Kisah Anton Medan: Dari Preman Kelas Kakap, Masuk Penjara, hingga Menjadi Mualaf dan Membina Mantan Narapidana

0
1786636829408

BOGOR — Nama Muhammad Ramdhan Effendi alias Anton Medan pernah dikenal luas dalam dua sisi kehidupan yang sangat berbeda. Ia pernah menjalani kehidupan keras sebagai pelaku kriminal dan berulang kali keluar-masuk penjara. Namun, perjalanan hidupnya kemudian berubah setelah ia memeluk Islam dan memilih mengabdikan diri untuk membina masyarakat.

Anton Medan meninggal dunia di kawasan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 15 Maret 2021. Kepergiannya meninggalkan kisah hidup panjang tentang perubahan seseorang dari dunia kriminal menuju kehidupan keagamaan dan sosial.

Terlahir dengan nama Tan Hok Liang, Anton Medan menjalani masa muda dalam kondisi yang tidak mudah. Ketika masih berusia sekitar 12 tahun, ia merantau ke Tebing Tinggi dan harus meninggalkan pendidikan untuk membantu kehidupan keluarga.

DARI ANAK JALANAN HINGGA MASUK PENJARA

Saat berada di Tebing Tinggi, Anton Medan menjalani berbagai pekerjaan. Ia pernah bekerja sebagai calo di terminal.

Masa mudanya kemudian bersentuhan dengan dunia kriminal. Salah satu peristiwa membuatnya harus berurusan dengan aparat penegak hukum dan menjalani hukuman penjara.

Pengalaman tersebut menjadi awal dari perjalanan panjangnya keluar-masuk lembaga pemasyarakatan.

Setelah menyelesaikan masa hukuman, Anton Medan sempat kembali kepada keluarganya. Namun, ia mengaku tidak mendapatkan penerimaan seperti yang diharapkannya.

Kondisi tersebut membuatnya kembali merantau ke Jakarta. Di ibu kota, ia menjalani kehidupan keras seorang diri dan kembali terjerumus dalam dunia kriminal.

Bertahun-tahun kemudian, pengalaman hidup di balik jeruji justru menjadi salah satu titik yang mengubah jalan hidupnya.

PERJALANAN MENJADI MUALAF

Anton Medan lahir dalam keluarga yang menganut agama Buddha. Dalam perjalanan hidupnya, ia juga pernah memeluk agama Kristen Protestan ketika berada di penjara Cipinang.

Namun, pada akhirnya ia memilih Islam.

Perjalanannya menjadi mualaf bukan sesuatu yang berlangsung secara instan. Ia sempat menghadapi penolakan ketika ingin bergabung dengan organisasi dan lembaga yang berkaitan dengan komunitas Muslim Tionghoa.

Anton kemudian terus menunjukkan keseriusannya untuk memeluk Islam.

Pada 1992, ia mengucapkan dua kalimat syahadat dengan tuntunan KH Zainuddin MZ, dai yang dikenal luas dengan julukan “Dai Sejuta Umat”.

Sejak memeluk Islam, Tan Hok Liang menggunakan nama Muhammad Ramdhan Effendi. Nama Anton Medan kemudian tetap melekat dan dikenal masyarakat luas.

MEMILIH MEMBINA MANTAN NARAPIDANA

Perubahan hidup Anton Medan tidak berhenti pada keputusan memeluk Islam.

Ia mendirikan Majelis Ta’lim At-Ta’ibin yang salah satu fokus kegiatannya adalah membina para mantan narapidana dan masyarakat yang membutuhkan pendampingan.

Pengalaman masa lalunya membuat Anton memahami bagaimana sulitnya seseorang kembali diterima masyarakat setelah keluar dari penjara.

Ia kemudian berusaha memberikan ruang bagi para mantan narapidana untuk memperbaiki kehidupan dan kembali menjalani kehidupan sosial secara lebih baik.

Selain majelis taklim, Anton Medan juga mendirikan pondok pesantren dan masjid.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upayanya memperluas pembinaan keagamaan dan sosial.

Ia juga dikenal memberikan perhatian kepada anak yatim, anak terlantar serta masyarakat lanjut usia.

DARI KEHIDUPAN KRIMINAL MENUJU PENGABDIAN

Kisah Anton Medan menjadi salah satu contoh perjalanan hidup yang penuh perubahan.

Masa lalunya tidak dapat dipisahkan dari sejarah kehidupannya. Ia pernah menjalani kehidupan kriminal dan merasakan kerasnya penjara.

Namun, setelah memeluk Islam, ia memilih menggunakan pengalaman masa lalunya sebagai modal untuk mendekati orang-orang yang mengalami persoalan serupa.

Ia berusaha menunjukkan bahwa seseorang yang pernah melakukan kesalahan tetap memiliki kesempatan untuk berubah.

Perjalanan tersebut sekaligus menjadi pesan sosial bahwa proses kembali ke masyarakat bagi mantan narapidana membutuhkan kesempatan, pembinaan dan penerimaan.

Anton Medan meninggal dunia pada 15 Maret 2021. Ia meninggalkan kisah yang tidak hanya tentang masa lalu kriminalnya, tetapi juga tentang perubahan, pertobatan dan upaya memberikan kesempatan kedua kepada orang-orang yang pernah tersisih dari kehidupan sosial.

Dari seorang pria yang pernah dikenal sebagai preman kelas kakap, Muhammad Ramdhan Effendi kemudian dikenal sebagai pendakwah dan tokoh yang berusaha membina mantan narapidana.

Kisah hidupnya menunjukkan bahwa masa lalu seseorang tidak selalu harus menjadi akhir dari perjalanan hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *