SBY Tahan Tangis Saat Kepala Daerah Bicara tentang Siak: “Tetap Tabah, Jangan Menyerah, Masih Ada Harapan”

0
1788944307461

Sorotan Publik — Dialog kebangsaan yang menghadirkan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama sejumlah kepala daerah di Jakarta, 7 September 2026, berubah menjadi momen penuh keharuan.

Pertemuan yang semula berlangsung dalam suasana dialog kebangsaan itu mendadak menjadi ruang terbuka bagi para kepala daerah untuk menyampaikan keresahan tentang kondisi daerah masing-masing.

Kesaksian tersebut disampaikan Bupati Siak, Dr. Afni Z, M.Si., melalui tulisan yang menggambarkan suasana emosional ketika dirinya mendapat kesempatan berbicara langsung di hadapan SBY.

Menurut Afni, dialog tersebut berlangsung terbuka dan dapat direkam oleh siapa saja. Forum dipandu Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya.

Dalam tulisannya, Afni menggambarkan SBY sebagai tokoh yang menyampaikan materi kebangsaan dengan kesantunan dan wibawa. Ia menilai pesan SBY seolah mampu merangkum beban yang selama ini dirasakan para kepala daerah.

Air Mata Kepala Daerah Tumpah

Suasana berubah ketika dua kepala daerah dari kawasan Timur Indonesia menyampaikan persoalan daerahnya.

Afni menuturkan, sejumlah kepala daerah tampak menahan tangis. Bahkan, menurut kesaksiannya, beberapa laki-laki yang selama ini menjadi pemimpin dan figur kuat di daerah masing-masing terlihat terisak.

Bagi Afni, momen tersebut bukan lagi persoalan ego pribadi.

“Ini tentang Merah Putih. Tentang NKRI,” tulisnya.

Ia menggambarkan keresahan tersebut sebagai suara dari daerah-daerah yang menjadi penopang persatuan Indonesia, tetapi merasa memiliki beban yang belum sepenuhnya tersampaikan ke pusat kekuasaan.

Ketika akhirnya mendapat kesempatan berbicara, Afni mengaku menyampaikan apa yang selama ini menjadi keresahan masyarakat Siak.

Dengan suara yang disebutnya sudah sangat lelah, ia menceritakan perjalanan panjang memperjuangkan kepentingan daerah, termasuk langkah kaki yang seakan tidak berhenti dan tangan yang terus mengetuk pintu untuk menyampaikan aspirasi.

Ia juga membawa sejarah panjang Kesultanan Siak dalam narasinya, termasuk kisah sumpah setia Sultan Siak dan pengorbanan harta serta tahta demi berkibarnya Merah Putih pada awal kemerdekaan.

“Kami kini hanya meminta apa yang menjadi hak rakyat Siak saja. Tidak lebih,” demikian kalimat yang dituliskan Afni dalam kesaksiannya.

SBY Disebut Ikut Menahan Tangis

Setelah kalimat tersebut disampaikan, Afni menuturkan suasana ruangan berubah hening.

Ia mengaku akhirnya tidak mampu menahan air mata. Kondisi itu, menurutnya, serupa dengan sejumlah kepala daerah yang telah lebih dahulu menyampaikan keresahan.

Tidak ada yang menyodorkan tisu. Namun, menurut Afni, keheningan itu justru seperti memberikan ruang agar suara yang sedang disampaikan dapat didengar sepenuhnya.

Suara kepala daerah yang terisak itu disebut tidak hanya didengar oleh pejabat yang hadir, tetapi juga oleh SBY.

Afni kemudian mengingatkan bahwa SBY merupakan satu-satunya Presiden Indonesia yang pernah menginjakkan kaki di Negeri Istana Siak ketika meresmikan Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah.

Menurut Afni, sosok SBY pada pertemuan tersebut bahkan terlihat sangat letih. Pertemuan yang awalnya merupakan dialog kebangsaan kemudian terasa seperti forum penitipan keresahan daerah kepada seorang tokoh bangsa.

