Rektor ITB Soroti Minimnya Dukungan APBN untuk Perguruan Tinggi, Pendanaan Pendidikan Tinggi Jadi Perhatian
JAKARTA – Pernyataan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Tatacipta Dirgantara, dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI kembali memunculkan perhatian terhadap kondisi pendanaan pendidikan tinggi di Indonesia. Dalam paparannya, Prof. Tatacipta mengungkapkan bahwa dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) terhadap operasional ITB pada tahun 2024 hanya mencapai sekitar 18 persen.
Sementara itu, sekitar 26 persen anggaran operasional berasal dari Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dibayarkan mahasiswa. Dengan komposisi tersebut, lebih dari separuh kebutuhan pembiayaan institusi, sekitar 56 persen, harus dipenuhi melalui berbagai sumber pendapatan lain, seperti kerja sama industri, kegiatan riset, layanan profesional, hingga pengembangan usaha institusi.
Dalam forum tersebut, Prof. Tatacipta juga membandingkan pola pendanaan perguruan tinggi di Indonesia dengan sejumlah negara lain. Menurutnya, pemerintah Malaysia masih memberikan dukungan sekitar 45 persen terhadap operasional perguruan tinggi, sedangkan di Tiongkok porsi pendanaan pemerintah dapat mencapai 70 hingga 80 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat perguruan tinggi di Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan karena harus menjaga kualitas pendidikan, meningkatkan penelitian, sekaligus mencari sumber pendapatan agar operasional kampus tetap berjalan.
Isu pendanaan perguruan tinggi selama ini memang menjadi perhatian berbagai kalangan. Meski Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan alokasi minimal 20 persen APBN untuk fungsi pendidikan, anggaran tersebut mencakup berbagai sektor, mulai dari pendidikan dasar dan menengah, transfer ke daerah, gaji tenaga pendidik, hingga berbagai program pendidikan lainnya. Akibatnya, porsi yang secara langsung dialokasikan untuk penguatan pendidikan tinggi dan riset menjadi relatif lebih terbatas.
Sejumlah pengamat menilai penguatan investasi pada pendidikan tinggi memiliki peran penting dalam meningkatkan daya saing bangsa. Perguruan tinggi dinilai bukan hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga menjadi pusat riset, inovasi, pengembangan teknologi, serta penciptaan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan pembangunan nasional.
Dalam beberapa negara yang berhasil memperkuat sektor teknologi dan industri, universitas menjadi salah satu motor utama pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi. Investasi yang konsisten terhadap pendidikan tinggi dinilai berkontribusi dalam melahirkan paten, teknologi baru, perusahaan berbasis inovasi, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pernyataan Rektor ITB tersebut pun menjadi pengingat mengenai pentingnya keberlanjutan dukungan terhadap pendidikan tinggi sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional. Berbagai pihak berharap pembahasan mengenai pendanaan perguruan tinggi dapat terus menjadi perhatian dalam penyusunan kebijakan pendidikan, sehingga kampus dapat lebih fokus menjalankan fungsi pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Di tengah target Indonesia menjadi negara maju dan meningkatkan daya saing global, penguatan ekosistem pendidikan tinggi dan riset dinilai menjadi salah satu investasi jangka panjang yang berperan penting dalam menciptakan inovasi, mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan, serta mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul untuk menghadapi tantangan masa depan.
