Bawa 3 Helikopter Chinook untuk Padamkan Kebakaran, Mengapa Bantuan Jepang Malah Disambut Seremoni?

0
1789227917459

JAKARTA — Bayangkan situasinya. Kebakaran meluas, asap mengepung, dan kebutuhan utama di lapangan adalah tindakan cepat untuk menghentikan api.

Kemudian datang ratusan personel Japan Self-Defense Forces (JSDF) dengan tiga helikopter berat CH-47 Chinook untuk membantu operasi water bombing.

Mereka datang membawa kemampuan, personel, dan peralatan untuk bekerja menghadapi bencana.

Namun, yang terlihat dalam penyambutan justru suasana seremoni.

Ada marching band. Ada pejabat yang duduk di tenda. Bendera berkibar. Ada penyambutan dan pemasangan kain tradisional.

Lengkap.

Tinggal kurang potong tumpeng.

Di sinilah pertanyaan publik menjadi relevan: ketika bantuan internasional datang untuk menghadapi keadaan darurat, apakah yang paling dibutuhkan adalah seremoni penyambutan atau percepatan operasi di lapangan?

Api tidak mengenal protokol.

Asap tidak akan berhenti hanya karena pejabat sedang memberikan sambutan.

Kebakaran lahan juga tidak akan menunggu sampai acara penyambutan selesai.

Dalam situasi bencana, waktu adalah faktor yang sangat berharga. Setiap menit dapat menentukan seberapa luas api menyebar dan seberapa besar dampaknya terhadap masyarakat serta lingkungan.

Karena itu, ketika personel JSDF datang membawa helikopter CH-47 Chinook untuk membantu operasi pemadaman, semestinya prioritas utama adalah memastikan seluruh sumber daya tersebut dapat segera bekerja sesuai kebutuhan operasi.

Tidak ada yang salah dengan menyambut tamu.

Tidak ada yang salah dengan penghormatan kepada Jepang.

Tidak ada yang salah dengan marching band, bendera, ataupun penggunaan kain tradisional sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu negara.

Semua itu merupakan bagian dari budaya dan tata penghormatan.

Masalahnya adalah proporsi.

Dalam keadaan darurat, sense of urgency seharusnya mengalahkan sense of ceremony.

Kalau bantuan datang untuk operasi kemanusiaan, jangan sampai kesan yang muncul justru seolah-olah negara sedang lebih sibuk menyambut kedatangan bantuan daripada memastikan bantuan tersebut segera digunakan.

Tentu, sebuah seremoni tidak otomatis berarti operasi pemadaman dihentikan atau bantuan benar-benar dibuat tidak bekerja. Hal tersebut tetap perlu dilihat berdasarkan fakta dan prosedur operasi di lapangan.

Namun, secara komunikasi publik, gambar dan suasana seremoni di tengah kondisi kebakaran memang dapat menimbulkan pertanyaan.

Mengapa?

Karena masyarakat sedang melihat dua hal yang sangat kontras.

Di satu sisi, ada personel asing yang datang membawa kemampuan untuk menghadapi bencana.

Di sisi lain, ada suasana penyambutan yang terlihat seperti acara resmi.

Kontras itulah yang kemudian memunculkan kritik.

Dan kritik ini bukan ditujukan kepada Jepang.

Justru sebaliknya.

Kedatangan JSDF menunjukkan adanya kerja sama dan solidaritas dalam menghadapi bencana. Jepang datang membawa kemampuan dan personel untuk membantu Indonesia.

Yang perlu dikritisi adalah kebiasaan kita sendiri dalam menghadapi situasi darurat.

Kita sering kali terlalu mudah mengubah momentum kerja menjadi momentum seremoni.

Ada kamera, senyum.

Ada tamu, sambutan.

Ada pejabat, pidato.

Ada bantuan, seremoni.

Padahal dalam penanganan bencana, ukuran keberhasilan bukan seberapa meriah acara penyambutan.

Ukuran keberhasilannya jauh lebih sederhana.

Seberapa cepat api dapat dikendalikan.

Seberapa luas lahan dapat diselamatkan.

Seberapa banyak masyarakat dapat terlindungi dari dampak asap.

Dan seberapa cepat seluruh sumber daya yang tersedia dapat dikerahkan untuk bekerja.

Karena api tidak membutuhkan tepuk tangan.

Api membutuhkan tindakan.

Masyarakat tidak membutuhkan seremoni yang panjang ketika rumah, lahan, hutan, dan kesehatan mereka berada dalam ancaman.

Masyarakat membutuhkan negara yang bergerak cepat.

Bantuan internasional juga harus diperlakukan sebagai kekuatan operasional yang harus dimanfaatkan secara maksimal, bukan sekadar menjadi latar belakang acara penyambutan.

Sekali lagi, persoalannya bukan soal boleh atau tidak boleh ada seremoni.

Persoalannya adalah apakah seremoni tersebut ditempatkan pada waktu dan porsi yang tepat.

Dalam kondisi normal, seremoni tentu tidak menjadi persoalan.

Namun ketika keadaan darurat membutuhkan respons cepat, prinsipnya harus jelas:

KERJA DULU.

SEREMONI KEMUDIAN.

Jangan sampai orang datang membawa Chinook untuk membantu memadamkan kebakaran, sementara kita justru terlalu sibuk memastikan penyambutannya terlihat megah di depan kamera.

Sebab dalam menghadapi bencana, rakyat tidak menghitung berapa kali pejabat memberikan sambutan.

Rakyat menghitung seberapa cepat api padam.

Dan pada akhirnya, negara yang kuat bukan negara yang paling meriah menyambut bantuan.

Negara yang kuat adalah negara yang mampu mengubah setiap bantuan menjadi tindakan nyata secepat mungkin.

Api tidak mengenal protokol.

Karena itu, ketika api sedang membesar, jangan biarkan seremoni menjadi lebih besar daripada rasa urgensi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *