Hampir Lima Tahun Didemo, Kini Listyo Sigit Siap Pimpin Demo Jika Desk Ketenagakerjaan Dibubarkan
JAKARTA — Pernyataan tak biasa disampaikan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo di hadapan para buruh. Ia berseloroh akan ikut memimpin aksi demonstrasi apabila program Desk Ketenagakerjaan Polri dihentikan oleh Kapolri berikutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Sigit saat meresmikan sekretariat bersama Koalisi Besar Perjuangan Buruh Indonesia (KBPBI) di Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (24/7/2026).
“Kalau tidak melanjutkan program yang dilaksanakan oleh Desk Ketenagakerjaan, mantan Kapolri yang akan memimpin di depan untuk demo! Setuju?” ujar Sigit, sebagaimana diberitakan sejumlah media.
Ucapan tersebut disambut respons meriah dari para buruh. Meski disampaikan dengan nada berseloroh, pesan Sigit cukup jelas, yakni meminta agar Desk Ketenagakerjaan tetap dilanjutkan meskipun terjadi pergantian kepemimpinan di tubuh Polri.
Desk Ketenagakerjaan Tangani Ratusan Perkara
Desk Ketenagakerjaan merupakan salah satu program Polri yang diarahkan untuk menangani persoalan hubungan industrial dan memberikan pelayanan kepada pekerja.
Dalam keterangannya, Polri menyebut desk tersebut telah menangani 291 perkara ketenagakerjaan dan memfasilitasi 4.505 pekerja untuk memperoleh status sebagai pegawai tetap.
Desk tersebut juga terlibat dalam penyelesaian sejumlah sengketa hubungan industrial. Salah satunya perkara di PT Amos Indonesia yang menghasilkan kesepakatan pembayaran kompensasi sebesar Rp12,7 miliar.
Sigit meminta Desk Ketenagakerjaan terus meningkatkan pelayanan, mulai dari menerima pengaduan, memberikan pendampingan, hingga memfasilitasi mediasi antara pekerja dan perusahaan.
Menurutnya, keberadaan desk tersebut merupakan bagian dari pelayanan Polri kepada masyarakat, khususnya pekerja.
“Desk Ketenagakerjaan harus terus bekerja siapa pun Kapolrinya,” tegas Sigit.
Dari Pengamanan Demo hingga Berjanji Ikut Demo
Hubungan Sigit dengan kelompok buruh disebut telah terbangun sejak dirinya menjabat sebagai Kapolda Banten. Dalam berbagai kesempatan, ia juga menyampaikan komitmennya untuk memperjuangkan perlindungan dan kesejahteraan pekerja.
Saat berbicara di hadapan buruh, Sigit bahkan mengenang pengalamannya selama hampir lima tahun memimpin Polri yang kerap dihadapkan dengan aksi demonstrasi.
“Hampir lima tahun saya ini didemo terus. Jadi gantian nanti saya mau demo,” kata Sigit dalam kesempatan tersebut.
Ia juga menyatakan bahwa setelah tidak lagi menjabat sebagai Kapolri, dirinya tetap ingin berkontribusi dalam perjuangan buruh. Sigit mengatakan ikatannya dengan kelompok pekerja semakin kuat dan ia akan terus berada di depan untuk memperjuangkan hak serta kesejahteraan buruh.
Pesan untuk Kapolri Berikutnya
Pernyataan mengenai kemungkinan dirinya ikut berdemo juga muncul ketika masa depan Desk Ketenagakerjaan menjadi bagian dari pembicaraan mengenai keberlanjutan program Polri.
Sigit berharap program tersebut tidak bergantung pada siapa yang nantinya menjabat sebagai Kapolri. Menurutnya, pelayanan dan perlindungan terhadap pekerja harus tetap berjalan sebagai bagian dari tugas kepolisian.
Di sisi lain, isu mengenai kemungkinan pergantian Kapolri memang sempat menjadi perhatian publik. Namun, berbagai nama yang beredar sebagai calon pengganti masih berada pada ranah spekulasi dan belum dapat dianggap sebagai keputusan resmi.
Karena itu, pernyataan Sigit mengenai “mantan Kapolri” yang akan memimpin demo lebih tepat dipahami sebagai penegasan sekaligus gurauan politik-komunikatif agar program Desk Ketenagakerjaan tidak dihentikan.
Bagi kelompok buruh, keberlanjutan program tersebut kini menjadi salah satu isu yang ikut mendapat perhatian. Sementara bagi Polri, tantangannya adalah memastikan Desk Ketenagakerjaan tetap berjalan secara profesional, transparan, dan sesuai kewenangan hukum.
Dengan capaian ratusan perkara yang ditangani dan ribuan pekerja yang difasilitasi, keberadaan desk tersebut menjadi bagian dari upaya Polri membangun pendekatan yang lebih dialogis dalam menangani persoalan hubungan industrial.
