BYD Batalkan Rencana Pabrik di Malaysia, Pilih Perkuat Manufaktur di Indonesia
JAKARTA — Produsen kendaraan listrik asal China, BYD, membatalkan rencana pembangunan pabrik mandiri di Tanjung Malim, Perak, Malaysia. Keputusan tersebut diumumkan setelah BYD lebih dahulu meresmikan fasilitas manufakturnya di Subang, Jawa Barat.
Managing Director BYD Malaysia Jacob Ma mengungkapkan keputusan tersebut dalam sesi taklimat media pada Kamis (10/9/2026) malam waktu setempat. Pernyataan itu kemudian dikutip Nikkei Asia pada Jumat (11/9/2026).
“Untuk meluruskan, fasilitas Tanjung Malim, Perak tidak akan dilanjutkan,” kata Jacob Ma.
Rencana pembangunan fasilitas di Malaysia sebelumnya disiapkan BYD sebagai bagian dari strategi memenuhi kebutuhan pasar kendaraan listrik setempat. Namun, perubahan kebijakan pemerintah Malaysia terkait kendaraan listrik impor ikut memengaruhi strategi investasi perusahaan.
Mulai 1 Juli 2026, Malaysia menerapkan ketentuan baru terhadap mobil listrik impor atau completely built up (CBU), termasuk batas nilai kendaraan minimal 200.000 ringgit atau sekitar Rp865,8 juta dan tenaga minimal 180 kW.
Kebijakan tersebut diberlakukan setelah masa pembebasan pajak untuk kendaraan listrik impor berakhir pada akhir 2025.
Persoalannya, sebagian kendaraan listrik BYD yang populer di pasar Malaysia memiliki harga di bawah batas yang ditentukan. Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu memiliki skema produksi atau perakitan lokal agar tetap dapat menawarkan kendaraan dengan harga yang kompetitif.
Alih-alih membangun pabrik sendiri dari awal, BYD kini memilih bekerja sama dengan mitra lokal untuk melakukan perakitan kendaraan secara penuh.
Keputusan tersebut diambil setelah rencana pembangunan fasilitas mandiri menghadapi sejumlah persyaratan pemerintah Malaysia, termasuk ketentuan terkait ekspor hasil produksi yang disebut mencapai hingga 80 persen.
BYD disebut masih memfinalisasi dokumen kerja sama dengan mitra lokal tersebut dan berencana mengumumkan detail kerja sama setelah proses tersebut selesai.
Indonesia Jadi Pilihan Manufaktur BYD
Berbeda dengan Malaysia, strategi BYD di Indonesia telah memasuki tahap operasional. Pabrik BYD di Subang, Jawa Barat, resmi beroperasi pada Kamis (3/9/2026).
Fasilitas tersebut berdiri di atas lahan sekitar 126 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp11,6 triliun. Pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi hingga 150.000 unit kendaraan per tahun.
Setelah fasilitas manufaktur di Indonesia mulai beroperasi, BYD juga memutuskan menghentikan aktivitas impor kendaraan completely built up (CBU) untuk pasar Indonesia.
Keputusan BYD memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu basis produksi kendaraan listrik di kawasan Asia Tenggara.
Besarnya pasar domestik Indonesia menjadi salah satu faktor penting yang membuat investasi manufaktur kendaraan listrik memiliki daya tarik. Selain itu, pengembangan ekosistem baterai dan kebijakan hilirisasi juga memberikan peluang bagi terbentuknya rantai industri kendaraan listrik dari hulu hingga hilir.
Masuknya investasi manufaktur seperti BYD juga memiliki arti lebih luas bagi perekonomian Indonesia. Produksi di dalam negeri berpotensi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kapasitas industri komponen, memperluas transfer teknologi, serta meningkatkan nilai tambah yang diperoleh Indonesia.
Perbandingan strategi BYD di Indonesia dan Malaysia sekaligus menunjukkan pentingnya kepastian regulasi, besarnya pasar, kesiapan ekosistem industri, serta kebijakan investasi dalam menarik produsen global.
Bagi Indonesia, keberadaan fasilitas produksi kendaraan listrik tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju Indonesia Emas 2045, sepanjang investasi tidak berhenti pada aktivitas perakitan, tetapi berkembang menjadi ekosistem industri dengan semakin banyak komponen, teknologi, riset, dan sumber daya manusia yang dikuasai di dalam negeri.
Dengan demikian, tantangan berikutnya bukan hanya mempertahankan investasi yang sudah masuk, tetapi memastikan Indonesia mampu memperoleh nilai tambah sebesar-besarnya dari perkembangan industri kendaraan listrik global.
