Bahlil Lahadalia Kenakan Busana Adat Maluku Tengah, Angkat Warisan Budaya Banda ke Panggung Nasional

0
1787012375541

Menteri Bahlil Lahadalia bersama Ibu Sri Suparni Bahlil mengenakan busana adat asli dari Maluku Tengah dalam sebuah momentum nasional. Busana tersebut merupakan karya anak timur dan membawa pesan kuat tentang identitas serta warisan budaya Maluku.

Busana yang dikenakan terdiri dari Kebaya Dansa dan Mustiza. Keduanya bukan sekadar pakaian tradisional, tetapi bagian dari warisan budaya Maluku yang lahir dari pertemuan budaya Maluku dan Portugis.

Kebaya Dansa dikenakan oleh laki-laki dengan dominasi warna merah yang melambangkan keberanian dan wibawa. Sementara Baniang Putih menjadi simbol ketulusan.

Bagi perempuan atau sang nona, Mustiza memiliki makna khusus dalam tradisi Masuk Minta Nona. Busana tersebut menjadi simbol kesungguhan sekaligus penyatuan dua keluarga. Warna putih merepresentasikan kesederhanaan, sedangkan warna emas melambangkan kemuliaan.

Kedua busana tersebut dilengkapi Canela, selop khas Maluku yang secara simbolis menemani langkah menuju kehidupan baru.

Hal yang semakin memperkuat identitas busana tersebut adalah motif pala yang menghiasinya. Motif ini menjadi penghormatan terhadap Kepulauan Banda di Maluku Tengah, tanah yang dikenal sebagai salah satu pusat sejarah pala dunia.

Pala bukan sekadar tanaman bagi masyarakat Banda. Komoditas tersebut memiliki sejarah panjang yang membawa nama Maluku mengarungi samudra dan dikenal hingga berbagai penjuru dunia.

Kini, motif pala kembali dihadirkan sebagai simbol ingatan terhadap tanah kelahiran, sejarah yang membentuk identitas masyarakat, serta warisan budaya yang terus dibawa menuju masa depan.

Pengenaan busana adat tersebut menjadi pesan bahwa kekayaan budaya daerah tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari identitas Indonesia di tingkat nasional.

Dari Banda, untuk Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *