Densus 88 Waspadai Radikalisme Digital, 247 Anak Terpapar Paham Ekstrem Jadi Alarm Nasional
Sorotan Publik — Ancaman radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan kini memasuki babak baru. Jika dahulu penyebaran paham ekstrem identik dengan pertemuan tertutup dan jaringan bawah tanah, kini ruang digital menjadi arena baru yang menyasar generasi muda. Media sosial, platform digital, hingga game online disebut menjadi medium yang semakin aktif dimanfaatkan untuk perekrutan dan penyebaran ideologi kekerasan.
Situasi tersebut menjadi perhatian utama dalam Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Tahun 2026 yang digelar Densus 88 AT Polri pada 18–20 Mei 2026. Forum strategis itu mengusung penguatan strategi kolaboratif dalam penanggulangan ekstremisme berbasis kekerasan dan terorisme di era digital. Rakernis diikuti sekitar 670 peserta dari berbagai unsur dan pemangku kepentingan keamanan nasional.
Data yang dipaparkan dalam Rakernis menjadi perhatian serius. Sepanjang 2026, tercatat 132 anak terpapar radikalisme dan 115 anak terpapar paham kekerasan yang telah diintervensi melalui kolaborasi bersama Polda, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan terkait. Sebagian kasus bahkan berkaitan dengan komunitas digital yang menunjukkan eskalasi menuju tindakan kekerasan.
Kapolri Listyo Sigit Prabowo memberikan apresiasi atas capaian Densus 88 dalam menjaga status zero terrorist attack selama hampir tiga tahun berturut-turut. Menurutnya, capaian tersebut bukan hanya mencerminkan keberhasilan pengamanan nasional, tetapi juga berdampak pada stabilitas negara, kepercayaan publik, hingga iklim investasi Indonesia.
Namun di balik capaian tersebut, Kapolri mengingatkan ancaman baru yang berkembang seiring pesatnya teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Pola radikalisasi kini dinilai semakin sulit dideteksi karena memanfaatkan algoritma, ruang siber, hingga pendekatan digital yang lebih adaptif. Densus 88 didorong memperkuat intelijen teknologi dan intelijen manusia untuk mengantisipasi transformasi ancaman yang bergerak cepat.
Pengamat keamanan menilai fenomena ini menjadi peringatan bahwa perang melawan terorisme saat ini bukan lagi semata soal pengamanan fisik. Pertarungan besar juga terjadi di layar ponsel, ruang percakapan digital, dan platform yang setiap hari diakses anak-anak Indonesia.
Di tengah tingginya penetrasi internet, penguatan literasi digital, pengawasan keluarga, pendidikan karakter, serta kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi benteng utama agar generasi muda tidak menjadi sasaran empuk penyebaran paham ekstrem berbasis kekerasan.
