BGN Pelajari Sistem Makan Sekolah Jepang untuk Perkuat Program MBG

0
1790467705843-1

JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) terus memperkuat penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mempelajari praktik penyelenggaraan makan sekolah di Jepang.

Pembelajaran tersebut dilakukan melalui audiensi BGN bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) Indonesia pada Rabu (23/9/2026). BGN menggali pengalaman Jepang mulai dari tata kelola, penanganan makanan, hingga pembagian peran berbagai pihak dalam ekosistem makan sekolah.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, pembelajaran dengan JICA menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan dan menggali pengalaman negara lain dalam penyelenggaraan program makan bagi peserta didik.

Menurut Sudaryono, BGN tidak hanya mempelajari aspek penyediaan makanan, tetapi juga melihat keterlibatan sekolah, guru, kepala sekolah, siswa, hingga orang tua dalam mendukung keberlangsungan program.

Kerja sama pembelajaran antara Indonesia dan JICA dalam konteks program makan sekolah telah terbangun sejak 2024. Salah satu bentuknya dilakukan melalui pengiriman peserta pelatihan ke Jepang untuk mempelajari secara langsung penyelenggaraan program makan bagi siswa.

Salah satu model yang menjadi perhatian BGN adalah Central Kitchen. Dalam model tersebut, makanan diproduksi di dapur terpusat sebelum dibawa ke sekolah untuk kemudian didistribusikan kepada siswa.

Namun, BGN mencatat bahwa sistem di Jepang tidak hanya menggunakan Central Kitchen. Terdapat pula model makanan yang dimasak langsung di sekolah.

Variasi tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi BGN dalam melihat kemungkinan pengembangan model penyelenggaraan MBG yang sesuai dengan kondisi Indonesia.

Selain sistem penyediaan makanan, BGN juga mempelajari konsep shokuiku, yakni pendekatan pendidikan pangan dan gizi yang menghubungkan kegiatan makan dengan pengalaman belajar siswa. BGN dan JICA bahkan mengembangkan gagasan MBG-JICA Pilot untuk mengeksplorasi pendekatan tersebut dalam pelaksanaan MBG.

BGN menegaskan bahwa pengalaman Jepang tidak akan diterapkan secara mentah. Setiap praktik akan dikaji dan disesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik Indonesia.

Sudaryono juga menyatakan BGN terbuka mempelajari pengalaman dari berbagai negara lainnya, termasuk India dan Brasil. Menurutnya, pembelajaran dari berbagai sumber diperlukan untuk menemukan model yang dapat memperkuat pelaksanaan MBG di Indonesia.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya BGN menyempurnakan tata kelola MBG, termasuk dari sisi penyediaan makanan, distribusi, keamanan pangan, keterlibatan sekolah, serta pendidikan pangan dan gizi bagi peserta didik.

Dengan demikian, pembelajaran internasional yang dilakukan BGN diarahkan bukan sekadar meniru sistem negara lain, melainkan mengambil praktik yang relevan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan serta kondisi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *