Inovasi Warga Cirebon, Aryanto Misel Ciptakan APAR dari Kulit Singkong

0
1787880093380-1

Sorotan Publik — Aryanto Misel, warga Lemahabang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, mengembangkan inovasi alat pemadam api ringan (APAR) berbahan dasar organik dari olahan kulit singkong.

Inovasi tersebut mulai dikembangkan sejak 2003 dan berawal dari keprihatinannya terhadap peristiwa kebakaran di kawasan padat penduduk Jakarta. Dari pengalaman tersebut, Aryanto kemudian melakukan penelitian terhadap berbagai bahan hingga menemukan kulit singkong sebagai salah satu material yang menurutnya berpotensi digunakan dalam produk pemadam api.

Berawal dari Kulit Singkong

Dalam pengembangannya, Aryanto menyebut kulit singkong memiliki kandungan kalium sitrat yang dinilai dapat membantu proses pemadaman api.

Ia kemudian mengolah bahan tersebut menjadi material untuk APAR dengan konsep yang lebih ramah lingkungan dan diharapkan lebih aman bagi kesehatan dibandingkan bahan pemadam tertentu.

Inovasi ini menarik perhatian karena memanfaatkan limbah pertanian yang selama ini relatif kurang dimanfaatkan. Kulit singkong yang biasanya menjadi limbah diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Hadir dalam Dua Model

Produk yang dikembangkan Aryanto tersedia dalam dua model, yakni berbentuk tabung dan bola.

Model tabung memiliki berat sekitar 1 kilogram dan penggunaannya dilakukan seperti APAR pada umumnya. Produk tersebut disebut dipasarkan dengan harga sekitar Rp150 ribu.

Sementara itu, model bola dibanderol sekitar Rp225 ribu dan penggunaannya dilakukan dengan cara dilemparkan ke sumber api.

Konsep berbentuk bola tersebut menjadi salah satu keunikan inovasi karena memungkinkan pengguna menjauh dari titik kebakaran ketika berupaya melakukan pemadaman.

Diklaim Dilirik hingga Jepang

Aryanto menyebut inovasi yang dikembangkannya sempat mengalami kesulitan untuk mendapatkan pengakuan di dalam negeri. Ia bahkan menyatakan produk tersebut kini telah dipatenkan oleh Jepang.

Klaim mengenai status paten tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan dokumen paten resmi dan data lembaga terkait agar dapat diketahui secara pasti ruang lingkup, pemegang hak serta status perlindungan hukumnya.

Selain fungsi pemadaman, residu dari material yang digunakan dalam produk tersebut juga disebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.

Jika klaim tersebut terbukti melalui pengujian, pemanfaatan kulit singkong sebagai bahan APAR berpotensi menghadirkan konsep ekonomi sirkular, yakni mengubah limbah menjadi produk bernilai guna dan kemudian memanfaatkan kembali residunya.

Tetap Membutuhkan Pengujian Keselamatan

Meski memiliki konsep menarik, inovasi berbasis serbuk kulit singkong tetap membutuhkan pengujian ilmiah, sertifikasi dan standar keselamatan yang ketat sebelum dapat digunakan secara luas sebagai perangkat pemadam kebakaran.

Pengujian diperlukan untuk memastikan kemampuan pemadaman, stabilitas formulasi, keamanan penyimpanan, efektivitas pada berbagai kelas kebakaran serta dampaknya terhadap pengguna dan lingkungan.

Penggunaan material berbentuk serbuk juga membutuhkan perhatian khusus terhadap potensi bahaya debu yang mudah terbakar apabila konsentrasi, ukuran partikel, sumber penyalaan dan kondisi lingkungan berada pada kombinasi tertentu.

Karena itu, klaim bahwa produk lebih aman atau ramah lingkungan sebaiknya didasarkan pada hasil pengujian dan sertifikasi yang dapat diverifikasi, bukan hanya berdasarkan bahan dasarnya.

Dari Limbah Menjadi Inovasi

Terlepas dari berbagai aspek teknis yang masih perlu diuji, upaya Aryanto Misel memanfaatkan kulit singkong sebagai bahan inovasi menunjukkan potensi pemanfaatan limbah pertanian untuk menghasilkan produk bernilai tambah.

Perjalanan pengembangan yang disebut telah berlangsung sejak 2003 juga memperlihatkan bagaimana rasa ingin tahu terhadap persoalan kebakaran dapat berkembang menjadi eksperimen dan inovasi.

Jika aspek efektivitas, keamanan, sertifikasi dan legalitasnya dapat dibuktikan melalui pengujian yang memenuhi standar, inovasi semacam ini berpotensi menjadi contoh pemanfaatan bahan lokal dalam pengembangan teknologi yang lebih berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *