DPR RI Jadi Tuan Rumah The 17th Meeting of AIPA Caucus, Perkuat Sentralitas ASEAN Hadapi Tantangan Global
JAKARTA — Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) menjadi tuan rumah The 17th Meeting of the ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) Caucus yang digelar secara hybrid pada Rabu, 22 Juli 2026.
Pertemuan tersebut menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi parlemen sekaligus mendorong peran strategis ASEAN dalam menghadapi dinamika geopolitik, ekonomi, dan berbagai tantangan global yang semakin kompleks.
Mengusung tema “The Role of Parliament in Strengthening ASEAN Centrality in Navigating Complex Global Challenges”, forum AIPA Caucus menekankan pentingnya peran parlemen dalam menjaga sentralitas ASEAN dan memperkuat kerja sama regional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Sentralitas ASEAN dinilai semakin penting ketika kawasan Asia Tenggara menghadapi dinamika persaingan geopolitik dan meningkatnya pengaruh kekuatan besar. Dalam kondisi tersebut, parlemen negara-negara anggota ASEAN memiliki peran strategis untuk memastikan kepentingan masyarakat kawasan tetap menjadi bagian utama dalam setiap kebijakan regional.
Forum tersebut membahas sejumlah isu strategis melalui dua sesi utama. Sesi pertama berfokus pada perdamaian inklusif dan peran parlemen dalam memperkuat tata kelola perdamaian di kawasan.
Peringatan 50 tahun Treaty of Amity and Cooperation (TAC) menjadi salah satu momentum refleksi dalam pembahasan tersebut. Komitmen terhadap penyelesaian konflik secara damai kembali ditegaskan sebagai salah satu fondasi penting dalam menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara.
Selain itu, pemberdayaan perempuan dan pemuda dalam proses perdamaian turut menjadi perhatian. Keterlibatan kedua kelompok tersebut dinilai penting untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan harmonis.
Sesi kedua membahas isu perubahan iklim serta kontribusi parlemen dalam memperkuat kebijakan menghadapi ancaman lingkungan. Para peserta mengkaji pentingnya penyelarasan kebijakan nasional dengan agenda iklim ASEAN, sekaligus mendorong pengembangan ekonomi hijau dan ekonomi biru.
Perubahan iklim menjadi tantangan serius bagi Asia Tenggara. Sebagai kawasan yang memiliki banyak negara kepulauan dan wilayah pesisir, ASEAN menghadapi berbagai risiko, mulai dari kenaikan permukaan air laut, cuaca ekstrem, hingga gangguan terhadap sektor pertanian dan perikanan.
Karena itu, diperlukan respons kolektif dan kebijakan yang terkoordinasi antarnegara. Parlemen memiliki peran penting melalui fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan untuk memastikan komitmen terhadap keberlanjutan dapat diterjemahkan menjadi kebijakan nyata.
Pertemuan AIPA Caucus tersebut turut melibatkan berbagai lembaga dan pemangku kepentingan. Di antaranya Sekretariat AIPA, ASEAN Institute for Peace and Reconciliation (ASEAN-IPR), Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), ISEAS–Yusof Ishak Institute, World Resources Institute (WRI) Indonesia, serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Keterlibatan berbagai institusi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan yang dihadapi ASEAN membutuhkan pendekatan lintas sektor. Sinergi antara parlemen, pemerintah, lembaga riset, dan organisasi terkait diperlukan untuk menghasilkan rekomendasi kebijakan yang komprehensif dan dapat diterapkan.
Bagi Indonesia, penyelenggaraan The 17th Meeting of the AIPA Caucus menjadi kesempatan strategis untuk memperkuat diplomasi parlemen dan menegaskan peran Indonesia sebagai kekuatan menengah yang konstruktif di kawasan ASEAN.
Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam mendorong dialog dan menjembatani perbedaan di antara negara-negara anggota ASEAN. Melalui forum AIPA Caucus, Indonesia juga dapat mendorong agar berbagai resolusi AIPA tidak berhenti pada kesepakatan, tetapi dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata di tingkat nasional.
Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan pentingnya momentum tersebut bagi parlemen ASEAN untuk memperkuat sentralitas kawasan di tengah dinamika global yang semakin tidak menentu.
ASEAN diharapkan tetap menjadi poros utama dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan. Penguatan solidaritas antarnegara anggota menjadi penting agar ASEAN mampu menghadapi tekanan geopolitik tanpa kehilangan identitas dan kepentingan bersama.
Sementara itu, Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Syahrul Aidi Maazat yang juga bertindak sebagai Chairperson pertemuan menyatakan bahwa forum tersebut mencerminkan komitmen negara-negara ASEAN untuk mempertahankan sentralitas kawasan di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Rekomendasi yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi panduan bagi parlemen negara-negara anggota ASEAN dalam menjalankan fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan. Dengan demikian, kerja sama antarparlemen dapat memberikan kontribusi nyata terhadap penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi kawasan.
Penyelenggaraan The 17th Meeting of the AIPA Caucus juga memperkuat posisi Senayan sebagai salah satu pusat diplomasi parlemen di kawasan. Indonesia tidak hanya berperan sebagai tuan rumah, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mendorong agenda bersama yang berkaitan dengan perdamaian, perubahan iklim, pembangunan berkelanjutan, dan stabilitas regional.
Di tengah perubahan geopolitik yang berlangsung cepat, kekuatan ASEAN terletak pada kemampuan negara-negara anggotanya untuk menjaga persatuan, membangun konsensus, dan menyelesaikan persoalan melalui dialog.
Melalui diplomasi parlemen, Indonesia terus mendorong agar ASEAN tetap menjadi kawasan yang stabil, damai, inklusif, dan sejahtera. The 17th Meeting of the AIPA Caucus menjadi salah satu ruang penting untuk memperkuat komitmen tersebut sekaligus memastikan bahwa suara parlemen dan kepentingan masyarakat tetap menjadi bagian dari perjalanan ASEAN menghadapi tantangan global.