“Tetap Tabah. Jangan Menyerah. Masih Ada Harapan”

Dalam tulisan Afni, SBY disebut menegaskan bahwa dirinya tidak ingin melakukan intervensi politik sebagai mantan Presiden.

“Saya tidak mau cawe-cawe. Tidak pantas untuk seorang mantan Presiden mengkritik. Saya tidak akan melakukan itu. No Way,” demikian kutipan yang dituliskan Afni.

SBY juga disebut mengatakan bahwa dirinya kini lebih banyak berkegiatan menulis buku puisi dan melukis. Namun, ia mengaku memahami keresahan mengenai kondisi daerah yang telah disampaikan oleh banyak pihak sejak tahun sebelumnya.

Menurut kutipan Afni, SBY menyatakan akan mencoba memikirkan cara agar persoalan tersebut dapat disampaikan demi mencari solusi bersama.

Ia menekankan pentingnya komunikasi antara pusat dan daerah agar tidak terjadi kebuntuan.

“Tidak boleh ada kemacetan komunikasi dan seolah tidak terjembatani,” demikian kutipan pernyataan SBY yang dicantumkan Afni.

Pesan SBY kepada para kepala daerah kemudian semakin emosional.

Ia meminta mereka tetap tabah dan tidak menyerah dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

“Tetaplah tabah. Jangan menyerah. Jangan frustasi. Masih ada harapan.”

Afni menuturkan bahwa ketika SBY menyampaikan salam kepada masyarakat di daerah, nada suara mantan Presiden dua periode tersebut tiba-tiba terdengar terbata-bata.

Tokoh bangsa yang pernah memimpin Indonesia selama dua periode itu kemudian disebut segera meletakkan mikrofon.

Bagi Afni, momen tersebut menjadi tanda bahwa bukan hanya para kepala daerah yang menahan tangis.

“Pak SBY ternyata juga menahan tangis yang sama,” tulisnya.

Ketika Suara Daerah Menjadi Suara Kebangsaan

Kisah yang disampaikan Bupati Siak tersebut memperlihatkan bahwa persoalan hubungan pusat dan daerah tidak selalu dapat dibaca hanya melalui angka, laporan administratif, atau dokumen pemerintahan.

Ada kegelisahan, perjuangan, sejarah, dan harapan masyarakat daerah yang terkadang membutuhkan ruang untuk didengar secara langsung.

Apa yang terjadi dalam dialog tersebut, sebagaimana dituturkan Afni, menjadi gambaran bahwa komunikasi antara pusat dan daerah menjadi bagian penting dalam menjaga keutuhan negara.

Otonomi daerah bukan sekadar pembagian kewenangan. Di dalamnya terdapat harapan masyarakat agar pembangunan, pelayanan publik, dan kebijakan negara benar-benar dirasakan secara adil hingga ke daerah.

Dan ketika seorang kepala daerah sampai menitikkan air mata saat menyampaikan aspirasi, pesan yang muncul bukan semata tentang kelemahan seorang pemimpin.

Bisa jadi, itu adalah bentuk kelelahan setelah terlalu lama berjuang membawa suara rakyat.

Pada akhirnya, pesan SBY menjadi penutup yang sederhana namun dalam:

Tetap tabah. Jangan menyerah. Jangan frustasi. Masih ada harapan.

Karena di balik setiap daerah yang sedang berjuang, ada rakyat yang berharap negara tidak hanya hadir melalui laporan dan angka, tetapi juga hadir melalui keberpihakan, komunikasi, dan solusi.

Merah Putih bukan hanya simbol. NKRI bukan sekadar semboyan. Ia adalah janji bahwa setiap daerah dan setiap rakyat di dalamnya tidak boleh merasa berjalan sendirian.

Rakyat berhak tahu. Rakyat cerdas. Rakyat berdaulat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *