Kepemimpinan Muhammadiyah: Dibangun dari Trust, Bukan Trah
Dalam kehidupan Persyarikatan Muhammadiyah, trust atau kepercayaan bukan sekadar kata. Ia merupakan modal penting yang menentukan keberlangsungan organisasi dan kualitas kepemimpinannya.
Kepemimpinan di Muhammadiyah pada hakikatnya bukan sesuatu yang diwariskan berdasarkan garis keturunan. Kepemimpinan lahir dari kepercayaan, diberikan kepada mereka yang dinilai memiliki kapasitas, integritas, komitmen, dan kesediaan menjalankan amanah Persyarikatan.
Di sinilah letak kekuatan tradisi organisasi.
Jabatan bukan tujuan akhir. Posisi kepemimpinan merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Persyarikatan dan seluruh warga Muhammadiyah.
Karena itu, ukuran seorang pemimpin bukan siapa keluarganya, dari trah mana ia berasal, atau seberapa kuat jejaring kekuasaannya. Ukurannya adalah seberapa besar kepercayaan yang mampu ia bangun dan seberapa baik amanah yang dipercayakan kepadanya dapat dijalankan.
Muhammadiyah membutuhkan pemimpin yang mampu menjaga kepercayaan, bukan sekadar mengejar kedudukan.
Sebab ketika kepemimpinan dibangun di atas trust, organisasi memiliki fondasi yang kuat. Sebaliknya, ketika jabatan dipersepsikan sebagai warisan, ruh amanah dapat kehilangan maknanya.
Muhammadiyah adalah tentang amanah. Tentang pengabdian. Tentang kepercayaan.
Bukan trah yang menentukan siapa yang layak memimpin, melainkan integritas, kapasitas, keteladanan, dan kepercayaan warga Persyarikatan.
#Pemimpin
#Muhammadiyah
#Trust
#BukanTrah
#tvMuhammadiyah
