Pertemuan Rhoma Irama dan Gus Muwafiq di Soneta Record, Ada Jejak Gus Maksum di Baliknya
JAKARTA — Ada sebuah pertemuan yang menyimpan cerita panjang. Minggu, 20 September 2026, H. Rhoma Irama dan Gus Muwafiq dipertemukan dalam sebuah momen silaturahmi di Soneta Record.
Sekilas, pertemuan tersebut tampak seperti perjumpaan dua tokoh dengan latar perjalanan yang berbeda. Namun, di baliknya terdapat sebuah benang merah sejarah yang menarik perhatian, yakni sosok KH Abdullah Maksum Jauhari atau yang lebih dikenal sebagai Gus Maksum.
Gus Maksum merupakan ulama, pendekar dan salah satu tokoh penting dalam sejarah Pagar Nusa. Ia tercatat sebagai Ketua Umum pertama Pagar Nusa sekaligus salah satu guru besar yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan pencak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Yang menarik, situs resmi Pagar Nusa menyebut Rhoma Irama sebagai salah satu murid Gus Maksum. Dalam tulisan tersebut, Rhoma Irama bahkan masuk dalam daftar murid yang disebut sebagai murid kesayangan Gus Maksum. Keterlibatan Rhoma dengan ilmu bela diri Gus Maksum juga disebut terlihat dalam sejumlah film yang dibintanginya melalui adegan pencak silat.
Nama Gus Muwafiq juga memiliki hubungan keilmuan dengan Gus Maksum. Pagar Nusa mencatat Gus Muwafiq sebagai salah satu murid Gus Maksum yang mendalami ilmu kanuragan atau bela diri serta sejarah kebudayaan Nusantara di bawah bimbingannya.
Bahkan, dalam tulisan mengenai sanad keilmuan Pagar Nusa, Gus Muwafiq pernah menjelaskan rangkaian keilmuan yang menghubungkan tradisi keilmuan Pagar Nusa dari Gus Maksum hingga para ulama terdahulu. Penjelasan tersebut ditempatkan Pagar Nusa sebagai bagian dari pembahasan mengenai kesinambungan ilmu dari guru kepada murid.
Maka pertemuan Rhoma Irama dan Gus Muwafiq di Soneta Record menjadi lebih dari sekadar pertemuan dua figur.
Ada sebuah kisah tentang guru dan murid, ilmu dan pengabdian, serta jejak yang terus hidup melampaui zaman.
Dahulu, mereka mengenal Gus Maksum dalam perjalanan masing-masing. Kini, setelah sang guru wafat pada 21 Desember 2003, jejaknya masih dapat ditemukan dalam perjalanan para muridnya.
Rhoma Irama kemudian dikenal luas sebagai seniman, musisi, aktor sekaligus tokoh penting dalam perjalanan musik dangdut Indonesia. Sementara Gus Muwafiq dikenal sebagai pendakwah yang aktif menyampaikan kajian keislaman dan sejarah kebudayaan Nusantara.
Dua perjalanan yang berbeda itu seolah bertemu kembali dalam satu ruang.
Bukan di arena pencak silat.
Bukan pula di sebuah padepokan.
Melainkan di Soneta Record, tempat Rhoma Irama membangun perjalanan panjangnya dalam musik dan dakwah.
Di sinilah nilai sebuah pertemuan menjadi semakin menarik. Seorang guru mungkin telah lama meninggalkan dunia, tetapi nilai, ilmu, kedisiplinan dan keteladanan yang pernah diberikan dapat terus hidup melalui murid-muridnya.
Guru boleh telah tiada. Zaman boleh berubah. Tetapi jejak seorang guru dapat tetap hidup dalam perjalanan murid-muridnya.
Pertemuan Rhoma Irama dan Gus Muwafiq dengan latar kisah Gus Maksum menjadi pengingat bahwa sebuah silaturahmi terkadang bukan hanya mempertemukan dua manusia pada hari ini.
Ia juga dapat membuka kembali lembaran sejarah tentang guru, murid, ilmu dan perjuangan yang pernah menghubungkan mereka.
Inilah kisah di balik sebuah pertemuan.
Sebuah pertemuan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi menyimpan jejak panjang perjalanan seorang guru besar bernama Gus Maksum.
