Makalam, Putra Pedalaman Batang Asai yang Menjadi Wali Kota Pertama Jambi
JAMBI — Jauh sebelum Kota Jambi berkembang menjadi salah satu pusat pemerintahan dan ekonomi di Provinsi Jambi seperti sekarang, dari pedalaman Batang Asai, Kabupaten Sarolangun, lahir seorang tokoh yang kelak namanya tercatat dalam sejarah pemerintahan Kota Jambi.
Namanya Makalam.
Makalam diperkirakan lahir pada 1889 di Sekeladi, sebuah dusun di kawasan Batang Asai. Sejumlah sumber sejarah menyebut nama aslinya sebagai Ma’kalam, yang dikaitkan dengan penyebutan Muhammad Kalam. Sumber lainnya mencatat adanya latar keluarga yang berkaitan dengan Kerinci dan wilayah sekitar Batang Asai.
DARI DEMANG HINGGA TOKOH PEMERINTAHAN
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Makalam dikenal sebagai seorang demang. Jabatan tersebut menempatkannya sebagai pejabat pribumi dalam struktur pemerintahan kolonial di tingkat lokal.
Posisi itu membuat Makalam tidak hanya dikenal sebagai tokoh masyarakat, tetapi juga memiliki pengalaman dalam pemerintahan pada masa ketika kehidupan politik dan administrasi di wilayah Jambi mengalami berbagai perubahan.
Namun, perjalanan sejarah Makalam tidak berhenti pada masa pemerintahan kolonial.
Ketika Indonesia memasuki masa awal kemerdekaan, berbagai daerah mulai membangun struktur pemerintahan Republik. Jambi pun berada dalam fase penting pembentukan pemerintahan daerah.
Pada Oktober 1945, Makalam dipercaya menjadi Ketua Komite Nasional Daerah Jambi (KNI). Peran tersebut menunjukkan keterlibatannya dalam proses awal pembentukan pemerintahan Republik di Jambi.
DARI BATANG ASAI MENUJU BALAI KOTA JAMBI
Salah satu catatan terpenting dalam perjalanan Makalam tercatat pada 17 Mei 1946.
Berdasarkan sejarah resmi Pemerintah Kota Jambi, melalui Ketetapan Gubernur Sumatera Nomor 103 Tahun 1946, Kota Jambi ditetapkan memiliki pemerintahan sendiri dengan sebutan Kota Besar.
Dalam sejarah tersebut, Makalam tercatat sebagai wali kota pertama.
Perjalanan itu menjadi bagian penting dari sejarah Jambi. Seorang putra yang berasal dari pedalaman Batang Asai kemudian dipercaya memimpin pemerintahan Kota Jambi ketika kota tersebut memperoleh status pemerintahan sendiri.
Jejak perjalanan Makalam memperlihatkan bagaimana pengalaman seorang tokoh lokal dapat membawanya melewati perubahan besar dari era pemerintahan kolonial menuju masa awal Republik Indonesia.
WARISAN SEJARAH YANG TERUS DIKENANG
Kisah Makalam juga berlanjut melalui keluarganya. Salah seorang putranya adalah Kolonel Abundjani, tokoh perjuangan kemerdekaan dari Jambi yang kemudian dikenal dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dengan demikian, perjalanan Makalam tidak hanya menjadi catatan tentang seorang pejabat pada masa lalu. Kisahnya juga menggambarkan perjalanan seorang tokoh dari pedalaman yang mampu memainkan peran dalam perubahan politik dan pemerintahan di Jambi.
Menariknya, nama Makalam hingga kini masih melekat dalam kehidupan masyarakat Kota Jambi.
Jembatan Makalam menjadi salah satu penanda geografis yang akrab bagi masyarakat. Di balik nama tersebut tersimpan ingatan tentang seorang tokoh yang perjalanan hidupnya berawal dari Sekeladi, Batang Asai, kemudian memasuki struktur pemerintahan, terlibat dalam masa awal pemerintahan Republik, hingga tercatat sebagai wali kota pertama Kota Jambi.
Makalam menjadi bagian dari sejarah yang menghubungkan pedalaman Batang Asai dengan perkembangan Kota Jambi.
Dari Sekeladi di pedalaman Batang Asai, namanya menembus zaman dan menjadi bagian dari perjalanan panjang sejarah Jambi.
Sumber:
- Pemerintah Kota Jambi, Sejarah Kota Jambi.
- Melayu Jambi: Suatu Kajian Sejarah Etnis, terbitan Kementerian Pendidikan/Kebudayaan.
- Ali Muzakir, “Di Tengah Revolusi Kemerdekaan: Restorasi Kesultanan Jambi dan Persatuan Negara Republik”, Nazharat.
- Museum Perjuangan Rakyat Jambi.
