Harga Minyak Catat Penurunan Kuartalan Terbesar Sejak 2020, Brent dan WTI Melemah

0
IMG-20260701-WA0045

SOROTAN PUBLIK – Harga minyak mentah dunia mencatat penurunan kuartalan terbesar sejak awal pandemi COVID-19 pada 2020. Pelemahan ini dipengaruhi oleh membaiknya sentimen pasar terhadap pasokan energi global serta meredanya kekhawatiran gangguan distribusi minyak di kawasan Timur Tengah.

Pada perdagangan akhir kuartal II 2026, minyak mentah Brent untuk kontrak September diperdagangkan di kisaran US$74 per barel, sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar US$70 per barel.

Secara kuartalan, harga Brent dilaporkan turun sekitar 38 persen, sementara WTI melemah sekitar 29 persen. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar sejak gejolak pasar energi pada awal pandemi COVID-19.

Selain itu, sepanjang Juni 2026 harga minyak juga mencatat pelemahan signifikan. Kondisi ini dipengaruhi oleh meningkatnya optimisme terhadap stabilitas jalur pelayaran internasional, prospek bertambahnya pasokan minyak, serta lemahnya permintaan dari sejumlah negara konsumen utama.

Pelaku pasar juga mencermati perkembangan diplomasi di Timur Tengah yang dinilai dapat mengurangi risiko gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz. Membaiknya arus pelayaran di kawasan tersebut turut memberikan sentimen positif terhadap pasar minyak global.

Di sisi lain, sejumlah lembaga keuangan internasional mulai merevisi proyeksi harga minyak dalam beberapa kuartal ke depan. Beberapa analis memperkirakan pasar berpotensi menghadapi kondisi kelebihan pasokan apabila produksi tetap meningkat sementara pertumbuhan permintaan berjalan lebih lambat.

Meski demikian, analis mengingatkan bahwa pasar energi global masih dibayangi berbagai faktor ketidakpastian, termasuk dinamika geopolitik di Timur Tengah, kebijakan produksi negara-negara pengekspor minyak, serta prospek pertumbuhan ekonomi dunia yang dapat memengaruhi permintaan energi.

Dengan kondisi tersebut, pergerakan harga minyak dalam beberapa bulan mendatang diperkirakan masih akan berlangsung fluktuatif seiring perkembangan situasi geopolitik dan fundamental pasar energi global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *