Tentara Jepang Datang Membantu Padamkan Karhutla, Sejarah Mandor Jangan Ikut Dipadamkan

0
1789289645301

PONTIANAK — Kehadiran personel militer Jepang di Kalimantan Barat untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi pemandangan yang kontras dengan sejarah panjang hubungan Indonesia dan Jepang.

Saat ini, personel Jepang hadir bukan sebagai kekuatan pendudukan, melainkan sebagai mitra kemanusiaan. Mereka membawa tiga helikopter berat CH-47 Chinook yang disiapkan untuk mendukung operasi pemadaman karhutla di Kalimantan Barat.

Kehadiran mereka pun mendapat sambutan dari pemerintah daerah dan masyarakat. Interaksi antara personel militer Jepang dan aparat Indonesia berlangsung dalam suasana yang jauh berbeda dibandingkan masa pendudukan Jepang di Indonesia.

Masyarakat bahkan terlihat antusias mengabadikan momen bersama para personel Jepang. Di lapangan, interaksi berlangsung cair, termasuk ketika personel kepolisian Indonesia dan tentara Jepang makan bersama dalam pelaksanaan tugas penanganan karhutla.

Perubahan suasana tersebut memperlihatkan betapa jauh hubungan kedua negara telah berkembang.

Namun, di tengah apresiasi terhadap kerja sama kemanusiaan tersebut, ada satu hal yang tidak boleh ikut padam: ingatan sejarah.

Kalimantan Barat memiliki salah satu catatan kelam pada masa pendudukan Jepang yang dikenal sebagai Peristiwa Mandor.

Peristiwa Mandor berlangsung pada masa pendudukan Jepang sekitar 1943 hingga 1944. Berdasarkan data yang selama ini dicatat pemerintah daerah Kalimantan Barat, sekitar 21.037 orang menjadi korban dalam tragedi tersebut.

Para korban berasal dari berbagai latar belakang masyarakat. Di antaranya terdapat pemimpin kesultanan Melayu, tokoh masyarakat, kaum terpelajar, tokoh politik, serta rakyat biasa dari berbagai kelompok etnis.

Tragedi tersebut bukan sekadar angka dalam buku sejarah. Di balik setiap angka terdapat manusia, keluarga, dan generasi yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai.

Karena itu, kedatangan personel Jepang ke Kalimantan Barat pada masa kini tidak semestinya membuat masyarakat melupakan sejarah tersebut.

Sebaliknya, peristiwa hari ini justru dapat menjadi gambaran tentang bagaimana hubungan antarbangsa dapat berubah seiring waktu.

Jepang yang datang ke Kalimantan Barat hari ini bukanlah Jepang pada masa pendudukan 1940-an. Personel yang datang membawa CH-47 Chinook hadir dalam kerangka kerja sama dan bantuan penanganan bencana.

Perbedaan konteks tersebut penting dipahami agar sejarah tidak berubah menjadi kebencian antargenerasi.

Kita dapat menghormati sejarah tanpa mewariskan dendam. Kita dapat memaafkan tanpa melupakan. Kita dapat bekerja sama tanpa menghapus luka masa lalu.

Bahkan, kerja sama kemanusiaan Indonesia dan Jepang hari ini dapat menjadi pelajaran bahwa bangsa-bangsa yang pernah berada dalam hubungan konflik dapat membangun hubungan baru berdasarkan kepentingan kemanusiaan dan perdamaian.

Dalam konteks karhutla Kalimantan Barat, tiga helikopter CH-47 Chinook disiapkan untuk mendukung pemadaman dari udara, terutama menjangkau titik api yang sulit ditangani melalui jalur darat.

Sekitar ratusan personel Jepang turut terlibat dalam dukungan tersebut, dengan kapal JS Kunisaki sebelumnya merapat di Pelabuhan Internasional Kijing, Kabupaten Mempawah.

Operasi bantuan tersebut dijadwalkan berlangsung selama sekitar 21 hari dengan wilayah Pontianak dan Lanud Supadio menjadi bagian penting dari koordinasi operasi.

Bantuan tersebut tentu patut diapresiasi karena menyangkut kepentingan masyarakat dan lingkungan.

Namun, apresiasi terhadap bantuan hari ini tidak harus dibayar dengan menghapus sejarah kemarin.

Justru bangsa yang matang adalah bangsa yang mampu melakukan keduanya: menghargai bantuan hari ini dan tetap menghormati korban sejarah.

Kita boleh menyambut tentara Jepang. Kita boleh mengapresiasi kemampuan CH-47 Chinook. Kita boleh berinteraksi, makan bersama, bahkan berfoto.

Tetapi jangan sampai kamera ponsel membuat kita lupa pada Monumen Mandor dan sejarah kelam yang pernah terjadi di tanah Kalimantan Barat.

Sebab bangsa besar bukan bangsa yang tidak memiliki luka.

Bangsa besar adalah bangsa yang mampu mengingat lukanya, mengambil pelajaran dari masa lalu, memaafkan tanpa melupakan, kemudian membangun masa depan dengan lebih dewasa.

Hari ini, biarlah api di hutan dipadamkan.

Api kebencian juga harus kita matikan.

Tetapi cahaya ingatan sejarah jangan pernah dipadamkan.

Kerja sama Indonesia dan Jepang hari ini semoga menjadi bagian dari upaya kemanusiaan untuk melindungi masyarakat dan lingkungan. Pada saat yang sama, tragedi Mandor harus tetap menjadi pelajaran agar kekejaman perang dan pendudukan tidak pernah terulang.

Karena sejarah bukan untuk diwariskan sebagai dendam.

Sejarah diwariskan agar generasi berikutnya tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *