Dulu Gus Ipul dan Gus Nusron Jadi “Pendekar Muktamar” Gus Yahya, Kini GY Tanpa Timses?

0
1787551269384

JAKARTA — Konstelasi politik internal Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Muktamar ke-35 kembali menarik perhatian. Salah satu pertanyaan yang muncul adalah bagaimana strategi Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dalam menghadapi kontestasi mendatang.

Situasi tersebut berbeda dengan Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021. Ketika itu, Gus Yahya maju sebagai calon ketua umum dan mendapat dukungan dari sejumlah tokoh yang berperan dalam konsolidasi pemenangan.

Dua nama yang kemudian dikenal dekat dengan proses tersebut adalah Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Nusron Wahid. Gus Yahya bahkan pernah menyebut keduanya sebagai “Pendekar Muktamar” dalam konteks perjuangan memenangkan kontestasi kepemimpinan PBNU.

Dari Penantang Menjadi Petahana

Muktamar ke-34 menjadi momentum penting dalam perjalanan politik organisasi Gus Yahya. Ia berhasil memenangkan pemilihan Ketua Umum PBNU setelah melalui persaingan dengan sejumlah kandidat.

Lima tahun kemudian, posisi Gus Yahya telah berubah. Ia bukan lagi penantang yang harus membangun dukungan dari awal, melainkan petahana yang telah memimpin PBNU selama satu periode.

Perubahan posisi tersebut tentu membawa konsekuensi berbeda dalam strategi menghadapi Muktamar ke-35.

Sebagai petahana, Gus Yahya memiliki pengalaman memimpin organisasi, jaringan pengurus, hubungan dengan berbagai tokoh, serta rekam jejak selama menjalankan kepemimpinan PBNU.

Karena itu, muncul pertanyaan apakah Gus Yahya masih membutuhkan tim pemenangan dengan pola seperti yang terlihat pada Muktamar 2021.

Timses Tidak Selalu Berada di Struktur Resmi

Pertanyaan mengenai ada atau tidaknya tim sukses Gus Yahya menjelang Muktamar ke-35 juga perlu dilihat secara lebih luas.

Dalam kontestasi organisasi, dukungan tidak selalu bergerak melalui struktur tim pemenangan yang diumumkan secara terbuka. Konsolidasi dapat berlangsung melalui jaringan tokoh, pesantren, pengurus wilayah dan cabang, maupun relasi personal antarkader.

Karena itu, belum munculnya struktur tim sukses secara terbuka tidak otomatis berarti seorang kandidat berjalan tanpa dukungan.

Bagi Gus Yahya, tantangan utamanya bukan sekadar membentuk tim pemenangan, tetapi mengukur sejauh mana jaringan yang terbentuk selama satu periode kepemimpinannya mampu memberikan dukungan untuk mempertahankan posisi sebagai Ketua Umum PBNU.

Muktamar ke-35 Jadi Ujian Konsolidasi

Muktamar ke-35 nantinya akan menjadi momentum untuk melihat seberapa kuat konsolidasi internal NU setelah lima tahun kepemimpinan Gus Yahya.

Jika pada 2021 Gus Yahya harus membangun kekuatan untuk merebut kepemimpinan PBNU, kini tantangannya berbeda. Sebagai petahana, ia harus mempertanggungjawabkan perjalanan kepemimpinannya sekaligus memperoleh kembali kepercayaan dari struktur organisasi NU.

Dengan demikian, pertanyaan “apakah Gus Yahya tanpa timses?” belum dapat dijawab hanya berdasarkan ada atau tidaknya pengumuman tim pemenangan.

Yang lebih penting adalah bagaimana jaringan dukungan bekerja di lapangan dan sejauh mana pengaruhnya terhadap arah Muktamar ke-35.

Dulu Gus Yahya berjuang merebut kursi Ketua Umum PBNU dengan dukungan para “Pendekar Muktamar”. Kini, setelah satu periode memimpin NU, pertarungannya bukan lagi sekadar merebut kepemimpinan, melainkan mempertahankan kepercayaan.

Muktamar ke-35 pada akhirnya akan menjadi panggung untuk menguji kekuatan konsolidasi tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *