Prabowo Dapat Kartunu, Publik Teringat Erick Thohir yang Pernah Jadi “Muallaf NU”

0
1788201175968

Presiden Prabowo Subianto baru saja mendapatkan Kartunu alias Kartu NU. Bagi warga Nahdliyin, momen tersebut tentu menjadi kabar yang menggembirakan. Presiden wong NU, cak!

Namun, di negeri yang politiknya penuh tafsir, satu kartu bisa melahirkan seribu pembacaan dan dua ribu spekulasi.

Kartunu pada dasarnya merupakan kartu keanggotaan. Tetapi dalam dunia politik, sebuah kartu terkadang memiliki makna tambahan: identitas, kedekatan, sinyal politik, bahkan oleh sebagian publik bisa dipersepsikan sebagai akses menuju ruang VIP kekuasaan.

Tentu saja, jangan buru-buru menarik kesimpulan.

“Wah, tandanya 2029 semakin dekat, tu!”

Ups.

Ketika Prabowo Masuk NU, Publik Mengingat Erick Thohir

Di tengah perhatian terhadap langkah Prabowo menjadi bagian dari keluarga besar NU, nama Erick Thohir kembali muncul dalam ingatan sebagian publik.

Erick sebelumnya dikenal cukup dekat dengan lingkungan Nahdlatul Ulama. Ketika menjabat Menteri BUMN pada era pemerintahan Joko Widodo, ia mengikuti sejumlah aktivitas dan kaderisasi di lingkungan NU.

Ia pernah mengikuti kaderisasi Banser, dipercaya menjadi Ketua Lakpesdam NU, serta terlibat sebagai Ketua Panitia Nasional Peringatan Satu Abad Nahdlatul Ulama.

Kalau memakai bahasa warung kopi, ini bukan lagi sekadar “kenalan dengan NU”.

Sudah seperti calon menantu.

Datang ke rumah, kenalan dengan keluarga besar, ikut kerja bakti, bahkan sudah tahu letak dapur.

Kedekatan tersebut kemudian ikut dibaca dalam konteks politik. Nama Erick Thohir sempat masuk dalam bursa kandidat calon wakil presiden pada Pilpres 2024.

Dari sinilah berbagai spekulasi bermunculan. Sebagian pihak menilai kedekatan Erick dengan NU tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik saat itu.

Namun, perlu ditegaskan, pembacaan mengenai motif politik tersebut merupakan tafsir dan spekulasi publik, bukan fakta yang dapat dijadikan kesimpulan mengenai niat pribadi Erick Thohir.

Pada akhirnya, pasangan calon presiden dan wakil presiden yang memenangkan Pilpres 2024 adalah Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Erick pun tidak menjadi cawapres.

Politik memang sering punya plot twist yang lebih rumit daripada sinetron.

Jangan Jadikan NU Sekadar Kendaraan Politik

Dari sinilah muncul pertanyaan yang lebih besar: bagaimana seharusnya hubungan elite politik dengan organisasi kemasyarakatan sebesar NU?

NU bukan sekadar jaringan yang dicari ketika membutuhkan dukungan. NU memiliki sejarah panjang, struktur sosial yang luas, serta jutaan warga yang kehidupannya tidak selalu bersentuhan dengan panggung kekuasaan.

Karena itu, kedekatan dengan NU idealnya tidak berhenti pada momentum politik.

Jangan ketika membutuhkan suara, doa, massa, jaringan, dan legitimasi, NU dipanggil sebagai keluarga.

Begitu kendaraan kekuasaan sudah melaju, mereka yang berada di belakang justru dilupakan.

Tentu ini bukan tuduhan kepada siapa pun.

Ini sekadar alarm moral.

Bayangkan sebuah mobil mogok di tengah jalan.

“Dorong, wak!”

Semua turun.

Ada yang mendorong dari belakang. Ada yang mengatur kemudi. Ada yang membuka kap mesin. Keringat bercucuran, sandal hampir putus, pinggang mulai encok, lutut berbunyi krek-krek.

Setelah mesin menyala, mobil kembali berjalan.

Jangan sampai orang yang sejak awal ikut mendorong justru ditinggalkan di pinggir jalan.

Begitulah kira-kira pesan yang perlu direnungkan dalam setiap hubungan antara kekuasaan dan kelompok masyarakat.

NU bukan bengkel politik.

Bukan pom bensin kekuasaan.

Dan bukan pula sekadar tukang dorong kendaraan para elite.

NU adalah bagian dari sejarah bangsa dan tempat bernaung jutaan warga yang kehidupannya jauh dari baliho, kabinet, gedung pemerintahan, serta karpet merah kekuasaan.

Siapa pun yang hendak menggunakan kendaraan politik, silakan.

Tetapi jangan lupa siapa yang ikut mendorong ketika mesinnya belum menyala.

Sebab rakyat punya ingatan.

Kalau rakyat sudah berhenti mendorong, kendaraan secanggih apa pun bisa kembali mogok.

Apalagi kalau bannya empat, tetapi penumpangnya kebanyakan.

“Bang, Muktamar selesai. Seruput Koptagul kita.”

“Siap. Koptagulan di Aming aja, wak!”

Ups.

Rosadi Jamani
#CamanAwak
#JurnalismeYangMenyapa
#JYM

Catatan foto: Foto AI hanya digunakan sebagai ilustrasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *