Kisah Serma Priyo, Prajurit TNI yang Memulung Usai Dinas demi Nafkah Keluarga
PALEMBANG — Kisah seorang prajurit TNI bernama Serma Priyo kembali menjadi perhatian publik. Di luar jam dinas, ia disebut memilih bekerja sebagai pemulung barang bekas untuk menambah penghasilan sekaligus memenuhi kebutuhan keluarganya.
Kisah tersebut kembali ramai diperbincangkan setelah pemberitaan mengenai aktivitas Priyo beredar di masyarakat.
Alih-alih merasa malu, Priyo justru memandang pekerjaan mengumpulkan barang bekas sebagai pekerjaan yang halal dan dilakukan dengan cara yang jujur.
Setelah menyelesaikan tugas kedinasannya sebagai prajurit, ia disebut berganti pakaian kemudian berkeliling mengumpulkan botol plastik dan berbagai barang bekas yang masih memiliki nilai ekonomi.
Pekerjaan tersebut dikabarkan telah dijalaninya selama sekitar lima tahun.
Bagi Priyo, mencari barang bekas bukanlah sesuatu yang harus dipandang rendah. Selama pekerjaan dilakukan secara halal, tidak merugikan orang lain, dan tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya, pekerjaan tersebut tetap memiliki kehormatan.
Pilihan itu juga tidak selalu berjalan mudah.
Statusnya sebagai anggota TNI membuat sebagian orang disebut memberikan pandangan berbeda terhadap pekerjaan sampingannya. Cibiran dan pandangan miring menjadi bagian dari tantangan yang harus dihadapinya.
Namun, Priyo memilih tidak menjadikan pandangan orang lain sebagai alasan untuk berhenti bekerja.
Prinsip yang dipegangnya sederhana: bekerja keras dengan cara yang halal jauh lebih penting daripada memperoleh uang melalui jalan yang tidak benar.
Dalam pemberitaan mengenai kisahnya, Priyo juga disebut mengungkapkan kekhawatirannya jika harus memberikan nafkah kepada anak dan istrinya menggunakan uang yang haram.
Bagi dirinya, mencari tambahan penghasilan dengan tenaga sendiri merupakan bentuk tanggung jawab terhadap keluarga.
Kisah tersebut kemudian mendapatkan perhatian dan apresiasi dari warganet. Banyak yang melihat perjuangan Priyo sebagai gambaran tentang arti tanggung jawab, kerja keras, dan kejujuran dalam menjalani kehidupan.
Cerita itu juga menghadirkan perspektif bahwa nilai sebuah pekerjaan tidak semata-mata ditentukan oleh jenis atau gengsinya. Pekerjaan yang dilakukan secara jujur dan halal tetap memiliki martabat.
Terlepas dari status seseorang, setiap pekerjaan yang dilakukan dengan cara yang benar dapat menjadi bagian dari perjuangan memenuhi kebutuhan keluarga.
Kisah Serma Priyo pun menjadi pengingat bahwa bekerja keras bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru keberanian untuk mencari rezeki secara halal, meski harus menghadapi pandangan orang lain, menunjukkan adanya tanggung jawab terhadap keluarga dan prinsip yang ingin dipertahankan.
Dalam konteks pemberitaan, detail mengenai satuan tempat Priyo bertugas perlu merujuk pada keterangan resmi atau sumber primer agar tidak terjadi kekeliruan identitas maupun kedinasan. Namun, pesan utama dari kisah ini tetap kuat: kehormatan seseorang tidak hanya ditentukan oleh pekerjaan yang terlihat, tetapi juga oleh kejujuran dalam mencari nafkah dan tanggung jawab terhadap keluarga.
