Peneliti BRIN Angkat Bicara soal Sorotan Warganet: “Jangan Nilai Riset dari Produk yang Dipamerkan”
Sorotan Publik — Sorotan warganet terhadap sejumlah hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuat peneliti Mochammad Wahyu Ghani angkat bicara. Ia mengaku merasa sakit hati ketika koleganya menjadi bahan olok-olok karena anggapan bahwa peneliti BRIN hanya menghasilkan produk sederhana seperti keripik, genteng dan sepatu murah, sekaligus dianggap menghabiskan anggaran negara.
Ghani menilai pandangan tersebut tidak menggambarkan keseluruhan aktivitas riset yang dilakukan lembaga tersebut.
Menurutnya, perhatian publik terlalu terfokus pada beberapa produk sederhana yang terlihat dalam pameran, sementara kegiatan penelitian BRIN mencakup berbagai bidang strategis.
Ada 12 Klaster Riset yang Dikembangkan
Ghani menjelaskan bahwa BRIN memiliki 12 klaster riset dengan cakupan yang jauh lebih luas.
Bidang yang dikembangkan antara lain pangan, energi, antariksa, penerbangan, nuklir, logam tanah jarang, perumahan, transportasi hingga kesehatan.
Karena itu, menurutnya, penilaian terhadap kemampuan peneliti tidak seharusnya hanya didasarkan pada produk yang paling mudah dilihat atau menjadi perhatian di ruang publik.
Ia juga menekankan bahwa sebuah produk yang tampak sederhana belum tentu memiliki proses penelitian yang sederhana pula.
Genteng Biomassa hingga Sepatu SMART RUBBER
Salah satu produk yang menjadi sorotan adalah genteng biomassa yang dibuat menggunakan serabut kelapa dan sekam padi.
Ghani menjelaskan bahwa inovasi tersebut dikembangkan sebagai salah satu alternatif material bangunan yang terjangkau sekaligus lebih ramah lingkungan.
Produk lain yang turut menjadi perhatian adalah sepatu SMART RUBBER. Menurut Ghani, inovasi tersebut berkaitan dengan pengembangan dan pemanfaatan material karet.
Dengan demikian, produk-produk tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk menghasilkan barang konsumsi, tetapi juga menjadi bagian dari proses penelitian dan pengembangan teknologi.
BRIN Juga Mengembangkan Teknologi Strategis
Di luar produk yang ramai diperbincangkan warganet, Ghani menyebut terdapat berbagai penelitian lain yang menurutnya memiliki orientasi jangka panjang.
Beberapa di antaranya adalah pengembangan semikonduktor, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta rekayasa genetik.
Bidang-bidang tersebut dinilai strategis karena berkaitan dengan kemampuan Indonesia menghadapi perkembangan teknologi global dan membangun kemandirian teknologi.
Ghani menyebut riset pada sektor tersebut diarahkan untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam jangka panjang, bahkan hingga 20–30 tahun mendatang.
Riset Tidak Selalu Berwujud Produk yang Viral
Perdebatan mengenai hasil riset BRIN juga menunjukkan adanya perbedaan cara pandang antara dunia penelitian dan persepsi masyarakat.
Produk yang sederhana dan mudah dilihat memang lebih cepat menarik perhatian publik. Namun, penelitian membutuhkan proses panjang, mulai dari perumusan masalah, eksperimen, pengujian, pengembangan prototipe hingga kemungkinan penerapan di masyarakat.
Karena itu, sebuah inovasi tidak semestinya dinilai hanya dari bentuk akhir produknya.
Pernyataan Ghani sekaligus menjadi pengingat bahwa riset nasional memiliki spektrum yang luas. Di balik produk yang terlihat sederhana, terdapat proses pengembangan teknologi, pengujian material dan pencarian solusi terhadap berbagai kebutuhan masyarakat.
Pada akhirnya, tantangan BRIN bukan hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga menjelaskan kepada publik bagaimana proses penelitian tersebut dilakukan, apa manfaatnya dan sejauh mana hasilnya dapat diterapkan.
Dengan komunikasi yang lebih terbuka, masyarakat diharapkan dapat melihat riset nasional secara lebih utuh, termasuk kontribusinya terhadap kebutuhan Indonesia hari ini dan pembangunan teknologi untuk masa depan.
