Kilang Minyak Kedua Senegal Senilai Rp32–81 Triliun Ditargetkan Beroperasi 2029, Ubah Negara Pengekspor Minyak Mentah Jadi Pengolah Mandiri
Senegal mempercepat langkah menuju kemandirian energi dengan menyiapkan pembangunan kilang minyak kedua melalui proyek strategis bertajuk SAR 2.0. Proyek senilai 2–5 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp32–81 triliun itu dirancang untuk mengolah minyak mentah dari ladang lepas pantai Sangomar, sekaligus mengurangi ketergantungan negara tersebut terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) dan memperkuat industri hilir migas nasional.
Rencana pembangunan kilang baru itu diumumkan Direktur Jenderal Société Africaine de Raffinage (SAR), Mamadou Abib Diop, pada Oktober 2025. Pemerintah Senegal menargetkan konstruksi dimulai pada 2026 dengan operasi komersial pada 2029. Namun hingga pertengahan 2026, proyek tersebut masih berada dalam tahap pra-Final Investment Decision (pra-FID), sehingga sejumlah tahapan penting masih harus diselesaikan sebelum pembangunan fisik dimulai.
Proyek SAR 2.0 menjadi kelanjutan dari tonggak sejarah industri energi Senegal setelah negara itu memulai produksi minyak mentah pertamanya dari ladang lepas pantai Sangomar pada Juni 2024. Meski telah resmi menjadi negara penghasil minyak, Senegal masih menghadapi paradoks energi karena sebagian besar kebutuhan bahan bakar domestiknya masih dipenuhi melalui impor.
Sepanjang 2024, produk minyak olahan tercatat menyumbang sekitar 22,2 persen dari total nilai impor Senegal. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemampuan produksi minyak mentah belum diikuti kapasitas pengolahan yang memadai sehingga nilai tambah industri migas masih banyak dinikmati di luar negeri.
Saat ini Senegal hanya memiliki satu kilang minyak milik SAR yang berlokasi di Dakar. Kilang yang beroperasi sejak 1963 tersebut memiliki kapasitas sekitar 1,5 juta ton per tahun atau setara sekitar 30.000 barel per hari. Kapasitas tersebut dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.
Melalui proyek SAR 2.0, kapasitas pengolahan nasional diproyeksikan bertambah sekitar 4 juta ton per tahun sehingga total kapasitas kilang Senegal meningkat menjadi sekitar 5,5 juta ton per tahun. Kilang baru itu dirancang untuk mengolah minyak mentah dari Sangomar yang saat ini memproduksi sekitar 4,6 juta ton minyak setiap tahun.
Jika seluruh produksi domestik dapat diolah di dalam negeri, Senegal tidak hanya mampu mengurangi impor BBM, tetapi juga memperoleh nilai tambah lebih besar melalui industri pengolahan, distribusi, hingga ekspor produk energi bernilai tinggi.
Pendanaan proyek saat ini masih dibahas melalui skema kemitraan pemerintah dan swasta (Public Private Partnership/PPP). Sejumlah calon mitra strategis berasal dari China, Turki, Korea Selatan, serta African Export-Import Bank yang tengah menjajaki peluang pembiayaan proyek tersebut.
Sebagai bagian dari persiapan, pada September 2024 SAR menandatangani protokol kerja sama dengan Sedin Engineering, anak perusahaan China National Engineering. Langkah tersebut menjadi fondasi awal dalam pengembangan proyek kilang generasi baru Senegal.
Kemajuan penting lainnya terjadi pada Februari 2025 ketika SAR berhasil mengolah sekitar 650.000 barel minyak mentah Sangomar. Pengolahan tersebut menjadi sejarah baru karena merupakan pertama kalinya minyak mentah hasil produksi Senegal diproses di kilang domestik.
Meski memiliki prospek besar, proyek SAR 2.0 masih menghadapi sejumlah tantangan. Hingga pertengahan 2026 belum terdapat keputusan investasi final, lokasi pembangunan kilang belum diumumkan secara resmi, dan komitmen pendanaan yang mengikat juga masih dalam tahap negosiasi.
Sejumlah analis energi menilai target operasi pada 2029 cukup ambisius. Apabila proses pendanaan dan konstruksi mengalami keterlambatan, operasional kilang diperkirakan baru dapat dimulai pada periode 2030 hingga 2031.
Terlepas dari tantangan tersebut, proyek SAR 2.0 dipandang sebagai salah satu investasi strategis terbesar dalam sejarah sektor energi Senegal. Keberhasilannya akan membuka jalan menuju swasembada produk BBM, memperbaiki neraca perdagangan, menciptakan lapangan kerja baru, sekaligus memperkuat posisi Senegal sebagai pusat industri pengolahan migas di kawasan Afrika Barat.
Di tengah meningkatnya investasi energi di kawasan, Senegal juga diproyeksikan menjadi salah satu pemain penting dalam rantai nilai migas regional. Jika proyek ini terealisasi sesuai rencana, negara tersebut tidak lagi hanya dikenal sebagai pengekspor minyak mentah, tetapi juga sebagai produsen produk energi bernilai tambah yang mampu memasok kebutuhan negara-negara tetangganya.
