengabdi melalui TNI dan Polri.

Jalan Pedalaman Sanggau Jadi Perhatian

Salah satu agenda yang dibahas adalah percepatan pembangunan infrastruktur jalan di wilayah pedalaman Kalimantan.

Menurut Seskab Teddy, pembangunan jalan tersebut antara lain diarahkan ke wilayah Sanggau dan sekitarnya untuk memperkuat konektivitas sekaligus mendukung aktivitas masyarakat di kawasan pedalaman.

Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat pemerintahan dan ekonomi, akses jalan menjadi salah satu faktor penting dalam membuka konektivitas terhadap pendidikan, kesehatan, distribusi kebutuhan pokok, serta aktivitas ekonomi.

Sekolah Rakyat, Beasiswa dan Rumah Adat

Perhatian pemerintah juga diarahkan pada sektor pendidikan.

Prabowo disebut mendorong pembangunan Sekolah Rakyat dan pemberian beasiswa di berbagai wilayah kota adat Dayak. Pemerintah menyebut saat ini telah terbangun dua Sekolah Rakyat di Kalimantan Barat.

Selain pendidikan, Presiden juga menginstruksikan pembangunan rumah adat Dayak. Kebijakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga diarahkan untuk menjaga keberadaan dan keberlanjutan budaya masyarakat adat.

Panglima Jilah sebelumnya menyebut perhatian pemerintah terhadap masyarakat Kalimantan Barat juga mencakup rumah adat, sekolah, beasiswa, jalan, infrastruktur, rumah sakit, serta TNI-Polri.

Kesempatan Putra-Putri Dayak Mengabdi

Agenda lain yang menarik perhatian adalah aspirasi masyarakat Dayak untuk mendapatkan kesempatan lebih luas dalam mengabdi kepada negara melalui TNI dan Polri.

Seskab Teddy menyampaikan bahwa dalam pertemuan tersebut turut dibahas penyesuaian persyaratan bagi warga Dayak yang ingin bergabung dengan TNI-Polri, termasuk persoalan penggunaan tato yang merupakan bagian dari adat.

Namun, pembahasan tersebut tetap berada dalam kerangka persyaratan dan ketentuan yang berlaku dalam proses rekrutmen TNI dan Polri.

Selain empat agenda tersebut, pertemuan Prabowo dan Panglima Jilah juga membahas penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Pemerintah memberikan dukungan melalui tambahan personel dan sarana udara untuk mempercepat penanganan karhutla.

Panglima Jilah juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat adat dalam menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran. Menurutnya, tokoh adat memiliki peran penting dalam memberikan edukasi kepada masyarakat karena memiliki kedekatan dengan komunitas di wilayah masing-masing.

Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa aspirasi masyarakat adat Dayak kini mendapat ruang langsung di tingkat pemerintahan pusat.

Mulai dari konektivitas wilayah pedalaman, akses pendidikan, pelestarian budaya, hingga kesempatan mengabdi kepada negara, agenda yang dibahas menyentuh kebutuhan dasar sekaligus identitas masyarakat adat.

Pesannya jelas: pembangunan tidak boleh berhenti di pusat kota. Pendidikan harus menjangkau pelosok, budaya masyarakat adat harus dijaga, dan putra-putri Dayak harus memiliki ruang untuk berkontribusi bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *