Pejabat Jepang Hormati Kuil Yasukuni, China dan Korea Selatan Kecam

0
IMG-20260818-WA0001

Pejabat Jepang memberikan penghormatan kepada Kuil Yasukuni di Tokyo pada 15 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan 81 tahun berakhirnya Perang Dunia II. Kegiatan tersebut kembali memicu kritik dari China dan Korea Selatan karena kuil itu memiliki sejarah kontroversial terkait perang dan agresi Jepang di Asia.

Kuil Yasukuni didedikasikan untuk mengenang warga Jepang yang meninggal dalam berbagai konflik. Namun, keberadaannya menjadi isu diplomatik karena daftar orang yang diabadikan di dalamnya juga mencakup 14 penjahat perang Kelas A yang dihukum setelah Perang Dunia II.

China mengecam keras penghormatan tersebut. Pemerintah Beijing menilai Kuil Yasukuni merupakan simbol militerisme Jepang dan mengatakan penghormatan kepada kuil tersebut mengabaikan penderitaan negara-negara yang menjadi korban agresi Jepang pada masa perang.

Korea Selatan juga menyampaikan keberatan. Seoul menyerukan agar Jepang menghadapi sejarah masa lalu dengan refleksi dan penyesalan yang tulus, khususnya terkait pengalaman Korea di bawah pemerintahan kolonial Jepang.

Persoalan Kuil Yasukuni telah menjadi salah satu sumber ketegangan diplomatik antara Jepang, China, dan Korea Selatan selama bertahun-tahun. Bagi sebagian masyarakat Jepang, kuil tersebut merupakan tempat untuk mengenang orang-orang yang gugur dalam perang. Namun bagi sejumlah negara Asia yang pernah menjadi korban agresi Jepang, keberadaan penjahat perang Kelas A di antara mereka yang diabadikan membuat kunjungan pejabat Jepang ke kuil tersebut dipandang sensitif.

Kontroversi ini kembali muncul ketika Jepang sedang meningkatkan perhatian terhadap isu keamanan regional. Karena itu, simbol-simbol sejarah seperti Yasukuni memiliki sensitivitas politik yang lebih besar dan dapat memengaruhi hubungan Jepang dengan negara-negara tetangganya.

Perdebatan mengenai Yasukuni pada akhirnya memperlihatkan bahwa sejarah Perang Dunia II masih memiliki pengaruh kuat terhadap hubungan diplomatik di Asia Timur. Bagi Jepang, tantangannya adalah menjaga penghormatan terhadap mereka yang gugur tanpa mengabaikan luka sejarah yang masih dirasakan negara-negara korban perang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *