Kuliah Sambil Jualan Mochi Kerap Dihina, Perjuangan Mahasiswa USU Ini Berbuah Bantuan Modal dan Beasiswa

0
1790053065776-1

MEDAN, SUMATERA UTARA — Menjalani kuliah sambil berjualan bukanlah perkara mudah. Hal itu dirasakan Muhammad Haikal, mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang memilih berjualan mochi untuk membantu memenuhi kebutuhan kuliah sekaligus meringankan beban keluarganya.

Dengan modal awal sekitar Rp50 ribu dan mochi buatan tangan, Haikal menjalani aktivitas sebagai mahasiswa sekaligus pedagang. Ia menyusuri lingkungan kampus untuk menawarkan dagangannya demi mendapatkan penghasilan.

Perjalanan tersebut tidak selalu berjalan mulus. Haikal mengaku kerap menghadapi cibiran dan hinaan karena memilih berjualan di sela-sela aktivitas perkuliahan.

Namun, berbagai perkataan yang merendahkan tidak membuatnya berhenti. Haikal memilih terus bekerja dan membuktikan bahwa mencari rezeki melalui usaha yang halal merupakan bagian dari perjuangan.

Di balik aktivitas berjualan tersebut, terdapat sosok ibu yang menjadi salah satu sumber semangatnya. Penghasilan dari berjualan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi dan kuliah, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangannya membantu keluarga.

Momentum perubahan datang ketika Haikal menyampaikan persoalan yang dihadapinya terkait kelangkaan tepung ketan, salah satu bahan utama untuk membuat mochi.

Kisah perjuangannya kemudian tersampaikan kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Pertemuan tersebut menjadi momentum yang tidak disangka-sangka bagi Haikal.

Dalam kesempatan tersebut, Haikal mendapat sejumlah bentuk dukungan. Bantuan yang diberikan antara lain modal usaha sebesar Rp5 juta untuk mengembangkan bisnis mochinya serta uang tunai Rp5 juta sebagai tanda kasih untuk ibunya.

Selain itu, Haikal juga memperoleh dukungan beasiswa dari PTPN IV PalmCo hingga menyelesaikan masa kuliahnya, berdasarkan informasi yang disampaikan dalam kisah tersebut.

Bantuan tersebut menjadi penyemangat baru bagi Haikal untuk melanjutkan pendidikan sekaligus mengembangkan usaha yang selama ini dijalaninya.

Air mata haru pun mengiringi momen tersebut. Perjuangan yang sebelumnya dijalani dengan modal terbatas dan menghadapi berbagai cibiran akhirnya mendapat perhatian dan dukungan.

Kisah Haikal menjadi pengingat bahwa pekerjaan halal tidak seharusnya dipandang rendah. Menjadi mahasiswa sekaligus pedagang bukanlah sesuatu yang memalukan ketika dilakukan dengan niat baik, kerja keras, dan ketekunan.

Pesan perjuangannya sederhana namun kuat: “Kamu berjuang, jangan mundur. Dihina pun jangan pernah mundur.”

Perjalanan Haikal juga menunjukkan bahwa jalan menuju cita-cita terkadang harus ditempuh melalui perjuangan yang tidak mudah. Selama langkah tetap berada di jalan yang halal, cibiran tidak harus menjadi alasan untuk berhenti.

Sebab, setiap kerja keras yang dilakukan dengan kesabaran dan ketekunan memiliki nilai tersendiri dalam perjalanan seseorang meraih masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *