Karhutla Gunung Semeru Meluas, 592 Hektare TNBTS Terbakar dan Habitat Satwa Liar Terancam
Api masih berkobar di lereng Gunung Semeru, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas tidak hanya menghanguskan vegetasi dan kawasan konservasi, tetapi juga mengancam habitat berbagai satwa liar yang hidup di dalamnya.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, luas kawasan TNBTS yang terdampak kebakaran telah mencapai 592 hektare hingga 31 Agustus 2026. Luasan tersebut meningkat tajam dibandingkan beberapa hari sebelumnya, yakni 160 hektare pada 29 Agustus dan 290 hektare pada 30 Agustus.
Karhutla di lereng Gunung Semeru mulai terjadi sejak Rabu (26/8/2026). Titik api pertama dilaporkan muncul di Blok Ranu Kembang sebelum kemudian menjalar ke sejumlah kawasan lainnya.
Tujuh Titik Api Terdeteksi, Medan Menjadi Kendala Utama
Hingga Sabtu (29/8), petugas gabungan mendeteksi sedikitnya tujuh titik api di kawasan Gunung Semeru. Titik tersebut tersebar di Ledok Bedor, Blok Jantur, Blok Ranukembang, Ayak-Ayak, Watu Rejeng, Ranu Kumbolo, hingga Puncak Trisula.
Pada Senin (31/8), Kepala BPBD Kabupaten Lumajang Isnugroho menyebut titik api berada di jalur pendakian Gunung Semeru, mulai dari Pos 1 hingga Pos 4.
Balai Besar TNBTS juga mencatat sejumlah titik api di lereng Semeru, antara lain di Blok Cemoro Kandang, sekitar Pos 1 pendakian, serta Gunung Kukusan.
Salah satu kawasan yang sempat terdampak adalah Danau Ranu Kumbolo dan Tanjakan Cinta. Namun, berdasarkan pemantauan petugas, kedua lokasi tersebut telah terpantau padam, sementara penanganan masih dilakukan di sejumlah titik lainnya.
Kondisi medan yang berbukit serta lokasi kebakaran yang sulit dijangkau menjadi salah satu kendala utama. Keterbatasan peralatan membuat pemadaman dari jalur darat membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.
Water Bombing Dikerahkan untuk Menjangkau Titik Sulit
Penanganan karhutla dilakukan dengan mengombinasikan pemadaman dari udara dan darat. Dua helikopter bantuan BPBD Jawa Timur dikerahkan untuk melakukan operasi water bombing guna menjangkau kawasan yang sulit diakses petugas.
Helikopter PK-DAP milik BPBD Jawa Timur diarahkan ke kawasan Blok Ayak-Ayak dan Bangunan Cilik, Desa Ranupani, Kecamatan Senduro.
Kepala Seksi PTN Wilayah III TNBTS Agus Kusuma Negara menyebut terdapat dua lanskap yang mengalami kebakaran secara masif, yakni kawasan Ayak-Ayak dan Bangunan Cilik.
Selain water bombing, petugas TNBTS bersama BPBD Lumajang, masyarakat dan unsur gabungan juga melakukan pemadaman secara manual. Petugas membuat sekat bakar dan membawa peralatan pemadaman langsung menuju lokasi yang dapat dijangkau.
Operasi water bombing sempat dihentikan pada Jumat (28/8) siang akibat kondisi angin yang cukup kencang. Helikopter kemudian kembali ke Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh untuk bersiaga.
Habitat Satwa Liar Ikut Terancam
Di balik kepulan asap dan luas kawasan yang terbakar, terdapat ekosistem yang ikut menghadapi ancaman serius.
Kebakaran telah menghanguskan sejumlah vegetasi di kawasan Ayak-Ayak dan Pangonan Cilik. Salah satunya rumput malelo yang menjadi bagian penting dari ekosistem serta habitat berbagai fauna.
Kawasan tersebut merupakan ruang hidup berbagai satwa, termasuk macan kumbang, rusa dan burung puyuh. Selain itu, kebakaran juga berdampak terhadap vegetasi cemara gunung dan akasia di kawasan Semeru.
Hilangnya vegetasi berarti berkurangnya sumber pakan, tempat berlindung dan ruang jelajah satwa. Satwa yang berhasil menyelamatkan diri dari kobaran api juga berpotensi terdorong keluar dari habitat alaminya dan masuk ke wilayah yang berdekatan dengan permukiman manusia.
Dampaknya menjadi semakin serius ketika kebakaran terjadi pada kawasan yang menjadi tempat berkembang biak satwa. Anak burung dan telur yang berada di sarang berisiko tidak mampu menyelamatkan diri ketika api bergerak dengan cepat.
Karena itu, karhutla di kawasan konservasi bukan sekadar persoalan berapa luas lahan yang terbakar. Setiap kawasan yang hangus berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem dalam jangka panjang.
Jalur Pendakian Semeru Ditutup Total
Sebagai langkah pencegahan terhadap risiko keselamatan sekaligus mendukung proses penanganan kebakaran, Balai Besar TNBTS telah melakukan penutupan total aktivitas wisata pendakian Gunung Semeru.
Masyarakat dan wisatawan diimbau tidak memasuki kawasan terdampak serta mengikuti perkembangan dan informasi resmi dari pengelola TNBTS.
Sementara itu, helikopter water bombing yang sebelumnya digunakan untuk mendukung penanganan kebakaran di kawasan Semeru telah dialihkan untuk membantu penanganan karhutla di wilayah Kalimantan.
Dengan kondisi tersebut, pengendalian kebakaran di Semeru semakin mengandalkan pemantauan dari darat, pemadaman manual serta keterlibatan masyarakat.
Karhutla di kawasan TNBTS menjadi pengingat bahwa kawasan konservasi memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar luasan hutan. Di dalamnya terdapat vegetasi, satwa liar dan ekosistem yang membutuhkan waktu sangat panjang untuk terbentuk.
Api dapat dipadamkan dalam hitungan jam atau hari. Namun, pemulihan hutan dan habitat yang rusak membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan bisa lebih lama.
Hingga kini, petugas gabungan dari TNBTS, BPBD Lumajang, TNI-Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan dan masyarakat terus berupaya mengendalikan kobaran.
Dengan luas kawasan terdampak yang telah mencapai 592 hektare dan kondisi medan yang sulit, upaya menyelamatkan kawasan konservasi Gunung Semeru dari kepungan api masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.
