Gerindra Respons Keras BEM UI soal “Penjajahan Negara”: Sugiat Santoso Pertanyakan Fakta dan Data

0
1787394204865-1

JAKARTA — Juru Bicara Partai Gerindra Sugiat Santoso merespons keras pernyataan BEM Universitas Indonesia (BEM UI) yang menyebut adanya “penjajahan negara atas rakyat sendiri”.

Sugiat mempertanyakan landasan fakta dan data yang digunakan mahasiswa hingga menghasilkan kesimpulan tersebut. Menurutnya, tuduhan serius terhadap pemerintah harus disertai argumentasi yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Isu yang pertama itu hentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri. Iya, apa fakta, apa data yang sampai mereka membuat kesimpulan seperti itu,” kata Sugiat, dikutip Jumat (21/8/2026).

Gerindra Nilai Istilah “Penjajahan” Terlalu Serius

Sugiat menilai penggunaan istilah “penjajahan negara” bukan lagi sekadar bentuk kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Menurutnya, istilah tersebut dapat dimaknai sebagai tuduhan bahwa negara atau pemerintah bertindak seperti penjajah terhadap rakyatnya sendiri.

“Kalau itu kan poin satu seperti menuduh negara, menuduh pemerintah, itu negara penjajah,” tuturnya.

Ia menegaskan Partai Gerindra tidak sepakat dengan kesimpulan yang disampaikan dalam aksi mahasiswa tersebut. Sugiat juga mengatakan Presiden Prabowo Subianto tidak melihat pemerintahan yang dipimpinnya berada dalam posisi menjajah rakyat.

“Ya tidak. Ya pasti kami tidak merasa seperti itu,” tegas Sugiat.

Sugiat juga menyatakan keyakinannya bahwa mayoritas masyarakat tidak merasakan kondisi seperti yang digambarkan dalam tuntutan mahasiswa.

“Dan mayoritas rakyat juga tidak merasa seperti itu. Saya nggak tahu dari mana mereka bisa mengambil kesimpulan seperti itu,” ujarnya.

BEM UI Gelar Demonstrasi dan Bawa Delapan Tuntutan

Sebelumnya, BEM UI bersama Front Mahasiswa Nasional menggelar demonstrasi pada Selasa (18/8/2026). Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa delapan tuntutan sekaligus berbagai poster yang berisi kritik terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Massa mahasiswa dilaporkan tidak berhasil mencapai Bundaran Hotel Indonesia karena barisan aparat menghadang mereka sekitar satu kilometer dari lokasi tujuan.

Polisi beberapa kali meminta massa tidak memaksakan diri untuk maju. Namun, mahasiswa tetap bergerak sambil menyampaikan orasi dan meneriakkan sejumlah yel-yel sebagai bentuk protes.

Perbedaan pandangan antara mahasiswa dan pemerintah maupun partai pendukung pemerintah tersebut kembali menunjukkan dinamika politik serta ruang kritik publik di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Di satu sisi, mahasiswa menyampaikan kritik dan tuntutan terhadap kebijakan pemerintah. Di sisi lain, Partai Gerindra meminta setiap tuduhan terhadap pemerintah didukung fakta, data, dan argumentasi yang dapat diuji secara terbuka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *