Susi Pudjiastuti Soroti Karhutla Kalimantan: Jangan Jadikan El Niño sebagai Kambing Hitam!
Sorotan Publik — Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kembali menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Ia mempertanyakan narasi yang terlalu menitikberatkan fenomena El Niño sebagai penyebab utama kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia.
Sorotan tersebut disampaikan Susi saat merespons pemberitaan BBC Indonesia melalui akun X miliknya. Ia menilai persoalan karhutla perlu dilihat secara lebih luas, termasuk dari sisi aktivitas manusia dan perubahan kondisi lingkungan.
Susi Soroti Faktor Manusia
Menurut Susi, kawasan tropis seperti Kalimantan, Sumatra, dan Papua memiliki tingkat kelembapan yang relatif tinggi. Karena itu, ia mempertanyakan anggapan bahwa kebakaran di dataran rendah dapat terjadi semata-mata karena faktor alam atau perubahan iklim.
Susi justru menyoroti aktivitas manusia dalam pembukaan dan pengelolaan lahan. Eksploitasi lingkungan yang tidak bertanggung jawab, menurut pandangan tersebut, perlu menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai penyebab karhutla.
Pernyataan ini kembali memunculkan perhatian terhadap praktik pembukaan lahan serta pengawasan kawasan hutan yang dinilai memiliki peran penting dalam mencegah munculnya titik api.
El Niño Memperparah Risiko Kebakaran
Di sisi lain, El Niño memang dapat menyebabkan kondisi yang lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko kebakaran serta membuat api lebih mudah menyebar dan sulit dikendalikan.
Namun, faktor cuaca tidak selalu berarti kebakaran terjadi secara alami. Di banyak wilayah yang telah mengalami perubahan penggunaan lahan, aktivitas manusia dapat menjadi salah satu pemicu munculnya kebakaran.
Karena itu, hubungan antara El Niño dan karhutla perlu dipahami secara proporsional. Kondisi iklim dapat meningkatkan kerentanan suatu wilayah, sementara sumber api dan aktivitas manusia juga perlu ditelusuri berdasarkan fakta di lapangan.
Pengawasan dan Penegakan Hukum Diperkuat
Sorotan terhadap karhutla juga menempatkan pengawasan pembukaan lahan dan perlindungan kawasan hutan sebagai persoalan penting.
Pencegahan tidak cukup hanya dilakukan ketika titik api sudah muncul. Pengawasan terhadap aktivitas di kawasan rawan kebakaran, pemantauan titik panas, pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, serta penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran secara ilegal menjadi bagian dari upaya pencegahan.
Masyarakat juga memiliki peran dalam melaporkan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran kepada pihak berwenang.
Karhutla Bukan Sekadar Persoalan Cuaca
Pandangan Susi kembali membuka perdebatan mengenai bagaimana Indonesia melihat persoalan karhutla. El Niño dapat menjadi faktor yang memperburuk kondisi kekeringan, tetapi penyebab setiap kebakaran tetap perlu diperiksa berdasarkan lokasi, kondisi lahan, sumber api, dan aktivitas manusia.
Dengan demikian, menjadikan El Niño sebagai satu-satunya penjelasan berisiko mengabaikan faktor lain yang tidak kalah penting.
Di tengah ancaman asap dan memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah, penanganan karhutla membutuhkan pendekatan menyeluruh: pencegahan, pengawasan, perlindungan hutan, pengelolaan lahan yang bertanggung jawab, pemadaman cepat, serta penegakan hukum.
Foto: Ilustrasi
