Kementan Dorong Inovasi Pakan untuk Perkuat Keberhasilan Reproduksi Ternak

0
IMG-20260828-WA0046(1)

Sorotan Publik — Keberhasilan inseminasi buatan (IB) tidak hanya ditentukan oleh kualitas semen dan keterampilan inseminator. Kondisi tubuh, kesehatan reproduksi, manajemen pemeliharaan, serta kecukupan nutrisi juga menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan reproduksi ternak.

Karena itu, penguatan manajemen pakan menjadi bagian penting dalam meningkatkan keberhasilan reproduksi sekaligus mendukung peningkatan populasi dan produktivitas ternak nasional.

Pesan tersebut mengemuka dalam Webinar Pakan Nasional Seri ke-9 bertema “Optimalisasi Nutrisi Pakan untuk Keberhasilan Inseminasi Buatan” yang diselenggarakan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Pakan bekerja sama dengan Balai Inseminasi Buatan Lembang dan Perpustakaan Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.

Nutrisi Seimbang Jadi Kunci Reproduksi

Direktur Pakan Kementerian Pertanian, Tri Melasari, mengatakan keberhasilan IB tidak hanya bergantung pada kualitas semen beku. Keterampilan inseminator, tata laksana reproduksi, status nutrisi, dan kondisi tubuh ternak juga memiliki peran penting.

Menurutnya, pakan yang hanya memenuhi kebutuhan hidup dasar belum cukup untuk mendukung fungsi reproduksi secara optimal.

Kecukupan energi, protein, mineral, vitamin, dan zat nutrien lainnya sesuai kebutuhan ternak diperlukan untuk mendukung kesehatan serta performa reproduksi.

Tri Melasari juga menekankan agar webinar tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan. Inovasi yang dibahas harus dapat diterapkan secara nyata di lapangan sehingga memberikan manfaat bagi peternak.

Ia mendorong pengembangan inovasi pakan, termasuk pemanfaatan bahan pakan lokal dan teknologi pengolahan pakan yang dapat meningkatkan kandungan nutrisi serta efisiensi.

Menurutnya, inovasi tidak harus selalu menggunakan teknologi berskala besar. Pemanfaatan bahan pakan lokal melalui metode pengolahan yang tepat juga dapat memberikan nilai tambah bagi peternak.

Kondisi Tubuh Berpengaruh terhadap Keberhasilan IB

Mansyur, Tim Ahli Pakan Kementerian Pertanian sekaligus Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, menjelaskan bahwa keberhasilan IB dapat diukur melalui sejumlah indikator.

Di antaranya adalah Non Return Rate (NRR), Service per Conception (S/C), Conception Rate, angka kelahiran, jarak beranak, dan days open.

Pencapaian indikator tersebut dipengaruhi oleh kualitas semen, keterampilan inseminator, ketepatan deteksi estrus, kesehatan reproduksi, serta manajemen dan kondisi tubuh ternak.

Nutrisi memiliki pengaruh terhadap hormon reproduksi, kesehatan ternak, dan keberhasilan kebuntingan. Kekurangan nutrisi dapat menghambat ekspresi hormonal dan tanda estrus.

Sebaliknya, pemberian protein secara berlebihan juga perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan kadar Blood Urea Nitrogen (BUN) yang berpotensi memengaruhi lingkungan reproduksi dan perkembangan embrio.

Mansyur menekankan pentingnya menciptakan nutrisi yang seimbang. Salah satu indikator sederhana yang dapat digunakan peternak adalah Body Condition Score (BCS).

Kondisi BCS yang ideal memberikan dasar yang lebih baik untuk mendukung keberhasilan reproduksi dan inseminasi buatan.

Kebutuhan nutrisi juga perlu disesuaikan dengan fase reproduksi. Sebelum IB, kondisi tubuh ternak perlu dipersiapkan melalui perbaikan asupan energi apabila BCS belum ideal.

Setelah IB, kecukupan mineral seperti zinc dan selenium serta vitamin E juga perlu diperhatikan untuk mendukung imunitas dan menjaga kondisi lingkungan reproduksi.

BIB Lembang Perkuat Mutu Genetik Ternak

Kepala Balai Inseminasi Buatan Lembang, Gun Gun Gunara, menegaskan bahwa kualitas genetik yang diperoleh melalui IB harus didukung manajemen pemeliharaan yang baik agar dapat diekspresikan secara optimal.

Menurutnya, faktor genetik dan lingkungan merupakan satu kesatuan yang menentukan produktivitas ternak.

Keberhasilan IB tidak hanya ditentukan oleh semen beku. Ketepatan pelaksanaan, kondisi fisiologis dan reproduksi indukan, nutrisi, kesehatan ternak, manajemen pemeliharaan, serta kualitas pakan merupakan faktor yang saling berkaitan.

BIB Lembang terus mendukung peningkatan mutu genetik ternak melalui produksi semen beku berkualitas dan penerapan teknologi reproduksi.

Melalui teknologi IB, potensi genetik pejantan unggul dapat disebarluaskan secara lebih efisien ke berbagai wilayah Indonesia.

Teknologi tersebut juga membantu mengatur perkawinan dan menghindari inbreeding, yakni perkawinan antara ternak yang memiliki hubungan kekerabatan sangat dekat.

Gun Gun menilai penguatan teknologi reproduksi harus berjalan beriringan dengan perbaikan pakan dan manajemen pemeliharaan.

Kombinasi ketiganya dinilai penting untuk mempercepat peningkatan populasi dan produktivitas ternak, khususnya dalam mendukung pemenuhan kebutuhan daging dan susu di dalam negeri.

Dorong Peternakan Nasional Lebih Produktif

Melalui Webinar Pakan Nasional Seri ke-9, Kementerian Pertanian mendorong sinergi antara pengelolaan pakan, teknologi reproduksi, kesehatan hewan, dan peningkatan mutu genetik sebagai bagian dari strategi pembangunan peternakan nasional.

Penerapan nutrisi yang tepat di tingkat peternak diharapkan dapat meningkatkan efisiensi reproduksi dan memperkuat produktivitas ternak.

Langkah tersebut juga diharapkan memberikan dampak terhadap kesejahteraan peternak sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan protein hewani masyarakat.

Dengan demikian, keberhasilan inseminasi buatan tidak hanya bergantung pada teknologi reproduksi. Kualitas genetik, nutrisi, kesehatan, kondisi tubuh, dan manajemen pemeliharaan perlu berjalan secara terpadu untuk membangun sektor peternakan Indonesia yang produktif dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *