Guru Ngaji di Buton Ditangkap, Diduga Cabuli 9 Santri yang Mayoritas Masih SD

0
1787393902529-1

BUTON, SULAWESI TENGGARA — Seorang guru ngaji berinisial FS (32), warga Desa Ambuau Indah, Kecamatan Lasalimu Selatan, Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, ditangkap polisi atas dugaan tindak pidana pencabulan terhadap sembilan orang santrinya.

Mayoritas korban disebut masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), sementara satu korban lainnya merupakan siswa kelas satu sekolah menengah pertama (SMP).

Penangkapan FS dilakukan oleh Satreskrim Polres Buton setelah polisi menerima laporan dari orang tua para korban. Kasus tersebut kemudian memicu perhatian warga yang mendatangi Polsek Ambuau untuk meminta proses hukum terhadap terduga pelaku.

Diduga Berlangsung Februari hingga Mei 2025

Berdasarkan pemeriksaan awal kepolisian, dugaan pencabulan tersebut disebut berlangsung dalam rentang Februari hingga Mei 2025.

Polisi menduga FS menggunakan dua modus untuk mendekati para korban. Modus pertama dilakukan dengan mengajak korban berboncengan menggunakan sepeda motor. Dalam perjalanan tersebut, pelaku diduga melakukan tindakan asusila terhadap korban.

Modus kedua diduga terjadi di lingkungan mushala setelah kegiatan mengaji selesai.

Menurut keterangan yang disampaikan dalam penyelidikan awal, pelaku diduga mengajak para santri bermain permainan setelah kegiatan mengaji. Ketika para korban diminta menutup mata, pelaku diduga melakukan tindakan seksual terhadap salah satu korban.

Polisi kini menangani kasus tersebut untuk mengungkap seluruh rangkaian kejadian dan memastikan proses hukum terhadap terduga pelaku berjalan sesuai ketentuan.

Terungkap Setelah Korban Bercerita kepada Orang Tua

Kasus ini akhirnya diketahui setelah para korban berani menceritakan pengalaman yang mereka alami kepada orang tua masing-masing.

Laporan tersebut kemudian menjadi dasar bagi kepolisian untuk melakukan penyelidikan hingga menangkap FS.

Situasi di sekitar Polsek Ambuau sempat ramai setelah keluarga korban dan masyarakat mendatangi kantor polisi. Aparat melakukan pengamanan untuk mencegah situasi berkembang dan memastikan proses penanganan terduga pelaku tetap berjalan.

Kasus tersebut menjadi perhatian serius karena para korban merupakan anak-anak yang seharusnya mendapatkan perlindungan, keamanan, dan lingkungan pendidikan agama yang aman.

Catatan: seluruh korban dalam kasus ini merupakan anak dan identitas mereka tidak disebutkan demi perlindungan korban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *