Karhutla Meluas di 5 Provinsi, BNPB Catat Lahan Terbakar hingga 48 Hektare dan Imbau Warga Tak Buka Lahan dengan Api
JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda lima provinsi pada periode 20 hingga 21 Juli 2026. Kebakaran dilaporkan terjadi di Bali, Jawa Tengah, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.
Rangkaian kejadian tersebut menjadi perhatian di tengah musim kemarau yang masih berlangsung. Kondisi cuaca kering dan vegetasi yang mudah terbakar dapat meningkatkan risiko api menyebar dengan cepat apabila tidak segera ditangani.
Berdasarkan pemantauan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB, karhutla dengan luasan terbesar terjadi di Kabupaten Buleleng, Bali. Kebakaran melanda kawasan perbukitan Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, dengan vegetasi rerumputan kering yang terbakar mencapai sekitar 48 hektare.
Kobaran api di kawasan tersebut terlihat dari Villa Bukit Kursi sejak Jumat (17/7). Tim gabungan yang terdiri dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, pemadam kebakaran, Satpol PP, serta unsur terkait lainnya langsung melakukan upaya pemadaman.
Setelah penanganan intensif selama beberapa hari, api berhasil dipadamkan. Kondisi di lokasi kemudian dilaporkan aman dan terkendali. Luasan lahan yang terbakar di Buleleng menjadi yang terbesar dibandingkan kejadian karhutla lain yang tercatat dalam periode pemantauan tersebut.
Karhutla juga terjadi di Jawa Tengah, tepatnya di Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Area yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai 3,5 hektare.
Berdasarkan hasil asesmen di lapangan, kebakaran dipicu aktivitas pembersihan lahan yang tidak terkendali. Api kemudian merambat ke kawasan Petak 98 E Perhutani Cawas BKPH Wonogiri pada Senin (20/7) sekitar pukul 11.30 WIB.
Petugas gabungan bergerak cepat melakukan pemadaman. Api berhasil dikendalikan pada hari yang sama sehingga tidak meluas ke kawasan hutan produksi di sekitarnya.
Sementara itu, kebakaran lahan juga terjadi di Kabupaten Belitung Timur, Kepulauan Bangka Belitung. Sekitar 2 hektare lahan di Jalan Pantai Mudong, Desa Padang, Kecamatan Manggar, terbakar.
Kebakaran mulai terjadi pada Jumat (17/7) dan proses pemadaman berlangsung selama beberapa hari. Api akhirnya berhasil dipadamkan pada Senin (20/7) sekitar pukul 20.10 WIB.
Meskipun kebakaran telah berhasil dipadamkan, petugas tetap melakukan pemantauan di lokasi untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api. Kondisi lahan yang kering menjadi salah satu faktor yang membuat potensi kebakaran susulan tetap perlu diwaspadai.
Di Kalimantan Selatan, karhutla dilaporkan terjadi di Kabupaten Tapin dan Kabupaten Hulu Sungai Selatan pada Senin (20/7).
Di Kabupaten Tapin, kebakaran menghanguskan sekitar 3,1 hektare lahan semak belukar yang tersebar di sejumlah wilayah. Lokasi terdampak antara lain Kelurahan Raya Belanti di Kecamatan Binuang, Kelurahan Bitahan di Kecamatan Lokpaikat, serta Kelurahan Bungur di Kecamatan Bungur.
Sementara itu, di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, karhutla terjadi di Desa Baluti, Kecamatan Kandangan, dan Desa Ambutun, Kecamatan Telaga Langsat. Total luas lahan yang terbakar di dua lokasi tersebut mencapai sekitar 4,33 hektare.
Kedua kejadian di Kalimantan Selatan berhasil ditangani oleh tim gabungan. Api telah dipadamkan dan kondisi di lokasi dilaporkan terkendali.
Karhutla berikutnya terjadi di Kalimantan Timur, tepatnya di Jalan Kawasan RT 09, Kelurahan Jawa, Kecamatan Sanga Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Kebakaran yang terjadi pada Senin (20/7) sekitar pukul 12.20 WITA tersebut berdampak pada area seluas sekitar 2 hektare. Tim gabungan bergerak melakukan pemadaman dan berhasil mengendalikan api sehingga tidak meluas ke kawasan permukiman maupun perkebunan masyarakat.
Rangkaian kebakaran yang terjadi di lima provinsi tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla masih tinggi selama musim kemarau. Faktor cuaca kering, vegetasi yang mudah terbakar, serta aktivitas manusia dapat meningkatkan potensi munculnya titik api.
Berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam dua hingga tiga hari ke depan sebagian besar wilayah Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan bagian selatan, serta Sumatra bagian timur masih berpotensi mengalami cuaca cerah hingga berawan.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang mengalami hari tanpa hujan secara berturut-turut. Sementara itu, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih berpotensi terjadi di sebagian wilayah Sumatra, Kalimantan bagian utara, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
BNPB mengimbau pemerintah daerah untuk meningkatkan patroli terpadu di kawasan yang rawan karhutla. Deteksi dini titik panas juga perlu dioptimalkan agar setiap potensi kebakaran dapat segera ditangani sebelum meluas.
Kesiapsiagaan personel dan peralatan pemadaman juga dinilai penting untuk mempercepat respons di lapangan. Penanganan sejak dini dapat mencegah api menjalar ke wilayah yang lebih luas dan mengurangi risiko terhadap masyarakat serta lingkungan.
BNPB turut mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Warga juga diminta tidak menyalakan api sembarangan di kawasan hutan maupun lahan yang memiliki vegetasi kering dan mudah terbakar.
Apabila menemukan titik api, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada aparat atau pemerintah setempat. Laporan yang cepat dapat membantu petugas melakukan penanganan sebelum kebakaran berkembang semakin besar.
BNPB bersama BPBD, kementerian, lembaga, aparat keamanan, dan unsur terkait lainnya terus melakukan koordinasi untuk memantau perkembangan situasi karhutla di berbagai wilayah.
Di tengah kondisi kemarau, kewaspadaan masyarakat menjadi salah satu kunci utama dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan. Upaya pencegahan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah dan petugas pemadam, tetapi membutuhkan partisipasi aktif seluruh masyarakat.
Dengan memperkuat patroli, meningkatkan deteksi dini, mempercepat respons pemadaman, serta menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar, risiko karhutla diharapkan dapat ditekan.
Sinergi pemerintah, aparat, relawan, dunia usaha, dan masyarakat menjadi benteng penting untuk melindungi hutan dan lahan Indonesia dari ancaman kebakaran sekaligus menjaga keselamatan masyarakat di wilayah rawan bencana.
