Gus Dur dan Pendidikan yang Memanusiakan Manusia: Ilmu, Akhlak, Tradisi, dan Keberagaman

0
1789402890196-1

Gus Dur dan Pendidikan yang Memanusiakan Manusia

Pendidikan tidak semestinya berhenti pada selembar ijazah. Lebih dari sekadar mengejar gelar akademik, pendidikan seharusnya membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, memiliki kepekaan sosial, serta mampu hidup berdampingan dengan sesama dalam keberagaman.

Gagasan tersebut menemukan relevansinya ketika membaca pemikiran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur tentang pendidikan. Dalam pandangan Gus Dur, pendidikan memiliki tugas yang jauh lebih besar daripada sekadar menghasilkan lulusan yang menguasai pengetahuan. Pendidikan harus membantu manusia membebaskan dirinya dari kebodohan, ketidakadilan, keterbelakangan, serta cara berpikir yang membelenggu.

Di sinilah persoalan pendidikan menjadi penting. Ketika keberhasilan pendidikan terlalu diukur melalui ijazah, nilai, gelar, dan kemampuan akademik semata, ada risiko dimensi pembentukan karakter justru kehilangan tempat.

Seseorang dapat memiliki pengetahuan tinggi, tetapi belum tentu memiliki kejujuran. Seseorang dapat menguasai teknologi, tetapi belum tentu memiliki tanggung jawab moral. Bahkan seseorang dapat memiliki banyak gelar, tetapi belum tentu mampu menghargai manusia lain.

Bagi Gus Dur, pendidikan ideal bukan hanya mencerdaskan pikiran, tetapi juga memanusiakan manusia.

Pesantren menjadi salah satu ruang penting dalam pembentukan karakter. Gus Dur tidak memandang tradisi sebagai sesuatu yang harus dibuang begitu saja. Tradisi pesantren justru memiliki kekayaan pendidikan yang penting untuk dipertahankan.

Pesantren tidak hanya mengajarkan pengetahuan keagamaan melalui kitab-kitab klasik. Di dalamnya terdapat proses pembentukan karakter melalui kehidupan sehari-hari: kedisiplinan, kesederhanaan, penghormatan kepada guru, kebersamaan, keikhlasan, serta pembiasaan menjalani kehidupan dengan kesadaran spiritual.

Metode pembelajaran tradisional seperti sorogan juga menunjukkan adanya hubungan yang dekat antara guru dan murid. Pendidikan tidak semata-mata berlangsung melalui transfer pengetahuan, tetapi juga melalui keteladanan dan pembentukan kepribadian.

Namun, mempertahankan tradisi bukan berarti menolak perubahan.

Pesantren, seperti lembaga pendidikan lainnya, perlu terus berkembang. Ilmu agama tidak semestinya dipertentangkan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keduanya dapat berjalan berdampingan untuk membentuk manusia yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus keluasan wawasan.

Salah satu kekuatan pemikiran Gus Dur adalah melihat pendidikan sebagai proses pembebasan.

Pembebasan yang dimaksud bukanlah pembebasan dari agama atau nilai moral. Sebaliknya, pendidikan harus membebaskan manusia dari kebodohan, ketertinggalan, ketidakadilan, penindasan, serta pola pikir yang membuat seseorang tidak mampu berkembang.

Karena itu, pendidikan harus membuka ruang bagi manusia untuk berpikir kritis.

Anak didik tidak seharusnya hanya diajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi juga bagaimana berpikir. Mereka perlu dibekali kemampuan membaca realitas, memahami perbedaan, menguji informasi, menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab, serta mengambil keputusan dengan pertimbangan moral.

Pendidikan seperti inilah yang dapat melahirkan manusia merdeka: manusia yang memiliki ilmu, tetapi tidak kehilangan hati nurani.

Kemajuan teknologi membuat manusia memiliki akses pengetahuan yang jauh lebih besar dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Namun, kemajuan teknologi tidak otomatis berarti kemajuan peradaban.

Teknologi dapat digunakan untuk mencerdaskan masyarakat, tetapi juga dapat digunakan untuk menyebarkan kebohongan. Ilmu dapat digunakan untuk membangun kesejahteraan, tetapi juga dapat disalahgunakan ketika tidak dikendalikan oleh moral.

Karena itu, pendidikan harus mampu mempertemukan kecerdasan intelektual dengan kecerdasan moral.

Manusia ideal bukan hanya manusia yang pintar menjawab soal, melainkan manusia yang tahu bagaimana menggunakan pengetahuannya untuk kebaikan.

Bukan hanya mampu mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Bukan hanya mengetahui haknya, tetapi juga memahami kewajibannya.

Pemikiran Gus Dur mengenai pendidikan juga tidak dapat dilepaskan dari pandangannya tentang keberagaman dan kemanusiaan.

Dalam kerangka Islam rahmatan lil alamin, keberagaman manusia tidak semestinya dipandang sebagai ancaman. Perbedaan agama, suku, budaya, bahasa, maupun pandangan merupakan realitas kehidupan yang harus dihadapi dengan kedewasaan.

Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang tersebut.

Toleransi tidak cukup diajarkan sebagai teori di dalam buku pelajaran. Toleransi harus tumbuh melalui pengalaman, keteladanan, dialog, dan kebiasaan menghormati manusia lain.

Anak didik perlu memahami bahwa berbeda pendapat bukan berarti bermusuhan. Berbeda keyakinan bukan alasan untuk menghilangkan martabat seseorang. Berbeda latar belakang bukan alasan untuk memperlakukan manusia secara tidak adil.

Dalam konteks inilah pendidikan menjadi bagian penting dari pembangunan peradaban.

Pada akhirnya, pertanyaan paling mendasar tentang pendidikan bukan hanya seberapa tinggi nilai yang diperoleh seorang siswa.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: manusia seperti apa yang lahir dari sistem pendidikan tersebut?

Apakah mereka menjadi manusia yang jujur?

Apakah mereka mampu menghormati orang lain?

Apakah mereka memiliki keberanian membela kebenaran?

Apakah ilmu yang mereka miliki digunakan untuk kepentingan masyarakat?

Apakah mereka mampu menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena masyarakat tidak hanya membutuhkan orang pintar. Masyarakat membutuhkan manusia yang dapat dipercaya.

Ijazah dapat menunjukkan bahwa seseorang telah menyelesaikan pendidikan formal. Namun, karakter menunjukkan bagaimana seseorang menggunakan ilmu yang dimilikinya.

Karena itu, pendidikan yang ideal bukanlah pendidikan yang mempertentangkan ilmu dan agama, modernitas dan tradisi, teknologi dan spiritualitas.

Pendidikan sejati adalah pendidikan yang mampu mempertemukan semuanya dalam satu tujuan: membentuk manusia yang berilmu, berakhlak, berpikir merdeka, menghargai keberagaman, dan menggunakan pengetahuannya untuk kemaslahatan sesama.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan sekadar tentang mencetak manusia yang pintar.

Pendidikan adalah tentang memanusiakan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *