KH Syaikhuna Badruzzaman, Ulama Pejuang dari Garut yang Memimpin Hizbullah dan Mengembangkan Tarekat Tijaniyah

0
1788425350169

Nama KH Syaikhuna Badruzzaman menempati tempat penting dalam sejarah keulamaan dan perjuangan Islam di Garut. Sosok yang dikenal sebagai Mama Biru itu tidak hanya berkiprah melalui Pesantren Al-Falah Biru, tetapi juga menjadi tokoh penting dalam perkembangan Tarekat Tijaniyah serta terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sejumlah penelitian sejarah menempatkan Pesantren Al-Falah Biru sebagai salah satu basis pendidikan, dakwah, sekaligus pergerakan pada masa kepemimpinan Syekh Badruzzaman. Pesantren tersebut bahkan menjadi tempat pelatihan dan perekrutan anggota Laskar Hizbullah di wilayah Garut.

Dari Pesantren Al-Falah Biru hingga Tarekat Tijaniyah

KH Syaikhuna Badruzzaman dikenal sebagai ulama yang memadukan pendidikan keislaman, pengabdian kepada masyarakat, dan aktivitas perjuangan. Sepulang dari Makkah pada 1933, ia melanjutkan kepemimpinan di Pesantren Al-Falah Biru bersama keluarganya. Di pesantren tersebut dikembangkan berbagai disiplin ilmu keislaman, termasuk tafsir, hadis, fikih, usul fikih, tasawuf, serta sejumlah ilmu alat.

Dalam perjalanan keagamaannya, Badruzzaman kemudian menjadi tokoh sentral penyebaran Tarekat Tijaniyah di Garut. Sumber sejarah mengenai Tijaniyah di Garut mencatat bahwa kepemimpinannya menghasilkan jaringan murid yang luas dan ia mengangkat sejumlah muqaddam untuk membina jamaah Tijaniyah di berbagai daerah.

Penelitian terbaru dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung juga menempatkan Syaikhuna Badruzzaman sebagai tokoh sentral dalam perkembangan Tarekat Tijaniyah di Garut. Setelah wafatnya pada 1972, jaringan tersebut terus mengalami regenerasi dan berkembang hingga periode kontemporer.

Ulama yang Turun ke Medan Perjuangan

Peran Badruzzaman tidak berhenti di lingkungan pesantren. Pada masa pendudukan Jepang dan revolusi kemerdekaan, Pesantren Al-Falah Biru berkembang menjadi salah satu basis perjuangan.

Kajian mengenai Laskar Hizbullah di Priangan mencatat bahwa perekrutan dan pelatihan anggota Hizbullah berlangsung di Pesantren Al-Falah Biru di bawah asuhan Syaikhuna Badruzzaman. Sejumlah pemuda yang bergabung mendapatkan pendidikan kemiliteran, sementara para santri dan ulama juga terlibat dalam jaringan perjuangan yang lebih luas.

Pada masa pendudukan Jepang, situasi pesantren bahkan menjadi semakin sulit. Sumber akademik mengenai sejarah sufisme Nusantara mencatat bahwa aktivitas khalwat yang dilakukan sebagai bagian dari penempaan mental anggota Hizbullah membuat pihak Jepang mencurigai Al-Falah Biru sebagai pusat gerakan rakyat. Pesantren tersebut kemudian menjadi sasaran serangan dan pengawasan.

Dalam kondisi tersebut, Badruzzaman melakukan hijrah dari satu wilayah ke wilayah lain. Perpindahan itu bukan sekadar menghindari ancaman, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan jaringan dakwah dan menyusun kembali kekuatan perjuangan.

Sejumlah catatan sejarah menyebut rute perpindahannya antara lain mencakup wilayah Garut, Cikalong, Padalarang, Majenang hingga Tasikmalaya. Di tempat-tempat tersebut, aktivitas keagamaan dan jaringan Tijaniyah tetap dikembangkan.

