Megawati Titipkan 3 Pesan untuk Gerakan Pemuda Marhaenis di Kongres X, Ingatkan Pemikiran Bung Karno
UPDATE NUSANTARA | NASIONAL — 29 OKTOBER 2026
JAKARTA — Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menitipkan tiga pesan kepada keluarga besar Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) dalam Kongres X yang berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98, Rabu (28/10/2026).
Pesan tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto yang hadir mewakili Megawati.
Tiga pesan itu menekankan pentingnya menjaga hubungan dengan keluarga besar GPM, mempelajari pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno mengenai marhaenisme, serta melestarikan tradisi ziarah ke tempat yang berkaitan dengan sosok Marhaen.
TIGA PESAN MEGAWATI UNTUK KELUARGA BESAR GPM
Dalam pesan yang disampaikan melalui Hasto, Megawati menitipkan salam hangat kepada seluruh keluarga besar Gerakan Pemuda Marhaenis.
Pesan kedua menekankan pentingnya mempelajari pemikiran Bung Karno, khususnya marhaenisme sebagai salah satu gagasan yang berkaitan dengan perjuangan rakyat kecil dan keadilan sosial.
Sementara itu, pesan ketiga ditujukan kepada kepengurusan GPM yang baru agar tidak melupakan tradisi ziarah ke tempat Bapak Marhaen.
Ketiga pesan tersebut menjadi pengingat bagi organisasi untuk menjaga kesinambungan sejarah, pemikiran, dan nilai-nilai perjuangan yang menjadi bagian dari identitas gerakan.
KONGRES X JADI MOMENTUM KONSOLIDASI ORGANISASI
Ketua Umum DPP Gerakan Pemuda Marhaenis, Izedrik Emir Moeis, menyebut Kongres X sebagai momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi.
GPM merupakan organisasi yang berdiri sejak 1947 dan memiliki sejarah panjang dalam perkembangan gerakan kepemudaan yang berlandaskan pemikiran marhaenisme.
Menurut data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, GPM saat ini memiliki 22 dewan pimpinan daerah (DPD) dan 78 dewan pimpinan cabang (DPC).
Organisasi itu menargetkan perluasan kepengurusan hingga mencapai 35 DPD sebagai bagian dari upaya memperkuat jangkauan organisasi di berbagai daerah.
Target tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi kepengurusan baru, terutama dalam membangun struktur organisasi yang aktif serta memperluas partisipasi generasi muda.
MARHAENISME DAN TANTANGAN GENERASI MUDA
Emir juga menyoroti tantangan dalam memperkenalkan marhaenisme kepada generasi muda, termasuk di lingkungan pendidikan.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial, pengenalan sejarah pemikiran nasional menjadi salah satu persoalan penting dalam upaya menjaga kesinambungan gagasan kebangsaan.
Marhaenisme berkaitan dengan pemikiran Soekarno mengenai perjuangan kaum marhaen, yakni rakyat kecil yang menghadapi keterbatasan ekonomi dan ketidakadilan sosial.
Karena itu, pengenalan marhaenisme tidak hanya berkaitan dengan pemahaman sejarah, tetapi juga dengan diskusi mengenai kemiskinan, kesenjangan sosial, dan cita-cita keadilan bagi masyarakat.
Tantangan bagi organisasi kepemudaan adalah menyampaikan gagasan tersebut dengan pendekatan yang relevan bagi generasi sekarang tanpa menghilangkan konteks sejarahnya.
KEMENDAGRI: RAKYAT KECIL ADALAH PEMILIK NEGERI
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Kementerian Dalam Negeri, Wahyu Chandra Kusuma, menegaskan pentingnya menempatkan rakyat kecil sebagai bagian utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Ia menyoroti kelompok masyarakat yang kerap disebut wong cilik sebagai pemilik negeri yang sesungguhnya.
Pesan tersebut menekankan bahwa pembangunan dan penyelenggaraan pemerintahan perlu memperhatikan kepentingan masyarakat luas, terutama kelompok yang menghadapi keterbatasan akses terhadap kesejahteraan dan kesempatan ekonomi.
Dalam konteks tersebut, gagasan mengenai keberpihakan kepada rakyat kecil menjadi salah satu tema penting yang dibicarakan dalam tradisi pemikiran marhaenisme.
SUMPAH PEMUDA DAN KEBERLANJUTAN PERJUANGAN KEBANGSAAN
Penyelenggaraan Kongres X GPM bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-98 pada 28 Oktober 2026.
Momentum tersebut mengingatkan kembali pentingnya peran pemuda dalam perjalanan sejarah Indonesia, mulai dari perjuangan kemerdekaan hingga pembangunan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Bagi GPM, kongres tidak hanya menjadi forum pergantian atau penguatan kepengurusan, tetapi juga kesempatan untuk memperkuat identitas organisasi dan memperluas pengenalan pemikiran marhaenisme.
Ke depan, tantangan organisasi terletak pada kemampuan menerjemahkan nilai sejarah menjadi program nyata yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, termasuk persoalan pendidikan, kesempatan kerja, kesejahteraan, dan keadilan sosial.
Sumber: Kompas.
