Mentan Amran Borong Benih Jagung Hibrida MTE 09 Rp10 Miliar di ITS, Disiapkan untuk 13 Ribu Hektare Lahan

0
IMG-20260725-WA0022

SIDOARJO — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melakukan kunjungan kerja ke Kampus Buncitan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Sidoarjo, Jawa Timur, Rabu (22/7/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Amran meninjau sejumlah hasil riset dan inovasi yang dikembangkan sivitas akademika ITS, khususnya di bidang pertanian. Pemerintah juga menunjukkan dukungan terhadap hilirisasi hasil penelitian perguruan tinggi dengan membeli sejumlah inovasi yang dinilai memiliki potensi untuk diterapkan langsung di sektor pertanian.

Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah benih jagung hibrida MTE 09. Kementerian Pertanian membeli benih tersebut senilai Rp10 miliar untuk kebutuhan penanaman di lahan seluas sekitar 13.000 hektare.

Selain benih jagung, pemerintah juga membeli sejumlah inovasi teknologi pertanian lainnya, termasuk traktor amfibi bertenaga listrik yang dirancang untuk digunakan di lahan kering maupun rawa, serta alat panjat kelapa yang ditujukan untuk meningkatkan keselamatan dan efisiensi kerja petani.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan produk dan inovasi dalam negeri, khususnya hasil penelitian perguruan tinggi, untuk mendukung peningkatan produktivitas pertanian nasional.

Mentan Amran Dorong Riset Kampus Masuk ke Lahan Petani

Amran menilai hasil riset perguruan tinggi tidak seharusnya berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi harus dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Menurutnya, inovasi yang dihasilkan kampus perlu diarahkan untuk menjawab persoalan yang dihadapi petani, mulai dari penyediaan benih unggul, peningkatan produktivitas, hingga modernisasi alat dan mesin pertanian.

Benih jagung hibrida MTE 09 menjadi salah satu inovasi yang dinilai memiliki potensi untuk mendukung peningkatan produksi jagung nasional.

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam kunjungan tersebut, benih jagung hibrida hasil pengembangan ITS itu memiliki potensi produktivitas rata-rata sekitar 10 ton per hektare. Angka tersebut disebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata produktivitas jagung nasional.

Benih tersebut juga direncanakan untuk dibagikan kepada petani sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi jagung tanpa harus melakukan pembukaan lahan pertanian baru.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan produktivitas melalui optimalisasi lahan yang sudah tersedia sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

MTE 09 Diproyeksikan Siap Diproduksi Massal

Pemulia benih jagung hibrida ITS, Muryono, menyampaikan bahwa varietas MTE 09 diproyeksikan siap memasuki tahap produksi secara massal mulai Oktober mendatang.

Tim peneliti ITS juga akan memberikan pendampingan kepada petani dalam penerapan standar operasional budidaya. Pendampingan tersebut dinilai penting agar potensi produktivitas benih dapat dicapai secara optimal sesuai kondisi lahan dan teknik budidaya yang diterapkan.

Dalam pengembangan lebih lanjut, produktivitas jagung disebut berpotensi mencapai sekitar 20 ton per hektare dengan pembentukan minimal dua tongkol pada setiap tanaman. Namun, capaian tersebut tetap bergantung pada penerapan teknologi budidaya, kondisi lahan, varietas, pemeliharaan tanaman, serta faktor lingkungan.

Produksi benih MTE 09 direncanakan dipusatkan di Jawa Timur, sementara distribusinya akan diarahkan ke berbagai wilayah Indonesia sesuai kebutuhan.

Jika pengembangan dan pengujian di lapangan menunjukkan hasil yang konsisten, benih tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendukung peningkatan produktivitas jagung nasional.

Traktor Amfibi hingga Alat Panjat Kelapa

Selain pengembangan benih unggul, modernisasi pertanian juga menjadi perhatian dalam kunjungan Mentan Amran ke ITS.

Traktor amfibi bertenaga listrik yang turut dibeli pemerintah dirancang untuk dapat digunakan pada berbagai karakteristik lahan, termasuk lahan kering dan rawa.

Penggunaan alat mekanisasi tersebut diharapkan dapat membantu petani meningkatkan efisiensi kerja sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap metode pertanian yang membutuhkan banyak tenaga manual.

Sementara itu, alat panjat kelapa dikembangkan untuk membantu meningkatkan keamanan dan produktivitas petani dalam proses pemanenan.

Inovasi tersebut dinilai relevan dengan kondisi sektor kelapa nasional yang masih menghadapi berbagai tantangan, termasuk efisiensi produksi, keselamatan kerja, dan pengembangan hilirisasi komoditas.

Dengan dukungan teknologi, proses produksi diharapkan dapat dilakukan secara lebih efisien sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani.

ITS Siap Kolaborasi Dukung Swasembada Pangan

Rektor ITS Bambang Pramujati menyambut positif dukungan Kementerian Pertanian terhadap hasil inovasi yang dikembangkan oleh kampus.

ITS menyatakan siap memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dalam mendukung program swasembada pangan melalui pengembangan teknologi pertanian, benih unggul, mekanisasi, serta inovasi lainnya.

Kerja sama antara pemerintah dan perguruan tinggi diharapkan tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dilanjutkan hingga proses hilirisasi dan produksi massal.

Apabila hasil pengujian di lapangan menunjukkan performa yang baik, ITS juga membuka peluang untuk menggandeng sektor industri agar inovasi tersebut dapat diproduksi secara lebih luas.

Kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, dan petani menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat penerapan teknologi hasil riset di sektor pertanian.

Kunjungan Mentan Amran ke ITS sekaligus pembelian benih jagung hibrida MTE 09 dan sejumlah teknologi pertanian menjadi bagian dari upaya pemerintah mendorong hasil riset anak bangsa agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Dengan dukungan inovasi, teknologi, dan pendampingan kepada petani, peningkatan produktivitas diharapkan dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.

Benih jagung hibrida MTE 09 kini menjadi salah satu inovasi yang akan diuji penerapannya dalam skala lebih luas. Jika mampu menunjukkan performa sesuai potensi yang dikembangkan dan dapat diterapkan secara konsisten di berbagai kondisi lahan, inovasi tersebut berpeluang menjadi bagian dari strategi peningkatan produksi jagung dan penguatan swasembada pangan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *