ILC atau Warung Kopi Ber-AC? Ketika Debat Publik Ramai Retorika, tetapi Rakyat Tetap Menunggu Solusi

0
1788504814067

Indonesia Lawyers Club (ILC) selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu ruang diskusi publik yang menghadirkan berbagai tokoh untuk membahas persoalan hukum, politik, dan isu nasional. Namun, ada pertanyaan yang layak diajukan secara kritis: apakah debat publik benar-benar menghasilkan solusi, atau justru lebih sering berhenti sebagai pertunjukan retorika?

Pertanyaan itu semakin relevan ketika masyarakat menyaksikan perdebatan panjang mengenai persoalan bangsa, tetapi persoalan yang dibahas tetap berlarut-larut setelah kamera dimatikan.

Jujur saja, jika dilihat dari sisi tertentu, acara debat elite kadang terasa seperti tongkrongan warung kopi yang dipindahkan ke studio televisi. Bedanya, ruangannya ber-AC, sebagian peserta mengenakan jas, dan istilah yang digunakan jauh lebih akademis.

Tetapi substansinya bisa saja sama: masing-masing pihak berbicara, mempertahankan pendapat, membantah lawan, kemudian perdebatan selesai tanpa keputusan yang bisa langsung dirasakan masyarakat.

Ini tentu bukan berarti seluruh diskusi di ILC tidak memiliki nilai. Debat publik tetap penting sebagai ruang pertukaran gagasan. Persoalannya adalah apa yang terjadi setelah debat selesai?

Ketika Retorika Lebih Menonjol daripada Solusi

Debat publik memang membutuhkan argumentasi. Bahkan dalam negara demokrasi, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar.

Masalah muncul ketika kemampuan berbicara justru menjadi tujuan utama.

Istilah hukum yang rumit, argumentasi panjang, saling potong pembicaraan, hingga perdebatan emosional bisa membuat sebuah acara terlihat sangat serius. Namun bagi masyarakat yang sedang menghadapi persoalan nyata, pertanyaan akhirnya tetap sederhana:

Lalu solusinya apa?

Rakyat tidak hidup dari kemenangan argumentasi di layar televisi.

Pedagang membutuhkan kepastian usaha. Buruh membutuhkan pekerjaan dan upah yang layak. Petani membutuhkan harga yang adil. Masyarakat miskin membutuhkan akses terhadap kebutuhan dasar. Korban kejahatan membutuhkan keadilan.

Mereka tidak membutuhkan siapa yang paling pandai berbicara selama berjam-jam.

Mereka membutuhkan perubahan yang bisa dirasakan.

Karena itu, ukuran keberhasilan forum publik seharusnya tidak berhenti pada seberapa panas perdebatannya, seberapa viral potongan videonya, atau siapa yang berhasil membuat lawannya terdiam.

Ukuran sebenarnya adalah: apakah ada gagasan yang dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan nyata?

Jangan Jadikan Rakyat Sekadar Figuran

Kritik yang lebih serius menyangkut posisi masyarakat akar rumput dalam forum-forum diskusi elite.

Ketika sebuah persoalan menyangkut kemiskinan, konflik agraria, pengangguran, korupsi, ketidakadilan hukum, atau dampak kebijakan pemerintah, suara orang yang mengalami langsung persoalan tersebut seharusnya bukan sekadar pelengkap.

Masyarakat yang menjadi korban seharusnya mendapatkan ruang untuk menjelaskan realitas yang tidak selalu terlihat dari balik meja konferensi.

Seorang pejabat bisa berbicara tentang angka kemiskinan.

Seorang akademisi bisa menjelaskan teori kebijakan.

Seorang pengacara bisa menguraikan pasal demi pasal.

Namun orang yang kehilangan pekerjaan, kehilangan tanah, kehilangan rumah, atau menjadi korban ketidakadilan memiliki sesuatu yang tidak selalu bisa dijelaskan oleh teori: pengalaman langsung.

Karena itu, partisipasi masyarakat tidak boleh sekadar dijadikan dekorasi agar sebuah acara terlihat memiliki keberpihakan kepada rakyat.

Jika suara rakyat hanya diberi beberapa menit sementara para elite mendapatkan panggung jauh lebih panjang untuk berdebat, maka publik layak mempertanyakan apakah forum tersebut benar-benar sedang mendengarkan rakyat atau sekadar sedang berbicara tentang rakyat.

Demokrasi Tidak Boleh Berhenti di Studio

Ruang debat publik memiliki fungsi penting dalam demokrasi. Media dapat mempertemukan pihak yang berbeda, membuka persoalan kepada masyarakat, dan mendorong transparansi.

Tetapi televisi bukan ruang eksekusi kebijakan.

Studio hanya tempat berbicara.

Perubahan sesungguhnya terjadi ketika gagasan diterjemahkan menjadi keputusan, aturan, pengawasan, anggaran, penegakan hukum, dan tindakan nyata.

Karena itu, jangan sampai demokrasi berubah menjadi pertunjukan: kamera menyala, semua orang berbicara, perdebatan memanas, potongan video menjadi viral, kemudian masyarakat kembali menghadapi persoalan yang sama keesokan harinya.

Jika sebuah forum publik hanya menghasilkan siapa yang menang debat, maka yang menang mungkin adalah tontonan.

Tetapi jika forum tersebut menghasilkan gagasan yang bisa dikawal menjadi kebijakan, maka yang menang adalah masyarakat.

Rakyat Tidak Butuh Pemenang Debat, Rakyat Butuh Jalan Keluar

Inilah kritik paling penting.

Tidak ada masalah dengan perdebatan. Tidak ada masalah dengan perbedaan pandangan. Tidak ada masalah dengan kritik tajam.

Yang menjadi masalah adalah ketika semua itu tidak pernah sampai pada tahap penyelesaian.

Indonesia terlalu besar untuk terus-menerus disuguhi pertengkaran tanpa tindak lanjut.

Bangsa ini membutuhkan ruang diskusi yang bukan hanya pintar menjelaskan masalah, tetapi juga berani merumuskan jalan keluar.

Bukan sekadar siapa yang paling keras.

Bukan siapa yang paling viral.

Bukan siapa yang paling berhasil mempermalukan lawan.

Tetapi siapa yang membawa solusi paling masuk akal dan siapa yang bersedia mengawal solusi tersebut sampai benar-benar bekerja.

Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan panggung yang membuat para elite terlihat paling pintar.

Rakyat membutuhkan ruang publik yang membuat suara mereka benar-benar terdengar dan persoalan mereka benar-benar diselesaikan.

Jika debat hanya menghasilkan tepuk tangan, maka ia hanyalah tontonan.

Tetapi jika debat mampu melahirkan keputusan yang memperbaiki kehidupan masyarakat, barulah ia menjadi bagian penting dari demokrasi.

Sebab negara tidak dibangun dari siapa yang paling hebat memenangkan perdebatan.

Negara dibangun dari keberanian mengubah kata-kata menjadi tindakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *