Kebakaran Bromo Kian Meluas, 196 Hektare Lahan Hangus dan Ancaman di Savana

0
IMG-20260809-WA0030

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, kembali meluas. Kobaran api yang terjadi sejak Senin (3/8) terus merambat di sejumlah kawasan hingga mendekati padang savana Bromo.

Hingga Minggu (9/8), luas area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 196 hektare. Namun, terdapat pernyataan berbeda mengenai luas kawasan terdampak. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menyebut angka yang lebih besar, yakni sekitar 500 hektare. Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa pendataan luas kebakaran masih terus dilakukan di lapangan.

Api dilaporkan telah melewati Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) dan bergerak menuju kawasan Bukit B29, B30, serta bagian bawah Kaldera Lautan Pasir. Kondisi angin yang kencang dan berubah-ubah menjadi salah satu kendala utama bagi petugas dalam mengendalikan kobaran api.

Api Mengarah ke Kawasan Savana Bromo

Ancaman terbesar kini berada di kawasan padang savana Bromo. Kawasan tersebut merupakan bagian penting dari bentang alam Tengger dan memiliki nilai ekologis sekaligus menjadi salah satu daya tarik wisata utama kawasan Bromo.

Pergerakan api menuju savana dikhawatirkan dapat memperluas kerusakan vegetasi dan berdampak terhadap kondisi ekosistem. Petugas telah membangun sejumlah pembatas untuk memperlambat pergerakan api, termasuk di kawasan Blok Bentengan, Lumajang, serta Bukit Teletubbies atau Lembah Watangan di Kabupaten Probolinggo.

Angin kencang membuat arah perambatan api sulit diprediksi. Karena itu, keselamatan personel menjadi prioritas dalam setiap operasi pemadaman.

Kalaksa BPBD Kabupaten Probolinggo Oemar Sjarief meminta seluruh tim memperhatikan kondisi di lapangan dan berkumpul di kawasan JLKT yang dinilai masih relatif aman ketika situasi tidak memungkinkan untuk melakukan pemadaman secara langsung.

Tiga Helikopter Dikerahkan, Akses Wisata Ditutup

Berbagai metode pemadaman terus dilakukan untuk mengendalikan kebakaran. Sebanyak tiga unit helikopter water bombing dikerahkan untuk membantu operasi dari udara.

Selain water bombing, drone water spray juga dimanfaatkan untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat, termasuk area dengan kontur tebing dan medan yang curam.

Namun, operasi pemadaman dari udara menghadapi kendala cuaca dan kondisi api. Pada Sabtu (8/8), water bombing hanya dapat dilakukan dua kali karena situasi di lokasi yang dinamis dan sulit diprediksi.

Demi keselamatan wisatawan sekaligus mendukung efektivitas operasi pemadaman, seluruh akses menuju kawasan wisata Gunung Bromo ditutup mulai Sabtu (8/8) pukul 22.00 WIB hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Penutupan diberlakukan melalui sejumlah pintu masuk, antara lain Cemorolawang di Probolinggo, Wonokitri di Pasuruan, Jemplang dan Coban Trisula di Malang, serta Senduro di Lumajang. Kawasan wisata B29 atau yang dikenal sebagai wisata negeri di atas awan juga ditutup sementara.

Kebakaran Terus Meluas Sejak Awal Agustus

Kebakaran pertama kali dilaporkan terjadi pada Senin (3/8) di Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Pada awal kejadian, area yang terbakar diperkirakan sekitar 7,9 hektare.

Luas kawasan terdampak kemudian meningkat menjadi sekitar 44 hektare, 51 hektare, hingga mencapai sekitar 176 hektare pada Jumat (7/8) malam. Hingga Minggu pagi, estimasi luas terdampak yang dilaporkan mencapai sekitar 196 hektare.

Di tengah perbedaan data mengenai luasan kawasan terdampak, petugas terus melakukan pemantauan dan pemutakhiran informasi berdasarkan kondisi terbaru di lapangan.

Saat ini, perhatian utama tertuju pada upaya mencegah api memasuki kawasan savana yang lebih luas. Cuaca panas, vegetasi kering, serta tiupan angin menjadi kombinasi yang membuat proses pemadaman semakin kompleks.

Petugas gabungan terus berpacu dengan waktu untuk mengendalikan kobaran api sebelum kerusakan meluas. Penutupan kawasan wisata dilakukan sebagai langkah keselamatan, sementara operasi pemadaman dan pemantauan terus berlangsung.

Kebakaran Bromo menjadi pengingat penting bahwa kawasan konservasi membutuhkan perlindungan dan pengelolaan yang serius, terutama ketika memasuki periode dengan kondisi cuaca yang meningkatkan risiko kebakaran. Keselamatan petugas dan masyarakat tetap menjadi prioritas utama, sementara upaya pengendalian api terus dilakukan untuk melindungi bentang alam Bromo Tengger.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *