Kebakaran Bromo Kembali Membesar, 176 Hektare Lahan Hangus dan Kawasan Wisata Ditutup Total
Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur, kembali membesar pada Sabtu (8/8) malam akibat tiupan angin kencang yang terus berubah arah. Kobaran api dilaporkan telah melompati Jalur Lingkar Kaldera Tengger (JLKT) yang memiliki lebar sekitar 18 meter dan bergerak mendekati Gunung Kursi serta kawasan Padang Savana Bromo atau Bukit Teletubbies.
Kondisi tersebut membuat Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB-TNBTS) mengambil langkah penutupan total kawasan wisata Gunung Bromo mulai Sabtu malam hingga batas waktu yang belum ditentukan. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mendukung proses pemadaman sekaligus menjaga keselamatan wisatawan dan petugas di tengah kondisi kebakaran yang masih dinamis.
Hingga Sabtu malam, luas lahan yang terbakar dilaporkan mencapai lebih dari 176,20 hektare. Kebakaran pertama kali terdeteksi pada Senin (3/8) di Blok Bantengan, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, dengan luas awal sekitar 7,9 hektare.
Dalam beberapa hari, api terus meluas akibat kondisi cuaca kering dan hembusan angin yang berubah-ubah. Pergerakan api bahkan mengarah ke kawasan yang memiliki nilai ekologis dan wisata penting bagi kawasan Bromo Tengger Semeru.
Kebakaran menghanguskan sejumlah vegetasi khas kawasan Bromo, mulai dari cemara gunung, edelweiss, akasia, mentigen hingga semak belukar. Sejumlah area seperti Blok Bantengan, Blok Watu Gede, dan Pusung Jantur terdampak dan mengalami kerusakan vegetasi.
Kondisi tersebut juga menimbulkan kekhawatiran terhadap habitat berbagai satwa liar yang hidup di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, termasuk lutung jawa, elang jawa, serta berbagai jenis burung dan satwa lainnya.
Dugaan Kebakaran Berawal dari Kelalaian Manusia
Balai Besar TNBTS menduga kebakaran bukan disebabkan faktor alam. Dugaan sementara mengarah pada kelalaian manusia, dengan kemungkinan api berasal dari perapian yang dibuat warga ketika melintas di jalur tradisional atau jalur tidak resmi di sekitar tebing Blok Bantengan.
Kepala BB-TNBTS Rudjanta Tjahja Nugraha menyampaikan bahwa dugaan awal mengarah pada faktor ketidaksengajaan. Namun, penanganan penyebab kebakaran tetap perlu dilakukan secara hati-hati berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan.
Tim gabungan dari petugas TNBTS, BPBD, TNI, Polri dan relawan terus melakukan upaya pemadaman. Personel dikerahkan untuk mengendalikan api sekaligus melakukan pemantauan terhadap titik-titik yang berpotensi kembali terbakar.
Helikopter Water Bombing Dikerahkan
Untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat, tiga unit helikopter water bombing dari BNPB dan BPBD Jawa Timur turut dikerahkan. Operasi udara ditujukan untuk membantu membasahi kawasan yang berada di medan terjal dan sulit dijangkau petugas.
Selain helikopter, drone water spray juga dimanfaatkan untuk membantu pembasahan awal di sejumlah lokasi ekstrem. Namun, operasi pemadaman dari udara harus menyesuaikan kondisi cuaca dan keselamatan penerbangan.
Upaya pemadaman dari darat juga menghadapi tantangan berat. Angin kencang yang berubah arah dapat mempercepat perambatan api, sementara kabut tebal pada malam hari mengurangi jarak pandang petugas di lapangan.
Meski kondisi di wilayah Jemplang, Kabupaten Malang, telah dinyatakan kondusif, kepulan asap masih terlihat di sejumlah wilayah Kabupaten Lumajang. Petugas gabungan tetap bersiaga untuk melakukan pemantauan, pendinginan, dan mengantisipasi munculnya titik api baru.
Kawasan Wisata Bromo Ditutup Total
Penutupan total kawasan wisata Bromo menjadi salah satu langkah penting dalam menghadapi kondisi darurat kebakaran. Selain memberikan ruang bagi petugas untuk melakukan pemadaman, kebijakan tersebut juga bertujuan menghindari risiko terhadap wisatawan akibat pergerakan api, asap, dan perubahan arah angin.
Luas area terdampak yang telah mencapai sekitar 176 hektare masih berpotensi bertambah apabila kondisi cuaca tidak mendukung. Vegetasi kering dan angin yang berubah-ubah menjadi faktor yang harus terus diwaspadai oleh seluruh tim di lapangan.
Petugas kini berpacu dengan waktu untuk mengendalikan api sebelum memasuki kawasan yang lebih luas, terutama wilayah savana Bromo. Proses pemadaman dan pendinginan akan terus dilakukan hingga titik-titik api benar-benar dapat dikendalikan.
Kebakaran ini sekaligus menjadi pengingat penting mengenai perlunya kewaspadaan masyarakat ketika beraktivitas di kawasan konservasi. Penggunaan api secara sembarangan, termasuk membuat perapian di area yang rawan terbakar, dapat menimbulkan dampak besar terhadap ekosistem dan keselamatan kawasan.
Pemerintah dan pengelola kawasan mengimbau masyarakat untuk mematuhi seluruh ketentuan selama penanganan kebakaran berlangsung. Keselamatan menjadi prioritas utama hingga kondisi kawasan Bromo benar-benar dinyatakan aman.
