Kementan Lakukan Penanganan Cepat Cegah Penyebaran ASF di Polewali Mandar, Puluhan Ternak Babi Mati
MAROS – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Balai Besar Veteriner (BBV) Maros bergerak cepat melakukan investigasi dan penanganan kasus African Swine Fever (ASF) yang menyerang ternak babi di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Langkah cepat tersebut dilakukan setelah adanya laporan kematian ternak babi yang diterima dari petugas dinas serta melalui sistem iSIKHNAS pada 23 Juni 2026.
Tim BBV Maros kemudian melakukan investigasi lapangan di Dusun Salupaku, Desa Indomakombong, Kecamatan Matakali, yang menjadi lokasi awal ditemukannya kasus kematian ternak babi yang diduga akibat infeksi virus ASF.
Kepala Balai Besar Veteriner (BBV) Maros, Agustia, mengatakan pihaknya langsung menerjunkan tim begitu menerima laporan dari lapangan.
“Begitu menerima laporan dari petugas dinas dan melalui iSIKHNAS, kami langsung menurunkan tim untuk melakukan investigasi, pengambilan sampel, serta penanganan awal di lokasi guna memastikan penyebab kematian ternak,” ujar Agustia, Kamis (3/7/2026).
Hasil investigasi menunjukkan kasus pertama terjadi pada 23 Juni 2026 ketika seekor babi milik peternak ditemukan mati di Desa Indomakombong. Dalam kurun waktu 24 hingga 30 Juni 2026, jumlah kematian meningkat menjadi 66 ekor babi milik dua peternak lainnya dengan gejala klinis yang mengarah pada African Swine Fever (ASF).
Tim investigasi menemukan sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab penyebaran virus. Di antaranya masuknya babi dari Kabupaten Mamasa untuk kebutuhan hajatan pada 3 Juni 2026, aktivitas pemotongan babi yang berpotensi membawa virus ke peternakan lain, penggunaan sisa makanan hajatan sebagai pakan ternak, rendahnya penerapan biosekuriti, serta pemasukan ternak tanpa pemeriksaan dokter hewan dan tanpa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).
Sebagai langkah penanganan, BBV Maros melakukan pengambilan sampel darah, swab, dan organ untuk pemeriksaan laboratorium. Tim juga memberikan terapi suportif berupa vitamin dan obat pendukung kepada ternak yang masih sehat, sekaligus memberikan edukasi kepada peternak mengenai pentingnya penerapan biosekuriti, tata cara pembuangan bangkai sesuai standar, dan larangan membeli ternak tanpa SKKH.
Kementerian Pertanian juga merekomendasikan penyemprotan disinfektan secara rutin sebanyak tiga hingga empat kali setiap pekan di peternakan yang masih bebas kasus di Kecamatan Matakali. Selain itu, pengawasan lalu lintas ternak diperketat guna mencegah penyebaran virus ke wilayah lain.
Pemerintah daerah juga didorong segera menerbitkan aturan pembatasan lalu lintas babi dari desa yang terpapar menuju wilayah lain. Pengobatan simptomatik, pemberian vitamin, pelaporan perkembangan kasus, serta pemantauan sentra peternakan babi di Polewali Mandar terus dilakukan sebagai bagian dari pengendalian wabah.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar telah menerbitkan surat imbauan kewaspadaan kepada para peternak, khususnya di empat kecamatan yang memiliki populasi babi cukup tinggi.
Kepala UPTD Puskeswan Mapilli, Isnaniah Bagenda, mengatakan langkah tersebut bertujuan meningkatkan kewaspadaan peternak terhadap ancaman ASF.
“Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar telah menerbitkan surat imbauan kewaspadaan bagi peternak, khususnya di empat kecamatan yang memiliki populasi babi berisiko tinggi. Kami mengimbau seluruh peternak untuk meningkatkan biosekuriti agar penyebaran virus dapat dicegah,” ujarnya.
Selain menerbitkan surat imbauan, petugas kesehatan hewan juga melakukan penyemprotan disinfektan, pemberian vitamin, obat-obatan, serta serum ASF. Peternak diimbau menjaga kebersihan kandang, tidak membuang bangkai babi sembarangan, serta mengubur atau membakar bangkai ternak yang mati sesuai prosedur untuk mencegah penyebaran virus ke peternakan lainnya.
