Selama 7 Tahun Tak Pernah Kunci Pintu, Supriyati Masih Menanti Putranya Pulang dari Laut

0
1789290212844

KONAWE SELATAN — Kisah haru datang dari Supriyati, seorang ibu di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, yang selama tujuh tahun terakhir memilih tidak menutup pintu rumahnya setiap malam.

Bukan tanpa alasan. Pintu tersebut sengaja dibiarkan terbuka karena Supriyati masih menanti kepulangan putra pertamanya, Hari, yang berpamitan untuk bekerja di laut pada November 2019.

Saat itu, Hari masih berusia 19 tahun. Ia pergi dengan sebuah harapan sederhana: bekerja menjadi tulang punggung keluarga dan suatu hari membelikan rumah untuk sang ibu.

Namun, harapan tersebut berubah menjadi tragedi.

Kapal pengangkut yang ditumpangi Hari mengalami kecelakaan dan karam pada hari pertama perjalanan. Sejak peristiwa itu, Hari dinyatakan hilang dan hingga kini menjadi satu-satunya korban yang jasadnya belum ditemukan.

Bagi keluarga, ketiadaan jasad membuat perpisahan terasa tidak pernah benar-benar selesai.

Supriyati masih menyimpan kenangan tentang putranya. Ia mengenang Hari sebagai sosok yang penyayang dan sangat memperhatikan ibunya.

Salah satu kebiasaan Hari yang paling diingat Supriyati adalah ketika putranya pulang larut malam. Hari disebut tidak tega membangunkan ibunya sehingga memilih masuk dengan hati-hati agar sang ibu tetap dapat beristirahat.

Kenangan itulah yang kemudian membuat Supriyati mempertahankan kebiasaan membuka pintu rumah setiap malam.

Pintu tersebut seolah menjadi tanda bahwa rumah itu masih menunggu seseorang untuk pulang.

Tahun demi tahun berlalu. Hari yang ditunggu tidak kunjung kembali. Namun, harapan seorang ibu ternyata tidak mudah dikalahkan oleh waktu.

Bagi Supriyati, selama belum ada kepastian yang benar-benar mengakhiri penantian, pintu rumah itu akan tetap menjadi ruang bagi sebuah harapan.

Kisah tersebut menggambarkan betapa dalamnya kasih seorang ibu kepada anaknya. Bagi sebagian orang, tujuh tahun mungkin merupakan waktu yang sangat panjang. Namun bagi seorang ibu yang masih berharap anaknya pulang, waktu tidak selalu mampu menghapus rasa rindu.

Pintu yang dibiarkan terbuka setiap malam bukan sekadar pintu rumah.

Ia menjadi simbol penantian, cinta, dan harapan seorang ibu yang belum pernah benar-benar berhenti menunggu.

Semoga keluarga Hari mendapatkan kekuatan dan ketabahan, serta suatu hari memperoleh kepastian atas nasib putra tercinta mereka.

Sebab bagi seorang ibu, kehilangan bukan hanya tentang kepergian seseorang, tetapi juga tentang kerinduan yang terus hidup ketika kepastian belum pernah datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *