Mecky Tebai Ubah Makna “Mabuk” di Nabire: Dari Mari Baca Buku hingga Bangun Rumah Inspirasi

0
1788507697720

Nabire — Bagi Mecky Tebai, kata “mabuk” memiliki makna yang jauh berbeda. Bukan tentang alkohol, melainkan tentang kecintaan terhadap buku dan pengetahuan melalui gerakan “Mabuk”, singkatan dari Mari Baca Buku.

Lulusan FKIP Universitas Cenderawasih (Uncen) tahun 2026 sekaligus pendiri KORASLIMA itu memilih cara sederhana untuk membangun budaya literasi di Nabire, Papua. Setiap sore, Jalan Baru Mapiduba berubah menjadi ruang belajar terbuka. Belasan anak hingga orang dewasa duduk bersila di atas aspal, membaca buku-buku yang disusun di atas karpet.

Gerakan tersebut menunjukkan bahwa membangun kebiasaan membaca tidak selalu membutuhkan gedung besar atau fasilitas mewah. Ruang publik pun dapat menjadi tempat tumbuhnya budaya belajar ketika ada orang yang bersedia memulainya.

“Mabuk” yang Mengajak Masyarakat Membaca

Gerakan Mari Baca Buku dijalankan dengan jadwal yang teratur. Hari Jumat dan Sabtu secara khusus diarahkan kepada anak-anak yang belum mampu membaca.

Sementara itu, kegiatan pada hari Selasa diisi dengan pembelajaran bahasa Inggris, sastra, dan menulis puisi bagi anak-anak tingkat SMP. Kegiatan tersebut dilakukan bersama pendamping yang membantu peserta mengembangkan kemampuan dan minat mereka.

Konsepnya sederhana, tetapi memiliki pesan yang kuat: membaca tidak harus menunggu seseorang memiliki akses ke perpustakaan besar.

Buku dapat dibawa ke tengah masyarakat dan ditempatkan di ruang yang mudah dijangkau anak-anak.

Dari Lapak Buku Menuju Rumah Inspirasi

Mecky tidak berhenti pada aktivitas membaca di pinggir jalan.

Gerakan literasi tersebut kemudian berkembang melalui pembangunan Rumah Inspirasi Kebadabi. Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam sumber laporan, pembangunan rumah tersebut telah mencapai sekitar 90 persen.

Rumah Inspirasi Kebadabi ditargetkan menjadi ruang bagi anak-anak yang putus sekolah untuk kembali mendapatkan kesempatan mengejar pendidikan.

Jalur pendidikan yang direncanakan tidak hanya melalui pendidikan formal, tetapi juga pendidikan kesetaraan atau program paket sesuai kebutuhan peserta.

Jika berjalan sesuai tujuan, rumah tersebut dapat menjadi ruang alternatif bagi anak-anak yang kehilangan akses pendidikan sekaligus tempat untuk mengembangkan kemampuan mereka.

Literasi sebagai Jalan Membuka Kesempatan

Apa yang dilakukan Mecky Tebai memperlihatkan bahwa gerakan pendidikan masyarakat dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.

Sebuah karpet, sejumlah buku, ruang terbuka, dan kemauan untuk mendampingi anak-anak belajar dapat menjadi awal dari gerakan yang lebih besar.

Kisah ini juga mengingatkan bahwa persoalan pendidikan bukan hanya mengenai sekolah dan ruang kelas. Budaya membaca, pendampingan, kesempatan belajar kembali, serta keterlibatan masyarakat juga memiliki peran penting.

Di Jalan Baru Mapiduba, kata “mabuk” mendapatkan makna baru.

Bukan mabuk yang membuat seseorang kehilangan kesadaran, tetapi “Mabuk” yang justru mengajak masyarakat membuka pikiran melalui buku.

Dari sebuah lapak baca sederhana hingga Rumah Inspirasi Kebadabi, Mecky Tebai sedang menunjukkan bahwa perubahan sosial terkadang dimulai dari satu kebiasaan kecil: membuka buku dan mengajak orang lain untuk ikut membaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *