Kembali Jadi Sorotan, Momen SBY Menginap di Tenda Pengungsi Saat Erupsi Merapi 2006
YOGYAKARTA — Foto dan kisah lama Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menginap di tenda pengungsian korban erupsi Gunung Merapi pada 2006 kembali menjadi sorotan.
Momen tersebut terjadi ketika aktivitas Gunung Merapi meningkat dan ribuan warga harus mengungsi. Pada 16 Mei 2006, SBY bersama Ibu Ani Yudhoyono dan sejumlah pejabat meninjau langsung lokasi pengungsian di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Setelah mengunjungi para pengungsi di Sleman, SBY melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Presiden kemudian bermalam di lokasi pengungsian.
SBY Tidur di Tenda Pengungsian
Keesokan paginya, 17 Mei 2006, SBY meninggalkan Lapangan Gowok, Desa Dukun, Kabupaten Magelang, setelah menginap semalam di tenda.
Ketika ditanya mengenai pengalamannya tidur di tenda, SBY menjawab singkat bahwa udara terasa dingin, meski menurutnya tetap terasa sejuk. Sebelum meninggalkan lokasi, ia juga menyempatkan diri sarapan dan berfoto bersama relawan.
ANTARA juga mencatat SBY meninggalkan lokasi pengungsian sekitar pukul 07.00 WIB. Sebelum berangkat, ia menggunakan teropong untuk melihat kondisi Gunung Merapi dan berpesan agar pemerintah daerah terus memastikan keselamatan para pengungsi.
Datang Langsung Melihat Kondisi Pengungsi
Kehadiran SBY di lokasi bukan sekadar kunjungan singkat. Ia berdialog dengan pengungsi dan melihat langsung kondisi tempat mereka bertahan selama masa darurat.
Saat berada di barak pengungsian SMP 2 Pakem, Sleman, SBY meminta warga tidak meninggalkan barak sebelum kondisi Merapi benar-benar dinyatakan aman.
Presiden juga sempat makan bersama pengungsi di dapur umum sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah Magelang.
Kisah tersebut kembali menarik perhatian karena memperlihatkan bagaimana seorang kepala negara memilih berada dekat dengan masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
Bertahun-tahun kemudian, momen SBY menginap di tenda pengungsian Merapi 2006 kembali dikenang sebagai salah satu catatan perjalanan kepemimpinannya dalam menghadapi situasi bencana.
Bukan soal mewah atau sederhananya tempat menginap, tetapi tentang keputusan untuk hadir dan melihat langsung kondisi masyarakat yang sedang berada dalam keadaan sulit.
