Mahathir Sebut Soeharto sebagai “Kakak”, Jejak Pembangunan Orde Baru Pernah Diakui Dunia

0
1789149641790

JAKARTA — Nama Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, masih menjadi bagian penting dalam sejarah pembangunan Indonesia. Selama lebih dari tiga dekade memimpin pemerintahan, era Orde Baru mencatat sejumlah capaian pembangunan yang kemudian mendapat perhatian dan pengakuan dari berbagai lembaga internasional.

Salah satu tokoh kawasan yang memiliki hubungan personal cukup dekat dengan Soeharto adalah mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad. Mahathir diketahui beberapa kali berbicara mengenai hubungannya dengan Soeharto dan pernah mengenang mantan Presiden Indonesia tersebut sebagai sosok yang dekat seperti seorang “kakak”. Dalam sebuah wawancara, Mahathir juga mengatakan bahwa dirinya kerap bertemu Soeharto dan membahas berbagai persoalan sebagai sahabat.

Pandangan Mahathir tersebut tidak berdiri sendiri. Sejumlah catatan internasional menunjukkan bahwa Indonesia pada era Soeharto memang mengalami transformasi besar dalam bidang ekonomi, pangan, kesehatan, pendidikan, dan kependudukan.

Salah satu pencapaian yang paling sering dicatat adalah keberhasilan Indonesia mencapai swasembada beras pada 1984. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mencatat bahwa produksi beras Indonesia meningkat secara signifikan setelah pemerintah melakukan investasi besar pada irigasi, penyediaan input pertanian, penyuluhan, serta berbagai kebijakan pendukung. Indonesia yang sebelumnya merupakan salah satu negara pengimpor beras terbesar kemudian mampu memenuhi kebutuhan beras dari produksi domestik.

Keberhasilan tersebut juga mendapat pengakuan internasional. Soeharto kemudian hadir dalam berbagai kegiatan FAO dan Indonesia memperoleh penghargaan terkait pencapaian swasembada beras. Dalam salah satu forum FAO, capaian Indonesia dalam meningkatkan produksi pangan dan mencapai swasembada beras mendapat apresiasi dari komunitas internasional.

Di bidang ekonomi, Indonesia juga mengalami pertumbuhan yang panjang. World Bank memasukkan Indonesia sebagai salah satu negara yang dibahas dalam kajian The East Asian Miracle, yang mengulas pertumbuhan ekonomi luar biasa di sejumlah negara Asia Timur dan Asia Tenggara. Data lain mencatat bahwa selama periode 1966–1996, ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan sekitar 7 persen per tahun secara berkelanjutan.

Pada awal pemerintahan Soeharto, persoalan ekonomi Indonesia memang sangat berat. Inflasi pada 1966 tercatat sekitar 636 persen. Kebijakan stabilisasi kemudian berhasil menurunkan inflasi secara drastis hingga sekitar 9 persen pada 1970. Stabilitas ekonomi tersebut menjadi salah satu fondasi pembangunan jangka panjang pada era berikutnya.

Bidang kesehatan juga menjadi salah satu sektor yang mengalami ekspansi besar. Pembangunan Puskesmas dan berbagai program kesehatan masyarakat memperluas akses pelayanan kesehatan hingga wilayah pedesaan.

Atas capaian pemerintah Indonesia dalam peningkatan kesehatan masyarakat, Soeharto menerima Health for All Gold Medal Award dari WHO pada 1991. Penghargaan tersebut diberikan sebagai pengakuan terhadap upaya pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

Program Keluarga Berencana (KB) juga menjadi salah satu program pembangunan yang mendapat pengakuan internasional. Pada 1989, Soeharto tercatat sebagai penerima United Nations Population Award dari Perserikatan Bangsa-Bangsa atas kontribusi dalam bidang kependudukan dan keluarga berencana. Catatan resmi UNFPA mencantumkan Presiden Soeharto sebagai penerima penghargaan tersebut pada 1989.

Di sektor pendidikan, perluasan akses pendidikan dasar melalui pembangunan sekolah dan program wajib belajar turut menjadi bagian penting pembangunan manusia. Indonesia juga mendapat pengakuan melalui Avicenna Award yang diberikan UNESCO kepada Soeharto pada 1993 atas keberhasilan Indonesia dalam memperluas pendidikan dasar. Catatan sejarah mengenai penghargaan tersebut menyebut UNESCO menilai Indonesia sebagai salah satu negara yang berhasil menjalankan universalisasi pendidikan dasar.

Di tingkat regional, Indonesia juga memainkan peran penting dalam pembentukan dan perkembangan ASEAN. Kepemimpinan Indonesia pada masa Orde Baru menjadikan Jakarta salah satu pusat diplomasi Asia Tenggara. Indonesia kemudian dipercaya memimpin Gerakan Non-Blok pada periode 1992–1995, memperkuat posisi diplomatik Indonesia di tengah perubahan tatanan dunia setelah berakhirnya Perang Dingin.

Namun, melihat sejarah Soeharto tentu tidak cukup hanya dari sisi capaian pembangunan. Era Orde Baru juga memiliki catatan panjang mengenai persoalan demokrasi, kebebasan sipil, korupsi, konsentrasi kekuasaan, serta berbagai kontroversi politik dan hak asasi manusia. Bahkan krisis ekonomi 1997–1998 kemudian menjadi salah satu faktor penting yang mengakhiri pemerintahan Soeharto pada Mei 1998.

Karena itu, warisan Soeharto tetap menjadi bagian dari sejarah yang kompleks. Di satu sisi, berbagai capaian pembangunan, stabilitas ekonomi, swasembada pangan, program kesehatan, pendidikan, dan kependudukan meninggalkan jejak yang mendapat pengakuan internasional. Di sisi lain, berbagai persoalan politik dan tata kelola pemerintahan pada masa tersebut juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari catatan sejarah.

Pada akhirnya, sejarah tidak hanya berbicara tentang siapa yang berkuasa, tetapi juga tentang kebijakan apa yang berhasil, apa yang gagal, serta pelajaran apa yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagi Indonesia hari ini, capaian pembangunan masa lalu dapat menjadi bahan pembelajaran, sementara kekurangan dan kesalahan masa lalu menjadi pengingat agar pembangunan ekonomi, stabilitas, demokrasi, keadilan, dan kesejahteraan rakyat dapat berjalan secara bersamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *