Media Malaysia Ungkap Fakta Kapal Eks-Italia Giuseppe Garibaldi yang Kini Jadi KRI Sriwijaya: Bukan Sekadar Kapal Induk
JAKARTA — Kedatangan eks-kapal induk ringan Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, ke Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, pada 18 September 2026 menjadi perhatian media kawasan, termasuk media Malaysia The Star.
Kapal berusia sekitar 41 tahun tersebut tiba setelah melakukan pelayaran dari Italia menuju Indonesia. Kedatangannya menandai babak baru bagi kemampuan maritim Indonesia, sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat kemampuan pertahanan dan respons bencana di negara kepulauan.
Dalam laporan The Star, Giuseppe Garibaldi disebut sebagai kapal bekas Angkatan Laut Italia yang mulai berdinas pada 1985 dan dipensiunkan pada 2024. Pemerintah Italia kemudian menghibahkan kapal tersebut kepada Indonesia. Laporan media Malaysia itu menyebut kapal akan digunakan terutama untuk operasi nonmiliter, termasuk penanggulangan bencana.
Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali mengatakan kapal tersebut diharapkan dapat digunakan TNI AL selama sekitar 15 hingga 20 tahun. Menurutnya, karakter Indonesia sebagai negara kepulauan yang rawan bencana membuat platform yang mampu membawa banyak helikopter memiliki nilai operasional tersendiri.
Helikopter yang beroperasi dari kapal dapat digunakan untuk mengangkut personel, logistik maupun bantuan dengan cepat menuju daerah yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Kapal 180 Meter dengan Kemampuan Penerbangan
Kementerian Pertahanan RI menyebut Giuseppe Garibaldi memiliki panjang 180,2 meter, dan geladak penerbangannya mampu mendukung pengoperasian belasan helikopter.
Saat meninjau kapal di Tanjung Priok, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin melihat langsung flight deck, hanggar, anjungan serta Pusat Informasi Tempur. Kemhan menyatakan kondisi fisik dan sistem kapal dinilai baik untuk dioptimalkan dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP), khususnya penanggulangan bencana dan distribusi logistik ke wilayah terpencil.
Kemhan juga menyebut konfigurasi kapal memungkinkan hingga empat helikopter melakukan lepas landas secara simultan dengan memanfaatkan fitur ski-jump. Kemampuan tersebut menjadi salah satu aspek yang dipertimbangkan dalam pemanfaatan kapal sebagai platform mobilitas udara di wilayah kepulauan Indonesia.
The Star mencatat kapal tersebut dapat membawa hingga 18 helikopter dan menampung sekitar 830 personel. Dengan ukuran dan fasilitas tersebut, kapal memiliki karakter berbeda dibandingkan kapal perang permukaan konvensional karena dapat berfungsi sebagai pangkalan penerbangan bergerak.
Bukan Hanya untuk Perang
Salah satu hal yang mendapat perhatian dalam pemberitaan The Star adalah konsep penggunaan Giuseppe Garibaldi oleh Indonesia.
Kapal tersebut tidak diposisikan semata-mata sebagai instrumen peperangan. Pemerintah Indonesia juga melihatnya sebagai platform untuk operasi kemanusiaan, penanggulangan bencana dan dukungan logistik.
Kementerian Pertahanan secara resmi menyatakan kapal itu dapat dioptimalkan untuk OMSP, termasuk penanganan bencana alam dan distribusi bantuan ke daerah terpencil.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga mengaitkan penggunaan kapal tersebut dengan kebutuhan menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Konsepnya adalah memanfaatkan kapal sebagai platform bergerak yang dapat mendukung operasi helikopter dan drone di wilayah terdampak.
Dengan kondisi geografis Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau, kemampuan memindahkan helikopter, personel dan logistik melalui laut dapat menjadi salah satu fungsi strategis kapal tersebut.
Sorotan soal Biaya dan Usia Kapal
Di balik kedatangannya, keputusan menghadirkan Giuseppe Garibaldi juga memunculkan perdebatan mengenai biaya, usia kapal dan kebutuhan pertahanan Indonesia.
The Star melaporkan bahwa sejumlah analis mempertanyakan apakah pengoperasian kapal berusia lebih dari empat dekade merupakan prioritas dibandingkan kebutuhan lain seperti kapal selam, fregat dan kapal perang permukaan.