Dari Hizbullah hingga Perjuangan Politik

Kiprah Badruzzaman juga bersentuhan dengan organisasi dan pergerakan politik umat Islam. Catatan sejarah menyebut keterlibatannya dalam Al-Muwafaqoh dan dukungannya terhadap PSII di Garut. Setelah Indonesia merdeka, jaringan perjuangan umat yang dipimpinnya juga bersentuhan dengan Masyumi, kemudian berkembang melalui wadah seperti Sarekat Islam dan PERTI.

Dalam konteks perjuangan bersenjata, sejumlah sumber mencatat bahwa para pengikut Tijaniyah di Garut bergabung dengan Laskar Hizbullah dan Sabilillah di bawah bimbingan Badruzzaman. Ia juga disebut memiliki pasukan khusus yang mendapatkan pendidikan kemiliteran sekaligus pembinaan spiritual.

Keterlibatan tersebut menunjukkan karakter perjuangan Badruzzaman yang tidak memisahkan pendidikan agama dari tanggung jawab sosial dan kebangsaan pada masa revolusi.

Kisah Karomah dan Ingatan Kolektif

Di tengah perjalanan hidupnya, nama Syaikhuna Badruzzaman juga dikelilingi berbagai kisah karomah yang diwariskan melalui tradisi lisan dan tulisan kalangan pengikutnya.

Salah satu kisah yang populer menceritakan pengalaman spiritualnya ketika berada di Tanah Suci. Ada pula riwayat mengenai peristiwa-peristiwa luar biasa yang dikaitkan dengan dirinya ketika menjalani perjuangan pada masa revolusi.

Kisah paling terkenal berkaitan dengan Pertempuran Surabaya 1945. Sejumlah sumber populer yang merujuk pada riwayat keluarga dan buku mengenai Badruzzaman menceritakan bahwa sang ulama ikut berangkat ke Surabaya bersama para pejuang dari Garut. Bahkan terdapat cerita mengenai karomah berupa kibasan sorban yang diyakini mampu merontokkan persenjataan musuh.

Namun, kisah tersebut perlu ditempatkan secara proporsional. Dalam penulisan sejarah jurnalistik, cerita karomah merupakan bagian dari tradisi lisan dan keyakinan komunitas, sehingga tidak semestinya diperlakukan sama dengan fakta sejarah yang telah diverifikasi melalui sumber primer.

Hal serupa berlaku terhadap cerita yang mengaitkan Badruzzaman dengan penembak Brigadir Jenderal Mallaby. Klaim tersebut dikenal dalam sejumlah riwayat populer, tetapi diperlukan bukti sejarah primer yang kuat untuk menjadikannya sebagai fakta yang telah terkonfirmasi.

Warisan Keilmuan yang Terus Hidup

Terlepas dari berbagai kisah karomah yang berkembang di tengah masyarakat, jejak Badruzzaman dalam bidang pendidikan, dakwah, tarekat, dan perjuangan memiliki dokumentasi sejarah yang jauh lebih jelas.

Pesantren Al-Falah Biru menjadi salah satu warisan penting yang menghubungkan pendidikan Islam dengan sejarah perjuangan masyarakat Garut. Sementara jaringan Tarekat Tijaniyah yang dibangunnya terus mengalami regenerasi setelah wafatnya. Penelitian UIN Sunan Gunung Djati bahkan menunjukkan bahwa jaringan tersebut tetap bertahan dan beradaptasi dengan perubahan sosial hingga era digital.

Syaikhuna Badruzzaman wafat pada 1972. Kepergiannya tidak menghapus jejak yang telah dibangun selama puluhan tahun. Pesantren, jaringan murid, tradisi keilmuan, dan perjuangannya tetap menjadi bagian dari memori sejarah keislaman di Garut.

Bagi masyarakat yang mengenang perjuangannya, Badruzzaman bukan hanya seorang kiai yang mengajarkan kitab di pesantren. Ia merupakan gambaran ulama yang hidup dalam zaman penuh pergolakan—ketika mempertahankan agama, menjaga masyarakat, membangun pendidikan, dan memperjuangkan kemerdekaan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Warisan terbesar seorang ulama pada akhirnya bukan semata cerita tentang kesaktian atau karomah, melainkan ilmu yang diwariskan, murid yang dibina, masyarakat yang dilayani, serta nilai perjuangan yang terus hidup melampaui zamannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *