Rizkan Al Mubarok: Politik Bukan Ladang Keserakahan, Tapi Jalan Perjuangan untuk Kesejahteraan Rakyat
SOROTAN PUBLIK – Di tengah meningkatnya sorotan publik terhadap praktik politik transaksional, perebutan kekuasaan, dan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sebagian elite, tokoh jurnalis dan Ketua AWNI Sumatera, Rizkan Al Mubarrok, melontarkan pernyataan yang dinilai menyentuh inti persoalan demokrasi Indonesia.
Rizkan menegaskan bahwa politik pada hakikatnya bukan arena untuk memperkaya diri atau mempertahankan kekuasaan demi kepentingan pribadi maupun kelompok. Menurutnya, politik lahir sebagai instrumen perjuangan untuk menghadirkan kesejahteraan bersama.
“Ranah politik sejatinya adalah ruang perjuangan untuk menghadirkan kesejahteraan bersama, memperjuangkan kepentingan rakyat, serta membangun masa depan yang lebih adil dan bermartabat. Politik tidak seharusnya diisi oleh orang-orang yang tamak dan serakah,” tegas Rizkan Al Mubarrok, Selasa.
Pernyataan tersebut bukan sekadar kritik moral biasa. Di tengah berbagai dinamika nasional, kalimat itu sesungguhnya menyentuh persoalan mendasar yang selama bertahun-tahun menjadi perdebatan para akademisi politik dunia ,apakah politik masih menjadi alat pengabdian, atau telah bergeser menjadi alat akumulasi kekuasaan dan keuntungan pribadi?
Sejarah panjang peradaban menunjukkan bahwa kehancuran banyak bangsa bukan selalu diawali oleh krisis ekonomi, melainkan oleh krisis moral para pemimpinnya.
Ketika kekuasaan diperlakukan sebagai alat memperkaya diri, maka kebijakan publik perlahan kehilangan ruh pengabdian.
Dalam kajian ilmu politik modern, kerusakan demokrasi sering tidak datang melalui kudeta atau konflik terbuka. Ancaman terbesar justru muncul secara perlahan, ketika kepentingan pribadi mulai mengalahkan kepentingan publik.
Fenomena itu kerap ditandai oleh munculnya politik transaksional, penguatan oligarki, penyalahgunaan jabatan, hingga keputusan publik yang semakin jauh dari aspirasi masyarakat. Akibatnya, politik berubah wajah; dari ruang perjuangan menjadi arena perebutan pengaruh.
Para pengamat politik dunia berkali-kali mengingatkan bahwa demokrasi tidak hanya membutuhkan sistem yang baik, tetapi juga karakter manusia yang baik. Konstitusi sehebat apa pun dapat kehilangan makna jika dijalankan oleh individu yang menjadikan jabatan sebagai alat pemuas kepentingan pribadi.
Karena itu, pernyataan Rizkan Al Mubarrok dinilai menghadirkan perspektif yang lebih mendalam: bahwa akar persoalan bangsa sering kali bukan pada sistem semata, melainkan pada watak orang-orang yang mengisinya.
Dalam realitas sosial hari ini, publik semakin kritis. Masyarakat mulai mampu membedakan antara pemimpin yang datang membawa pengabdian dan mereka yang hanya hadir saat musim politik tiba.
Era digital telah mengubah peta kekuasaan. Jika dahulu citra dapat dibangun dengan slogan, kini rekam jejak menjadi penilaian utama. Rakyat tidak lagi hanya melihat pidato, tetapi juga konsistensi tindakan.
Di tengah perubahan itu, politik ke depan diprediksi akan mengalami pergeseran besar ,dari politik pencitraan menuju politik integritas.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak mencatat siapa yang paling lama berkuasa, melainkan siapa yang paling banyak memberi manfaat.
Dan di titik itulah pesan Rizkan Al Mubarrok menemukan relevansinya, politik harus kembali menjadi jalan perjuangan, bukan jalan keserakahan.
Sebab ketika politik dipenuhi oleh orang-orang yang tamak, rakyat menjadi korban. Namun ketika politik diisi oleh mereka yang tulus mengabdi, maka kesejahteraan bukan lagi sekadar janji, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan bersama.