Perdebatan tersebut bukan berarti kapal tidak memiliki kemampuan. Persoalan utamanya adalah bagaimana Indonesia memastikan kapal besar tersebut memiliki kesiapan operasional, dukungan logistik, awak terlatih, fasilitas pangkalan, pemeliharaan dan sistem penerbangan yang memadai dalam jangka panjang.
Sebelumnya, pemerintah telah memperoleh persetujuan pembiayaan hingga sekitar US$450 juta untuk program terkait Giuseppe Garibaldi. Namun, angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati karena kapal itu sendiri diberikan Italia sebagai hibah, sementara kebutuhan pembiayaan berkaitan dengan akuisisi/peralatan pendukung, retrofit, penyesuaian sistem dan kebutuhan operasional.
Sejumlah analisis juga memperkirakan kebutuhan modernisasi dapat berkembang lebih besar. AP dan Washington Post melaporkan adanya kekhawatiran bahwa biaya retrofit secara keseluruhan dapat mencapai angka lebih tinggi, sementara anggota DPR TB Hasanuddin pernah memperkirakan biaya retrofit bisa mencapai sekitar Rp16 triliun. Angka tersebut merupakan estimasi dan bukan angka final biaya proyek.
Indonesia Jadi Negara Kedua di Asia Tenggara
Kehadiran Giuseppe Garibaldi juga memiliki arti tersendiri dalam konteks kekuatan maritim Asia Tenggara.
Indonesia menjadi negara kedua di kawasan Asia Tenggara yang memiliki kapal berjenis aircraft carrier setelah Thailand dengan HTMS Chakri Naruebet. Namun, karakter dan konsep penggunaannya tidak sepenuhnya sama.
Indonesia menempatkan penekanan pada pengoperasian helikopter, drone, dukungan operasi maritim, komando serta bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
Karena itu, menyebut kapal ini hanya sebagai “kapal induk” tanpa menjelaskan fungsi sebenarnya dapat membuat publik kehilangan konteks.
Giuseppe Garibaldi merupakan kapal lama yang sedang dipersiapkan untuk kebutuhan Indonesia. Keberhasilannya tidak hanya bergantung pada ukuran kapal atau jumlah helikopter yang dapat dibawa, tetapi juga pada kemampuan Indonesia membangun ekosistem pendukungnya.
Perhatian Media Malaysia
The Star sendiri tidak menggambarkan kedatangan kapal tersebut sebagai tanda bahwa Malaysia berada dalam kondisi panik atau menghadapi ancaman langsung dari Indonesia.
Pemberitaan media Malaysia lebih banyak membahas usia kapal, kemampuan penerbangan, fungsi bantuan bencana, biaya modernisasi serta perdebatan mengenai prioritas pertahanan Indonesia.
Fakta tersebut penting karena narasi tentang “Malaysia takut” atau “Malaysia terancam” tidak didukung oleh isi laporan The Star yang diperiksa.
Yang terlihat adalah perhatian media kawasan terhadap perubahan kemampuan maritim Indonesia.
Bagi Indonesia, Giuseppe Garibaldi—yang kini dipersiapkan sebagai KRI Sriwijaya—merupakan platform baru yang akan diuji dalam kondisi geografis Indonesia yang sangat luas.
Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar mendatangkan kapal dari Eropa ke Jakarta, tetapi memastikan kapal tersebut dapat beroperasi secara berkelanjutan.
Kesiapan awak, pemeliharaan, ketersediaan helikopter dan drone, dukungan pangkalan, sistem logistik, biaya operasi serta kemampuan menjalankan misi kemanusiaan akan menjadi faktor penting untuk menentukan seberapa besar manfaat kapal tersebut bagi Indonesia.
Dengan demikian, kedatangan Giuseppe Garibaldi bukan sekadar cerita tentang sebuah kapal perang tua dari Italia yang berpindah tangan.
Ini merupakan eksperimen strategis Indonesia dalam mengembangkan platform penerbangan laut multifungsi untuk negara kepulauan-menggabungkan fungsi pertahanan, mobilitas udara, komando, operasi maritim serta bantuan kemanusiaan.
Perhatian The Star menunjukkan bahwa langkah tersebut juga mulai menjadi bagian dari pembahasan pertahanan di tingkat kawasan Asia Tenggara.
